Kamis, 25 Februari 2016

Ajari Putrimu Berhijab karena Allah

Masih terngiang sepotong dialog antara saya dan almarhumah ibu saya, ketika saya memutuskan untuk mengenakan sepotong kain kerudung di bangku kelas tiga SMA. Ibu saya bertanya, 
"Apa kamu serius? Kalau sudah pakai jilbab, kamu tidak boleh melepasnya lagi. Kamu harus memakainya terus lho...." 
Saya menjawab dengan mantap, "Serius!" 
"Baiklah. Kalau kamu memang serius, nanti Mama buatkan seragam yang panjang, juga jilbab. Ingat ya, kamu tidak boleh melepasnya lagi. Tidak  boleh bongkar pasang."


Kalimat penegasan itu keluar dari mulut ibu saya, yang saat itu belum berjilbab. Ibu saya adalah anak seorang Kiai tersohor di kampungnya. Mbah Kakung adalah seorang Kiai sekaligus guru mengaji, bahkan pernah mengajari mengaji keluarga pejabat tinggi. Mbak Kakung setiap hari berpenampilan layaknya Kiai, dengan kopiah dan sarung. Salat tepat waktu berjamaah di Langgar (musala kecil). Mengajari anak-anak mengaji kitab kuning. Mengajari orang-orang dewasa menyelami kitab Allah. Akan tetapi, anak-anak perempuan Mbah Kung TIDAK MENGENAKAN HIJAB. 

Perubahan itu terjadi belasan tahun kemudian, ketika cucu-cucu Mbah Kung beranjak dewasa. Salah satunya, saya. Saya memakai hijab bukan karena disuruh oleh ibu, apalagi Mbah Kung. Saya memakai hijab dengan kesadaran sendiri. Saya mendapatkan petunjuk dari Allah. Sejak kecil, saya sudah membaca buku-buku. Saat sedang memilih komik di toko buku, saya malah tersasar di rak buku-buku agama dan menemukan buku kecil yang berisi panduan untuk muslimah. Saya rasa, Allah telah menggerakkan tangan saya untuk mengambil buku itu dan membawanya pulang. Entah mengapa, saya menikmati membaca tulisan-tulisan di dalam buku itu. Padahal, saya seorang penggemar komik, tapi mengapa saya malah membaca buku agama? Saya suka membaca komik-komik Jepang, seharusnya saya eneg (mual) membaca buku agama. 

Tubuh saya bergetar, jantung saya berdebar. Hanya deretan kata-kata dari penulis buku itu telah membuat kesadaran saya bangkit. Penulisnya menerangkan kewajiban berhijab bagi setiap muslimah, disertai dalil ayat dan hadisnya. Saat itu, di sekolah saya hanya ada satu dua siswi yang berhijab. Itupun karena mereka lulusan Madrasah Tsanawiyah. Pokoknya, setelah membaca buku itu, keinginan saya begitu kuat untuk berhijab. Hingga tibalah hari itu, SAYA INGIN BERHIJAB.

Ibu saya tidak berhijab.
Tante saya tidak berhijab,
Bahkan, Mbah Putri yang telah meninggal pun tidak berhijab.
Mbah Kakung yang seorang Kiai tidak pernah menyuruhku berhijab.
Tapi, mengapa saya berhijab? 
Saya yakin, Allah yang telah menunjukkan jalan kepada saya. Saya pun berhijab, meskipun teman-teman di sekolahku ngeri melihat saya. Ada yang mengatai saya "culun" karena pakai hijab. Ada yang mengejek saya "ninja." Semua ejekan itu masih saya ingat jelas.

Beberapa tahun kemudian, saya melihat telah banyak muslimah yang mengenakan hijab. Meskipun masih ada yang suka menyinyir menganggap hijab sebagai ARABISASI, alhamdulillah Allah masih menguatkan keteguhan saya mengenakan kain penutup kepala ini. Jujur, selama berhijab itu, kadang-kadang saya ingin melepasnya. Kadang-kadang saya ingin menunjukkan rambut yang baru dicreambath, kadang-kadang saya ingin memakai kalung dan anting untuk bisa dilihat orang (tentunya saya harus lepas hijab), kadang-kadang saya ingin memakai pakaian yang tidak menutup aurat (lengan pendek), dan sebagainya. Tak heran jika teman saya yang lebih dulu berhijab mendoakan supaya istiqomah, ketika saya pertama kali mengenakan hijab.

ISTIQOMAH. Konsisten. Berkelanjutan. Dalam hal hijab, artinya bisa terus berhijab sampai kapan pun. Tidak akan melepas hijab di hadapan non mahram.  Sebab, memakai hijab itu ternyata bukan sekadar memakai penutup kepala. Memakai hijab adalah ujian keimanan. Buktinya, banyak orang yang tadinya berhijab, dari orang biasa sampai pesohor, tiba-tiba melepas hijabnya karena berbagai alasan. Hijab itu bukan pakaian biasa. Bukan pakaian yang besok kita pakai, kemudian kita lepas lagi. Hijab adalah pakaian takwa. Wajib dipakai setiap muslimah di hadapan non mahram. Pakaian yang menjadi sarana ibadah kepada Allah. 

Dahulu sekali, ada seorang pesohor yang sempat  saya kagumi karena berhijab di saat tidak banyak artis yang berhijab. Apalagi dia bergelut di bidang musik. Dia juga sudah pernah diwawancarai beberapa majalah Islam. Sayang, tak lama setelah terkenal dengan hijabnya, dia malah lepas hijab. Sampai sekarang Allah belum memberinya hidayah lagi. Ketika diwawancarai mengapa melepas hijabnya, ternyata dia kecewa dengan ayahnya. Ayahnyalah yang menyuruhnya memakai hijab, tapi kemudian ayahnya berpoligami. Dia kecewa karena ayahnya telah mengkhianati ibunya. Untuk membalas ayahnya, dia melepas hijab. 

Ada lagi kisah seorang pesohor yang melepas hijab karena merasa hijab bukanlah dirinya. Hijab tidak merepresentasikan dirinya. Ibunyalah yang menyuruhnya berhijab. Lalu, dia kecewa dengan perceraian ibunya. Setelah belasan tahun berhijab, dia melepasnya dengan alasan HIJAB BUKANLAH IDENTITASNYA. Banyak orang yang kecewa, karena kehadirannya di depan publik telah sangat membanggakan muslimah. Ini lho ada muslimah berhijab yang berprestasi luar biasa. Sayang, kebanggaan itu tidak berlangsung lama. Allah mencabut hidayah dari dirinya. 

Lalu, ada pula seorang artis yang sudah sangat terkenal, sebut saja inisialnya M, juga melepas hijab beberapa saat setelah bercerai dari suaminya. Orangtua M juga dulunya bercerai. Saya pernah menulis di blog mengenai hijab artis M ini, yang menyatakan bahwa saya bangga karena dia telah berhijab. Apa yang terjadi? Kebanggaan itu hanya sesaat. 

Ada juga seorang penulis buku islami yang melepas hijabnya, justru setelah bercerai dari suaminya. Bertahun-tahun dia mengenakan hijab, bahkan sudah berdakwah ke mana-mana, tapi mengapa kemudian dia melepas hijab dan mengenakan pakaian seksi? Dan ironisnya, orangtuanya juga bercerai. Saya tak ingin berspekulasi mengenai mengapa dia melepas hijabnya, tetapi ada yang perlu diambil pelajaran dari setiap kejadian di atas.

Banyak ibu yang berbondong-bondong memakaikan hijab kepada putrinya sejak mereka masih bayi, tetapi apakah ibu-ibu sudah membekali pengetahuan UNTUK APA dan MENGAPA putrinya harus berhijab? Sudahkah ibu-ibu mendekatkan putrinya kepada Allah? Sudahkah ibu-ibu mengajak putrinya mencintai Allah? Yang lucu, saya pernah menemukan kejadian di angkot. Seorang ibu yang tidak berhijab, memaksa putrinya mengenakan hijab. Memang lucu sih anak kecil dikasih hijab. Putrinya yang berumur lima  tahun itu menolak. Si ibu memaksa terus. Putrinya terus menolak, sampai akhirnya putrinya berkata, "Ibu juga nggak pakai jilbab.. kok aku harus pakai?" 

Nyesss.... saya yang mendengar percakapan itu ikut bergetar hati saya. Jangan dikira anak-anak yang masih kecil itu tak mengerti. Ibunya tidak berhijab, mengapa si kecil harus berhijab? Dari keempat kasus di atas, mengapa mereka datang dari keluarga broken home? Tentu saya tidak ingin menyamakan bahwa semua keluarga broken home itu bermasalah, tetapi perlu juga dipertimbangkan adanya keguncangan psikologis pada anak-anak yang orangtuanya bercerai. Itu yang harus diperhatikan oleh orangtua yang memilih bercerai atau bapak yang hendak berpoligami. Pikirkan anak-anakmu. Sudahkah mereka beribadah karena Allah dan bukan karena orangtuanya? 

Apakah anak-anak berhijab karena menaati orangtua atau karena Allah? Jika anak-anak berhijab karena perintah orangtua, maka tunggu saja ketika orangtua terkena masalah. Anak-anak merasa kecewa dan melepaskan segala hal yang mengingatkan mereka kepada orangtuanya. Salah satunya, hijab. Bergantung kepada manusia atau melakukan sesuatu karena manusia, hanya akan membuatmu kecewa. Sama halnya bila berhijab karena diperintah suami. Ketika suami melakukan kesalahan besar, kita pun melepas hijab. Intinya, ketika beribadah, niatkan semua karena Allah. Begitu pula ketika mengajari anak untuk menaati perintah Allah. Tanamkan kecintaan di dalam diri anak-anak kepada Allah. 

Rasa cinta itu sulit diterjemahkan dengan kata-kata. Bila seseorang sudah mencintai sesuatu, apa pun yang terjadi, dia akan tetap cinta. Bukan begitu? Misalnya, jika kita sudah mencintai Allah. Saat diberikan ujian seberat apa pun, kita akan bertahan karena kita cinta. Bagaimana bisa mencintai Allah? Itu datang dari perenungan yang dalam. Kontemplasi. Menghitung-hitung pemberian-Nya. Menadabburi firman-Nya. Bergaul dengan orang-orang saleh yang juga mencintai Allah. Tanamkan selalu di dalam hati bahwa saya berhijab karena Allah. Bukan karena manusia. Insya Allah dengan sendirinya akan timbul rasa malu. Bila kita akan melepas hijab, kita malu karena Allah memperhatikan. 

Bagaimana mengajari anak-anak mencintai Allah? Orangtuanya juga harus mencintai Allah. Orangtua juga harus selalu melibatkan Allah dalam pengasuhan. Doakan anak-anak agar selalu berada di jalan yang lurus. Ada atau tidak adanya orangtua, anak-anak tetap mendapatkan petunjuk dari Allah. Anak-anak saya memang masih kecil, jadi belum bisa dijadikan contoh. Saya tidak tahu bagaimana anak-anak saya nanti ke depannya. Saya hanya mendoakan dan mengarahkannya. Akan tetapi, saya belajar dari orangtua saya dulu. Ibu saya tidak berhijab, tetapi ibu saya tak pernah lepas mendoakan saya beserta anak-anak yang  lain. Satu demi satu, putri-putri ibu saya pun berhijab. Saat itulah ibu saya merasa malu. Kalau sedang berjalan-jalan, masa anak-anaknya pakai hijab, ibunya tidak? 

Di usia 40 tahun-an, ibu saya mengenakan hijab justru setelah semua anaknya berhijab.  Ya, doa. Itulah kekuatan seorang ibu. Ibu saya selalu khusyuk berdoa untuk kebaikan putri-putrinya sehingga alhamdulillah kami masih menaati perintah Allah sampai hari ini. Semoga kami bisa istiqomah selalu agar ibu kami tetap tersenyum di dalam kuburnya. Aamiin...

Postingan ini diikutsertakan dalam giveaway #DareToShare - http://www.unidzalika.com/2015/12/haruskah-saya-membuka-hijab.html

http://www.unidzalika.com/2015/12/daretoshare-kenapa-sih-kamu-memutuskan.html?m=1






Sabtu, 20 Februari 2016

Tips Menghadapi Orang dengan Gangguan Jiwa Exhibisionis

Assalamu'alaikum. Coba perhatikan foto di samping itu baik-baik. Ada yang menarikkah? Itu adalah foto saat saya sedang membeli Hotdog di Pasar Ikan Santolo Garut. Saat memasuki pasar, kami langsung bertemu sesosok wanita yang sedang jongkok dengan pakaian lusuh (kaus kecokelatan). Sidiq, anak saya yang nomor dua, nyeletuk, "Mah, kok itu nggak pakai celana?" HAH! Siapa yang nggak pakai celana? Waduuuh... anak saya melihat pornoaksi nih! Segera saya tarik anak-anak agar menjauhi wanita itu, yang rupanya sudah memperhatikan kami. BAYANGKAN! Wanita itu mengikuti kami! Maunya saya sih segera menjauh, tapi anak-anak minta dibelikan Hotdog. Saat penjualnya membuatkan pesanan, wanita itu ikut mengantri bersama kami! 


Takut? Yap. Itu reaksi wajar, sebenarnya. Siapa yang nggak takut berhadapan dengan orang dengan gangguan jiwa? ODGJ atau Orang dengan Gangguan Jiwa adalah orang yang kehilangan kesadarannya sehingga bisa melakukan hal-hal di luar akan sehat. Contohnya, ya nggak pakai celana itu. Untung kausnya panjang. Coba kalau dia  benar-benar telanjang. Bisa tambah heboh deh anak-anak saya. Anak-anak sudah mengerti batasan aurat wanita dan laki-laki. Kalau mereka melihat wanita berpakaian seksi, mereka akan berkomentar. Nah, jadi hati-hati deh berpakaian seksi di hadapan anak-anak. Kasihan kan, di usia muda, otak mereka sudah terkotori oleh pikiran mesum. Kecuali ODGJ ya... mereka tidak punya kesadaran, jadi susah dikasihtahu kalau harus pakai baju lengkap. 

ODGJ itu terus memperhatikan kami yang sedang membeli Hotdog, sambil menjilati lidahnya. Mungkin dia lapar. Si penjual Hotdog memberikan sepotong roti, kemudian ODGJ itu pun pergi. Ah, kasihan.. pasti ada sesuatu yang membuat jiwanya terguncang hingga kehilangan kesadaran. Itu pengalaman terbaru saat berhadapan dengan ODGJ. Selama ini, alhamdulillah saya belum pernah mengalami hal-hal mengerikan saat berjumpa dengan ODGJ yang demikian. Ada teman yang dikejar ODGJ sampai menjerit-jerit. Kalau saya pilih menjauh. Mereka nggak akan mengganggu kalau kita sudah menjauh. Justru yang mengerikan itu adalah orang yang memiliki gangguan jiwa tapi tidak menyadarinya. Contohnya, EXHIBISIONIS. 

Saya pernah dua kali bertemu dengan pria exhibisionis.  Yang pertama, saya sedang duduk di angkot sendirian. Di depan ada supir, tapi penumpangnya baru saya saja. Tiba-tiba naik seorang laki-laki dan duduk di hadapan saya. Eh, dia membuka ritsleting celananya, daaaan.... dia memamerkan alat vitalnya dong. Kaget? Untungnya waktu itu saya tergolong lemot, alias telat mikir. Saya malah ngeliatin orang itu, lalu bingung nih orang ngapain sih? Mungkin orang itu kesal karena saya nggak menjerit-jerit ketakutan. Dia pun turun lagi dari angkot. Setelah itu, baru saya bergidik. Ealah.. tadi kan dia itu.... idiih.... Geli.... Mending cakep #eh. 

Yang kedua, saat saya sedang berjalan berdua dengan teman di sisi kampus (ini kejadiannya masih kuliah). Dari arah depan, ada laki-laki berjalan ke arah kami. Teman saya yang mula-mula melihat. Dia menjerit, "Aaah... itu orang buka retsleting celananyaa!" Dia pun menarik saya agar keluar dari jalan tersebut dan mengambil jalan lain. Yah, kami memang belum sempat melihat "barangnya," untung sudah diantisipasi sejak dini hehe.... 

Nah, pengalaman teman saya yang paling mengerikan. Pulang dari kantor, dia naik angkot dan duduk di pojok. Kemudian ada laki-laki yang naik dan langsung duduk di pojok. Angkot pun segera penuh karena jam pulang kantor. Di tengah perjalanan, laki-laki itu membuka celananya dan memainkan alat vitalnya DI DEPAN TEMAN SAYA! Teman saya menjerit ketakutan, dan tahu apa yang terjadi? Pria itu semakin kesenangan dan orgasme! Ih, jijiiiiik..... Teman saya sampai muntah melihat cairan sperma di depannya. Dia semakin menjerit dan menangis. Soalnya pas orgasme itu, penumpang sudah mulai sepi. Supir angkot pun mengusir pria itu, tapi tetap saja trauma yang dirasakan teman saya itu nggak bisa hilang. Sampai besoknya, teman saya masih nangis-nangis. 

Orang exhibisionis mungkin nggak sadar kalau dirinya terkena gangguan jiwa. Setelah saya baca-baca informasi, ternyata orang exhibisionis itu malah senang kalau korbannya menjerit-jerit ketakutan. Dia akan orgasme. Jadi, kalau ketemu orang seperti itu, mendingan bersikap seperti saya. Diam dan pura-pura nggak melihat. Dijamin tuh exhibisionis itu langsung balik, karena gagal membuat kita menjerit-jerit. Apa yang saya sebutkan ini sesuai dengan informasi yang saya baca di www.klikdokter.com yah.

Jadi, kalau bertemu dengan exhibisionis, ini yang perlu kita lakukan:
  • Tetap tenang, jangan berteriak, apalagi menjerit-jerit karena hal itulah yang diinginkan pelaku demi mendapatkan kepuasan seksualnya. 
  • Tunjukkan wajah datar, tidak terkesan, dan masa bodoh. Kalau perlu, tertawakan saja kelakuannya itu. Atau picingkan mata dengan sorot mata, "punya lu kecil yee...." Itu akan membuatnya jera. 

Bagi orang yang memiliki kecenderungan exhibisionis, lebih baik berkonsultasi pada psikiater atau dokter jiwa. 


Kamis, 18 Februari 2016

Bandung Love Story: Bandung Lautan Cinta

Sarapan dengan si Cinta di Hotel deJava, Bandung
Assalamu'alaikum. Bandung, siapa yang tak kenal kota itu? Apalagi sekarang bapak walikotanya ngehits banget yah.. selain ganteng, berwawasan, lucu pula. Saya bukan orang Bandung, tetapi Bandung memiliki kenangan yang akan terus melekat seumur hidup. Tentu saja, bagaimana tidak, saya bertemu suami dan ayah dari ketiga anak saya, ya di Bandung. Cuit.. cuit... memang betul deh, Kota Kembang itu telah membuat hati saya dipenuhi  banyak kembang. Padahal, saya baru dua kali ke Bandung. Bandingkan dengan Semarang, tempat di mana saya kuliah dan ngekos selama empat tahun. Boro-boro ketemu jodoh, patah hati iya hehehe....


Itulah, kita memang tidak tahu di mana dan kapan akan bertemu dengan jodoh kita. Di tempat yang kita diami bertahun-tahun atau malah di tempat yang baru kita datangi? Jauh sebelumnya, saat masih ngekos di Semarang, seorang teman satu kos pernah berharap berjodoh dengan ikhwan Bandung, lulusan ITB. Wuiih.. ketinggian nggak tuh? Ya, berharap sih boleh saja, walaupun jelas-jelas kami kuliah di Semarang, masa minta jodohnya orang Bandung? Entah bagaimana cara bertemunya. Saya sendiri tidak punya gambaran dari mana jodoh saya, yang penting laki-laki, muslim, dan mapan (wueitss... dasar matre!). 

Setelah lulus kuliah, saya bekerja di Depok. Lah, terus bagaimana bisa dapat jodoh orang  Bandung? Cerita masih berlanjut. Barangkali ada yang sudah bosan baca cerita saya ini, karena sudah beberapa kali saya ceritakan juga, tapi ini saya tulis ulang hehe... Saya juga menjalani proses perjodohan dengan orang Jakarta dan sekitarnya, tapi gagal semua. Kemudian, dalam suatu kesempatan, saya pergi ke Bandung untuk acara kepenulisan. Apakah di sana saya ketemu jodoh? Ya, enggak juga. Sabar... tenang dulu. Kali kedua ke Bandung, saya sekadar jalan-jalan saja akhir pekan bersama dua orang sahabat: Kania Ningsih dan Mbak Tary. Mereka ini adalah teman sewaktu saya kerja di majalah. Kania Ningsih bekerja di majalah yang sama dengan tempat saya kerja. Mbak Tary seorang penulis lepas, sekarang dia sudah menjadi penulis skenario televisi yang sukses.
Ayah dan tiga anaknya di Mall Paris Van Java, Bandung

Yah, bisa dibilang dulu kami sedang galau-galaunya dalam urusan jodoh dan pekerjaan. Gaji minimalis. Calon jodoh, nggak masuk list. Kami beberapa kali gagal dalam urusan jodoh. Sampai kemudian Kania yang pindah ke Bandung karena mau meneruskan kuliah, mengabarkan kalau dia sudah dapat jodoh! Apaaaa? Kami keduluan Kaniaa? Kania sudah dilamar dan dua bulan lagi akan menikah. Mbak Tary pun mengajak saya mengunjungi Kania di Bandung, sebelum Kania menikah dan menjalani dunia yang berbeda dengan kami, hiks.... 

Kami menginap di kos Kania, ngobrol-ngobrol cantik sebelum salah satu melepas masa lajang. Saya jadi tambah galau kalau ada teman yang mau menikah, sementara saya belum ada calon sama sekali. Hasil dari ngobrol-ngobrol itu, Kania memberikan formulir kontak jodoh yang tadinya mau dia pakai tapi nggak jadi. Dia menyuruh saya mengisinya, nanti dikirim lagi ke dia pakai Pos dan dia yang akan meneruskannya ke Ustaz yang mencarikan jodoh itu. Coba kalau teman-teman jadi saya, apakah teman-teman akan melakukan saran itu? Kalau saya sih, yes. Dua minggu setelah memikirkannya, apa salahnya saya isi formulir jodoh itu dan kirimkan ke Kania? Sebulan setelah formulir itu diserahkan Kania ke Ustaz yang dimaksud, saya mendapat telepon dari Ustaz tersebut dan disuruh ke Bandung karena calon lelaki yang mau menjadi suami saya sudah menunggu. 

Taman Kota Sukajadi, Bandung

WHAAAT?! Deg-deg.. saya berangkat lagi ke Bandung bareng Mbak Tary, karena dulu itu saya nggak berani bepergian jauh sendirian. Kami menginap lagi di rumah Kania. Saya datang agak telat karena calon suami saya itu sudah menunggu satu jam sebelumnya. Wajahnya agak bete pas melihat kami datang hahaha.... Wawancara berjalan mulus. Tiga hari kemudian, Ustaz kembali menghubungi, apakah saya yes dengan lelaki itu itu? Saya gengsi dong bilang yes, saya balikkan ke Ustaznya, apakah lelaki itu yes? Dan ternyata... dia yes! Ya sudah, saya yes juga deh (pura-pura pasrah, padahal mau). Delapan bulan kemudian, saya menikah dengan lelaki itu. Lelaki yang saya temui di Bandung. Walaupun bukan orang Bandung, tapi lulusan ITB. Saya mengambil mimpi teman saya. 

Sekarang kami sudah sembilan tahun menikah dan punya tiga anak. Bandung tetap menjadi tempat favorit untuk jalan-jalan, karena selalu kami lewati kalau mau ke rumah orangtua suami di Garut. Beberapa tulisan mengenai tempat-tempat di Bandung yang kami kunjungi sekeluarga, sudah saya terbitkan di blog ini dan blog satunya lagi. Berikut ini daftarnya: 


Tentunya masih banyak lagi tempat-tempat di Bandung yang belum kami jelajahi. Bandung, sepertinya masih akan menjadi tempat tujuan wisata utama, selain Garut, karena murah meriah dan dekat. Semua tempat di Bandung, istimewa bagi saya, selama dijelajahi bersama suami dan anak-anak. Namun, tempat yang akan selalu saya kenang adalah rumah Ustaz di mana kami bertemu. Di mana itu? Rahasia ah. Nanti banyak yang nanya :D



Jumat, 12 Februari 2016

Cara Membuat Manisan Rambutan

Manisan Rambutan
Assalamu'alaikum. Lama tidak menyapa pembaca blog ini. Saya mau membagikan postingan yang sederhana saja. Beberapa waktu lalu, Ismail minta dibelikan rambutan. Sekarang ini kan memang sedang musim rambutan. Di mana-mana ada tukang rambutan. Yang tadinya jualan mangga, jadi jualan rambutan. Akhirnya saya beli deh rambutan tiga ikat di tukang buah dekat rumah. Sebenarnya dari awal sudah keliatan buah rambutan itu sudah layu. Mungkin sudah lama ya dipajang dan nggak laku-laku. Tapi mau nyari di tempat lain kok males, karena lebih jauh. Boncengin anak tiga kan repot. Beli tiga ikat juga karena permintaan Ismail. Harganya Rp 18.000. Saya tahu itu juga kemahalan, karena biasanya Rp 15.000/ 3 ikat. Berhubung yang jualnya sudah kakek-kakek, ya terima saja deh. 


Ternyata benar. Setelah dicoba, Ismail kurang suka dengan buah rambutannya. Buahnya susah lepas dari biji. Ismail maunya buah rambutan yang gampang dilepas dari bijinya. Yaaah... itu rambutan nganggur deh sampai beberapa hari, karena saya sendiri males ngemil rambutan. Kemudian saya mikir, enaknya diapain nih rambutan? Sampai kulitnya menghitam, masih belum ada yang mau makan. Saya googling saja dan nemu resep manisan rambutan. Aha! Bikin manisan rambutan aja, deh! Caranya gampang banget.

Bahan-bahannya:
Buah rambutan, dikupas kulitnya. Harusnya sih dipisahin juga dari bijinya, tapi ini kan susah dipisahinnya. 
Gula, secukupnya.
Garam, 1/2 sendok teh.
Pewarna makanan (kalau suka). Mestinya nggak usah pakai pewarna makanan sih, karena suami nggak suka. 

Cara membuatnya: 
Buah rambutan direbus bersama gula, garam, sampai mendidih. Lalu tambahkan pewarna makanan satu tetes. Aduk-aduk. Dinginkan. Setelah dingin, masukkan ke dalam kulkas.

Seger deh, kayak manisan yang dijual di supermarket, tapi yang ini nggak pakai pengawet. Sayangnya, cuma saya yang makan nih hahaha... Suami nggak mau kalau ada warnanya. Lain kali mesti bikin yang nggak pakai pewarna. Makan manisan juga nggak boleh sering-sering sih, khawatir diabetes. Sesekali dimakan kalau gerah dan cuaca panas. Segeeer.....

 

Minggu, 31 Januari 2016

Kembangkan Minat dan Bakat Anak di Sun Life Edu Fair 2016

Assalamu'alaikum. Hari Minggu itu memang waktunya jalan-jalan bareng keluarga ya. Anak-anak sudah nggak sabar menunggu hari Minggu kemarin, karena saya sudah menjanjikan untuk melihat dongeng di acara Sun Life Edu Fair 2016, Main Atrium Senayan City, Jakarta. Acaranya sendiri sudah diselenggarakan dari tangga 28 Januari 2016 sampai 31 Januari 2016.  Kami pilih datang hari Minggu. Dari poster acaranya yang saya lihat di twitter @SunLife_ID, kelihatannya acara ini bakalan menarik. Ada School Performance (penampilan anak-anak dari beberapa sekolah), dongeng anak, booth-booth menarik, dan talkshow parenting. Wow, anak-anak bakal puas banget main di sini, sambil mamah dan ayahnya mendengarkan talkshow yang penting sekali. Menjadi orangtua itu kan memang harus banyak belajar. Sayangnya, belum ada sekolah untuk menjadi orangtua. Jadi, kita harus pintar-pintar cari ilmu pengasuhan anak melalui berbagai seminar dan talkshow. 


Acara Sun Life Edu Fair 2016 ini gratis pula. Kita tinggal datang saja ke Senayan City, lalu duduk cantik di depan panggung. Acara dimulai pukul 11.00 WIB sampai sore. Saya sampai di lokasi pukul 13.30 WIB, dan talkshownya sudah akan dimulai. Wah, cepat-cepat deh saya mencari tempat duduk di depan panggung. Area Sun Life Edu Fair 2016 sudah dipenuhi pengunjung. Seru sekali, orangtua dan anak-anaknya sama-sama sibuk. Orangtua sibuk mendengarkan talkshow, anak-anak sibuk bermain di area bermain yang disediakan gratis. Anak-anak saya pun sigap menghampiri area bermain Bricks for Kidz. Mata mereka menyala-nyala melihat tumpukan Bricks yang banyak sekali. Maklum, mereka penggemar Bricks, sampai tidak mau menengok ke area bermain lainnya. Untung saya bisa membujuk mereka untuk mampir sebentar di area bermain Origami dan Balok Susun, jadi saya bisa dapat tiga cap untuk ditukar merchandise menarik hehehe.... 

Passport SunLife EduFair 2016
Harus dapat masing-masing tiga cap
Anak-anak asyik bermain Bricks Lego

Oya, setiap anak memang bisa mendapatkan passport yang harus dikasih minimal tiga cap di area bermain dan tiga cap di stan pameran sekolah-sekolah. Ada beberapa sekolah yang membuka stan. Bagi orangtua yang masih bingung mencari sekolah yang tepat untuk anaknya, bisa tanya-tanya ke stan-stan tersebut. Saya pun mampir ke beberapa stan tersebut, salah satunya stan Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC Jakarta). Saya dibuat terkesima dengan hasil karya anak-anak difabel itu yang diperjualbelikan di stan tersebut. Ternyata mereka bisa membuat barang-barang berguna dan bermanfaat! Saya membeli salah satu bros cantik yang dijual di sana. Kemudian, saya kembali mendengarkan talkshow yang kali ini bertema "Ketahui  Bakat Minat Anak Anda." 


Para pembicara yang tampil, diantaranya: Psikolog Anna Surti Nina, Chief Community Officer Majalah Parenting dan Ayah Bunda Prameshwari S, dan Chief Agency Officer Sun Life Indonesia Wirasto K. Mbak Imesh (Prameshwari) menjadi pembicara pertama dengan menampilkan kutipan menarik dari M. Gandhi, mantan PM India yang tersohor itu, "Lead The Children Lead." Artinya, Biarkan Anak-anak Memimpin Jalan Mereka Sendiri. Hm, kita pasti sering mendengar tentang orangtua yang memaksakan cita-citanya kepada anak-anak mereka. Maksudnya, orangtua yang punya cita-cita, anak-anak yang harus mewujudkannya. Contoh, orangtua ingin menjadi dokter tapi tak kesampaian. Setelah mereka punya anak, anak-anaknya itulah yang disuruh jadi dokter padahal anaknya tidak mau jadi dokter. Akhirnya, anaknya pun stres. Nah, lhoo! 

Sidiq pilih jadi pilot!

Saya sendiri, dulunya ingin sekali menjadi desainer busana. Sejak kecil, saya suka gambar-gambar putri lengkap dengan baju-bajunya yang cantik. Saya juga pernah ikut lomba-lomba fashion show kecil-kecilan. Terakhir, sewaktu kuliah di Fakultas Ekonomi, saya ikut lomba desain busana tingkat kampus. Kegiatan itu sifatnya ekstrakurikuler. Saya menjadi juara pertama. Eh, kok saya kuliahnya di Fakultas Ekonomi ya? Ya itulah, sudah jamak terjadi, anak-anak bersekolah di tempat yang tidak sesuai dengan bakat dan minatnya. Saya sadar betul saya tidak mau kuliah di Fakultas Ekonomi. Sayangnya, hanya itu kesempatan yang saya punya. Untuk bisa kuliah di desain busana membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena belum ada kuliah desain busana di perguruan tinggi negeri di mana orangtua saya hanya mampu membiayai kuliah di perguruan tinggi negeri. Kalau di swasta, nyerah deh. Biayanya tidak ada! 

Booth Fashion Desainer
Psikolog Anna Surti Nina memaparkan perlunya komunikasi orangtua dan anak. Orangtua harus bisa memindai bakat dan minat anak, lalu membantu mengembangkannya dengan memberikan fasilitas-fasilitas. Bu Anna menjelaskan mengenal delapan kecerdasan majemuk pada anak menurut Prof. Howard Gardner, diantaranya: Linguistik (bahasa), Matematis-Logis (berpikir logis), Visual Spasial (warna, bentuk, garis, ruang), Kinestetis Jasmani (fisik), Musikal (musik), Interpersonal (kepekaan terhadap ekspresi wajah), Intrapersonal (memahami diri sendiri), dan Naturalis (alam).

Salim suka main bongkar pasang

Jadi, setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Bukan hanya anak yang bisa menguasai pelajaran Matematika dan IPA saja yang disebut cerdas. Anak-anak yang pintar menggambar, bermain musik, dan olahraga itu juga cerdas lho. Orangtua tidak bisa memaksakan anaknya harus cerdas Matematika dan IPA, kalau si anak cerdasnya lebih dominan dalam bidang olahraga. Toh, profesi yang ada di dunia ini bukan hanya Dokter dan Ilmuwan, tapi juga ada Olahragawan, Desainer, Pemusik, Pelukis, dan sebagainya. Orangtua mesti memperhatikan si anak lebih dominan ke mana, lalu bantu si anak untuk mengoptimalkan kecerdasannya itu. Namun, bukan berarti orangtua hanya fokus pada satu kecerdasan yang dominan. Kecerdasan lainnya juga harus ikut dikembangkan untuk mendukung kecerdasan yang paling dominan itu. Si anak juga tetap harus dikenalkan dengan bidang-bidang lain agar menambah pengalaman yang berguna untuk masa depannya. 

Booth Sun Life, bisa tanya tentang Sun Life Financial di sini!

Misalnya gini lho. Walaupun si anak itu suka Matematika, orangtua tetap harus memperkenalkan pelajaran menggambar, kegiatan berolahraga, dan sebagainya. Contoh, Dewi Dee Lestari, novelis Indonesia yang sangat terkenal itu. Dulunya adalah seorang penyanyi. Berarti beliau memiliki kecerdasan musikal. Lalu, sekarang dia lebih dikenal sebagai penulis novel. Itu artinya dia juga  memiliki kecerdasan Intrapersonal. Saya sendiri juga merasa memiliki lebih dari satu kecerdasan (cieh...). Yah, buktinya sekarang walaupun tidak berhasil menjadi desainer busana, tapi saya bisa menulis di blog maupun buku. Itu artinya, memang perlu sekali orangtua mengembangkan kecerdasan anaknya tidak hanya fokus pada satu hal, tapi bisa lebih. Orangtua saya dulu mungkin tidak menyadari kalau kegemaran mereka memberikan buku-buku bacaan kepada saya bisa berdampak pada optimalisasi kecerdasan Intrapersonal di mana saya akhirnya bisa menulis karya di blog maupun media cetak. 

Booth sekolah

Seperti itulah yang dipaparkan oleh Bapak Wirasto K, bahwasanya passion (kegemaran) anak itu bisa berubah-ubah. Kalau dulunya ingin jadi dokter, bisa jadi ke depannya berubah ingin jadi novelis. Untuk itu, orangtua harus memfasilitasi kegemaran anak dengan merencanakan sejak dini biaya-biaya yang kelak akan dibutuhkan. Biaya pendidikan anak bukan hanya di sekolah formal, melainkan juga di tempat-tempat kursus atau les yang mengasah minat dan bakat anak. Misalnya saja, les musik, piano, renang, dan sebagainya. Itu butuh biaya yang tak sedikit. Sementara itu, risiko selalu mengancam. Walaupun kita tidak berdoa yang buruk-buruk ya, tetapi hal itu memang bisa saja terjadi. Seperti orangtua yang tiba-tiba sakit parah atau terkena kecelakaan. Kalau orangtua mengalami hal buruk di saat anak-anak masih bersekolah, bagaimana? Itu mengapa orangtua harus merencanakan biaya pendidikan anak sejak dini untuk meminimalisir risiko tersebut. Salah satunya dengan memanfaatkan asuransi Sun Life Financial. 

Sun Life Financial itu sendiri menyediakan asuransi dari mulai asuransi kesehatan, syariah, jiwa, unit link, dana tunai sekolah, dan lain-lain. Selebihnya bisa dipelajari di website www.brighterlife.co.id dan www.sunlife.co.id. Kita bisa pilih-pilih deh mau asuransi yang mana. Produk asuransi syariahnya juga ada. Intinya, jangan sampai cita-cita anak terputus gara-gara orangtuanya kurang biaya atau terjadi sesuatu yang menyebabkan orangtua kesulitan membiayai sekolah anaknya. 

Para Blogger berfoto selepas acara. Sumber: Twitter @SunLife_ID

Alhamdulillah, selesai sudah acara talkshow yang sangat bermanfaat ini. Kemudian dilanjutkan dengan School Performance dari TK Don Bosco dan Dongeng Anak. Anak-anak saya tidak mau diajak pulang dan masih asyik dengan Bricks Legonya. Sayang, besok alias hari ini mereka sekolah jadi harus cepat pulang dong. Terima kasih, Sun Life Edu Fair 2016... Acaranya sangat menarik dan luar biasa!

Penampilan anak-anak TK Don Bosco

Ada dongengnya juga!



Smart Parenting and Health Talkshow Brawijaya Clinic FX Sudirman

Assalamu'alaikum. Alhamdulillah bisa kembali menjumpai pembaca blog ini. Hari Sabtu, 30 Januari 2016 lalu, saya mendapatkan undangan dari Blogger Reporter untuk meliput talkshow "Smart Parenting and Health" Brawijaya Clinic di lantai F5 FX Sudirman, Jakarta. Saya senang sekali bisa mendapatkan undangan ini karena bisa menambah pengetahuan mengenai parenting. Tema talkshownya adalah "Lindungi Sang Buah Hati dengan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat." Pembicaranya adalah Dr. Nathanne Septhiandi, SpA, dokter anak di Brawijaya Clinic, FX Sudirman. 


Sekilas mengenai Brawijaya Clinic FX Sudirman ini terletak di lantai F5 Mall FX Sudirman, Jl. Jenderal Sudirman #K*A-8B Pintu Satu Senayan, Jakarta 10270. Telepon (021) 25554099, 25554154. Email: bwccfx@gmail.com. Klinik ini adalah bagian dari Rumah Sakit Brawijaya Women and Children. Selain Brawijaya Clinic FX Sudirman, Brawijaya Clinic juga ada di Oktroi Plaza Building-Kemang, ANZ-Square-UOB Plaza-Thamrin, dan Buah Batu Bandung. Brawijaya Clinic memberikan pelayanan Klinik Spesialis Anak, Klinik Endokrin Anak, Klinik Tumbuh Kembang, Klinik Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Klinik Spesialis Dermatologi, Klinik Spesialis Gigi, dan USG 4D.

Brawijaya Clinic, FX Sudirman

Dalam talkshow kemarin, Dr. Nathanne menjelaskan mengenai nutrisi dan stimulasi yang tepat untuk anak, yang dimulai sejak ibu mengandung. Kalau kita menginginkan anak yang sehat dari cerdas, pemberian nutrisi untuk calon bayi sudah dimulai sejak mengandung lho ya. Di mana saat itu kita harus sudah memperhatikan makanan-makanan yang masuk. Jangan makan sembarangan lagi, terutama kita harus menjauhi makanan dan minuman yang berbahaya, seperti minuman beralkohol dan rokok Sedangkan stimulasi untuk bayi bisa dilakukan sejak usia kandungan 6 bulan. Ibu sudah bisa mengajak bayi mengobrol atau memperdengarkan suara yang indah, membacakan buku, dan sebagainya.

Dr. Nathanne Septhiandi, SpA

Setelah bayi lahir, tugas orangtua pun bertambah. Otak anak ada dua bagian: kanan dan kiri. Keduanya memiliki fungsi berbeda. Kalau otak kiri itu untuk mengembangkan kata-kata, logika, nomor-nomor, menganalisa, dan sebagainya. Sedangkan otak kanan itu untuk mengembangkan irama, imajinasi, kreativitas, warna, dan sebagainya. Kedua bagian otak ini harus seimbang perkembangannya, bukan hanya salah satu, dan membutuhkan nutrisi dan stimulasi yang tepat. Dr. Nathanne juga memberikan penjelasan mengenai stimulasi-stimulasi untuk anak sesuai dengan umurnya. Kalau ditulis semua bisa jadi satu buku nih, soalnya banyak banget informasi yang diberikan. Nggak rugi deh ikut talkshow ini. 

Para peserta juga antusias sekali bertanya, ya kapan lagi kan bisa tanya-tanya ke dokter anak secara gratis? Sudah begitu, semua peserta yang datang mendapatkan snack. Peserta yang kebanyakan ibu-ibu ini paling antusias bertanya saat Dr. Nathanne menjelaskan tentang aturan pemberian makan untuk anak. Wah, rupanya banyak ibu yang mengalami masalah dalam memberikan makanan ke anak-anak, seperti anak yang susah makan, pemilih makanan, bahkan ada anak yang makannya cepat sekali. Takutnya kalau makanannya cepat kan itu makanan belum sempat dikunyah sudah masuk ke perut. Saya sendiri termasuk yang punya masalah dalam pemberian makan ini. Anak-anak saya termasuk Picky Eater, suka pilih-pilih makanan. Susah deh memperkenalkan makanan baru kepada anak-anak. Mereka menilai makanan dari penampakannya. Kalau kelihatannya nggak enak, ya nggak mau dimakan. 

Peserta Talkshow

Dr. Nathanne menjelaskan bahwa ada aturan pemberian makan yang harus ditepati oleh orangtua, yaitu: ada jadwal makan utama dan makan selingan (snack) yang teratur, 3x makanan utama dan 2x makanan kecil diantaranya. Susu dapat diberikan 2-3x sehari. Lama makan hanya 30 menit, dan hanya ada air putih di antara waktu makan. Nah, jadi ibu-ibu, jangan lagi memberikan anak makan sampai berjam-jam ya. Saya dulu pernah mendengar seorang tetangga bercerita, kalau dia memberikan makan untuk anaknya sampai berjam-jam. Pokoknya ditungguin sampai makanannya habis. Waduuh, padahal, kalau anak sudah nggak mau makan itu berarti perutnya sudah kenyang. Mungkin karena sebelumnya sudah dikasih susu atau cemilan. Makanya sebelum waktu makan, anak jangan dikasih susu dan cemilan dulu.

Oya, kita harus mewaspadai terjadinya keterlambatan tumbuh kembang pada anak ya. Caranya dengan melakukan deteksi dini tumbuh kembang. Untuk pertumbuhan, timbang berat badannya, ukur tinggi badan dan lingkar kepalanya, serta lihat garis pertambahan BB, TB, dan LK pada grafik tumbuh kembang. Grafik ini bisa diperoleh di Posyandu. Sering ke Posyandu kan Bu? Supaya lebih mantap, bisa ke dokter anak. Di dokter anak, kita bisa menanyakan perkembangan anak dengan KPSP (Kuisioner Pra Skrining Perkembangan), daya pendengarannya dengan TDD (Tes Daya Pendengaran), daya penglihatannya dengan TDL (Tes Daya Lihat), masalah perilaku dngan kuisioner MME, autis dengan CHAT, gangguan pemusatan perhatian dengan kuisioner Conners.

Stimulasi pada anak bisa dilakukan saat anak bermain atau bercengkerama dengan orangtua. Orangtua jangan cuek. Cuma kasih mainan, lalu anak ditinggal. Orangtua harus ikut bermain bersama anak. Termasuk saat sedang menonton televisi, orangtua harus menjelaskan mengenai tontonan tersebut. Itu yang namanya stimulasi. Untuk orangtua yang bekerja, stimulasi nggak bisa diserahkan kepada pengasuh anak sebab pengasuh anak itu kan rata-rata bukan orang yang berpendidikan cukup. Walaupun pengasuhnya memiliki pendidikan yang cukup, mereka juga belum tentu memiliki rasa kasih sayang yang sama dengan orangtua si anak. Stimulasi untuk anak juga diberikan dalam bentuk kasih sayang. Jadi, sesibuk apa pun orangtua, tetap  harus menyediakan waktu untuk memberikan stimulasi. 

Ibu-ibu antri Free Dental Screening

Di akhir acara, dibagikan hadiah untuk tiga peserta yang dapat menjawab pertanyaan dan tiga peserta yang memposting foto di instagram, salah satunya sayaa! Alhamdulillah, saya mendapatkan hadiah tas cantik dari acara ini. Ada juga lima anak yang beruntung mendapatkan Free Dental Screening gratis. Wah, jadi nyesel nggak bawa anak-anak ke acara ini, hiks....

Goodiebag dan Tas Cantik

Selasa, 19 Januari 2016

Mengapa Harus Valentine's Day

  • Karena Membiarkan kemungkaran berarti membuat turunnya Azab Secara Merata.

مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي ، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا ، ثُمَّ لاَ يُغَيِّرُوا ، إِلاَّ يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ. أخرجه أبو داود (4339)، وابن ماجه (9 00 4)، وابن حبان (839 1 و1840

“Tidaklah maksiat dilakukan pada suatu kaum, tetapi mereka tidak mengingkarinya padahal mereka mampu merubahnya kecuali Allah akan meratakan adzab kepada mereka”. (HR Abu Dawud dan lainnya, shahih menurut Al-Albani).


Valentine: Hari Raya Mengenang Pendeta

Memasuki bulan Februari, kita menyaksikan banyak media massa, mall-mall, pusat pusat hiburan bersibuk ria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar acara-acara pesta perayaan yang tak jarang berlangsung hingga larut malam. Semua pesta tersebut bermuara pada satu hal yaitu Valentine’s Day atau biasanya disebut hari kasih sayang. Pada tanggal 14 Februari itu mereka saling mengucapkan “Selamat hari Valentine”, berkirim kartu, cokelat dan bunga, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta.
Sejarah, Asal-Usul dan Latar Belakang
Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine, tetapi versi terkenal adalah kisah Pendeta St. Valentine yang hidup di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St. Valentine karena menentang beberapa perintahnya. Claudius II melihat St. Valentine mengajak manusia kepada agama Nasrani, lalu memerintahkan untuk menangkapnya.
Dalam versi kedua, Claudius II melihat bahwa para bujangan lebih tabah dalam berperang daripada yang telah menikah yang sejak semula menolak untuk pergi berperang, lalu dia mengeluarkan perintah yang melarang pernikahan. St. Valentine menentang perintah ini dan terus mengadakan pernikahan di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui dan dipenjarakan. Di penjara dia berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang terserang penyakit. Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan “Dari yang tulus cintanya, Valentine.” Hal itu terjadi setelah anak tersebut memeluk agama Nashrani bersama 46 kerabatnya.
Versi ketiga, ketika agama Nasrani tersebar di Eropa, di salah satu desa terdapat sebuah tradisi Romawi yang menarik perhatian para pendeta. Dalam tradisi itu para pemuda desa selalu berkumpul setiap pertengahan bulan Februari. Mereka menulis nama-nama gadis desa dan meletakkannya di dalam sebuah kotak, lalu setiap pemuda mengambil salah satu nama dari kotak itu dan gadis yang namanya keluar akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Ia juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan “Dengan nama tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini.” Akibat sulitnya menghilangkan tradisi ini, para pendeta memutuskan mengganti tulisannya menjadi “Dengan nama Pendeta Valentine” sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nasrani.
Saudaraku, itulah sejarah Valentine’s Day yang sebenarnya (berdasarkan data yang ada -ed), yang seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat, atau hanya ikut-ikutan semata? Bila demikian, sangat disayangkan banyak remaja Islam yang terkena penyakit mengekor budaya Barat dan acara ritual agama lain. Bahkan saat ini beredar kartu-kartu perayaan keagamaan ini dengan gambar anak kecil dengan dua sayap terbang mengitari gambar hati sambil mengarahkan anak panah ke arah hati yang sebenarnya itu merupakan lambang tuhan cinta bagi orang-orang Romawi! Padahal Alloh berfirman,

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا (٣٦)

 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya”. (QS. Al Isro’: 36)
Fakta Yang Merayakan Valentine, Jangan Segan Menyebutnya Penganut SEKS BEBAS
Dari tahun ke tahun, perayaan Valentines’Day telah menelan banyak korban. Diantara mereka, ada yang mati konyol saat pesta miras, hamil di luar nikah, dan kecelakaan setelah menggunakan narkotika pada moment Valentines’ Day.
Siapa yang bisa mengelak, bahwa Valentine’s Day di kalangan remaja yang tumbuh di Kota Besar, identik dengan dunia gemerlap (dugem), pesta miras, perzinahan, dan mengkonsumsi barang-barang terlarang, seperti ecstasy, shabu-shabu dan sejenisnya.
Mau tahu nasib mereka yang merayakan Valentines’ Day? Inilah sepenggal kisah seorang gadis yang telah kehilangan keperawannnya usai merayakan Valentine’s Day dua tahun yang lalu. Sebut saja Mawar (15), warga Kampung Simpar Desa Simpar Kecamatan Cipunagara Kabupaten Subang, diperkosa oleh empat remaja. Peristiwa yang menimpa siswi kelas II pada salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Subang-Jawa Barat itu, terjadi saat korban berencana merayakan Valentine Day (hari kasih sayang).
Menurut keterangan saksi korban, peristiwa itu berawal ketika Mawar diajak jalan-jalan oleh pacarnya Her (17) ke daerah Ciater. Waktu itu Her berdalih ingin memanjakan korban pada hari kasih sayang. Selain membawa korban, Her juga mengajak sahabat-sahabat-nya yang lain yang rata-rata masih berusia 17 hingga 18 tahun. Setiba di Subang, mereka tiba-tiba mengurungkan niat untuk pergi ke Ciater, tetapi malah kembali ke Pagaden dan sepakat merayakan valentine dengan cara pesta minuman keras di sebuah gang sempit di Dusun Wanakersa, Pagaden.
Saat itu, korban terus didesak Her untuk mencicipi minuman keras. Beberapa menit setelah meminum minuman keras itu, korban merasakan pusing kepala. Kondisi seperti itu rupanya malah dimanfaatkan Her dan teman-temannya untuk melampiaskan nafsu. Setelah puas mereka langsung pergi dan membiarkan korban tergeletak di pinggir gang.
Di Banjarmasin, Perayaan “valentine`s day” juga menelan korban. Dilaporkan, pada malam hari kasih sayang itu, seorang remaja tewas overdosis (OD) mengonsumsi ineks (ekstasi) di tempat hiburan malam.
Pembaca sekalian, ketika semua bukti kerusakan itu telah nampak didepan mata, bagaimanakah sikap kalian yang mengaku sebagai seorang muslim & muslimah ?? Lalu bagaimana tanggungjawab para pemimpin yang kalian pilih itu ??? Karena Membiarkan kemungkaran berarti membuat turunnya AZAB SECARA MERATA.

مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي ، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ يُغَيِّرُوا ، ثُمَّ لاَ يُغَيِّرُوا ، إِلاَّ يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ مِنْهُ بِعِقَابٍ. أخرجه أبو داود (4339)، وابن ماجه (9 00 4)، وابن حبان (839 1 و1840

“Tidaklah maksiat dilakukan pada suatu kaum, tetapi mereka tidak mengingkarinya padahal mereka mampu merubahnya kecuali Allah akan meratakan adzab kepada mereka”. (HR Abu Dawud dan lainnya, shahih menurut Al-Albani).
Waspadailah berbagai kezaliman, kemungkaran, dan dosa-dosa yang berdampak turunnya siksa Alloh SWT secara umum. Jangan pedulikan kaum yang hanya menyuruh kita berbuat kebaikan saja, tetapi mereka tidak sudi untuk mencegah kerusakan sebagai benteng umat untuk mencegah munculnya kezaliman yang merupakan dosa yang berdampak kepada siksa yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja, tapi juga akan mengenai orang-orang yang shalih.

« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».

Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman. (HR MUSLIM)
Bolehkah Memperingati Hari Valentine?
Bila dalam merayakannya bermaksud untuk mengenang kembali Valentine maka tidak disangsikan lagi bahwa ia telah melakukan perbuatan kekafiran. Adapun bila ia tidak bermaksud demikian maka ia telah melakukan suatu kemungkaran yang besar. Al-Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rohimahulloh berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Alloh. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Alloh dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamer atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Alloh.” Allohu a’lam bish showab.
Referensi Buku:
1.       Buku Saku Ada Pemurtadan di Valentine’s Day, Penulis: Tim Yayasan Baitul Maqdis, Ciracas, Jakarta Timur, Terbitan: YBM/Yayasan Baitul Maqdis (www.baitul-maqdis.com/buku-ada-pemurtadan-di-valentine-days)
2.       Buku Saku Ada Apa Dengan Valentine’s Day, Penulis: Tim Yayasan AlSofwa, Lenteng Agung-Jakarta Selatan, Terbitan:  Dept. Dakwah Yayasan Al-Sofwa (http://www.alsofwah.or.id/download/Ebook%20Valentine.pdf)
*Penulis Muhammad Faisal, S.Pd, M.MPd* Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Kontributor Tulisan di berbagai Situs-Situs Islam, Praktisi PAUDNI/Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal, Alumni S1 FKIP Prodi Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Serang-Banten, Alumni S2 Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (IMNI), Jakarta – Pasca Sarjana, konsentrasi Manajemen Pendidikan.
(nahimunkar.com)