Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juni 2016

Al Quran, Mukjizat Terbesar Nabi Muhammad Saw



Nak, sebagai seorang muslim, kita harus mengimani Nabi Muhammad SAW. Iman artinya percaya. Percaya kepada semua yang dikatakan Nabi Muhammad Saw dan menyakini bahwa apa yang disampaikannya adalah benar. Memiliki rasa percaya itu tidaklah mudah, apalagi kita hidup di masa yang jauh sekali dari masa kenabian. Jangankan kita yang belum pernah melihat Nabi Muhammad Saw secara langsung. Orang-orang di masa Nabi hidup pun pernah tidak mempercayai semua perkataan Nabi. Mereka menyebut Nabi sebagai tukang sihir, pembual, bahkan orang gila.. Kita hanya mengenal Nabi dari Al Quran yang dibawanya, serta sirah Nabawiyah (catatan sejarah tentang Nabi) yang ditulis berdasarkan rangkaian cerita hadist dan terjemahan Al Quran.


Jika kita tidak mengimani Nabi, maka kita akan menganggap Al Quran adalah karangan Nabi. Sama seperti orang-orang terdahulu yang mendustai Nabi. Mereka menganggap Al Quran adalah kata-kata Nabi sendiri. Lalu, bagaimana kita bisa mempercayai Nabi selain karena hidayah atau petunjuk yang sudah diembuskan Allah kepada kita? Bagaimana kita yakin bahwa Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah dan Al Quran adalah sebenar-benarnya firman Allah? Begini ceritanya….

Pada usia 40 tahun, Nabi menyendiri di dalam gua Hira. Nabi sering melakukan hal itu. Orang sekarang menyebutnya, kontemplasi. Dalam kesendiriannya itu, Malaikat Jibril mendatangi Nabi dan membuat lelaki itu gemetar. Bagaimana tidak? Malaikat dideskripsikan sebagai makhluk yang tubuhnya berada di bumi dan di langit. Cahayanya bersinar terang. Malaikat berkata, 

“IQRA. Bismirabbikalladzi kholaq.” 

Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan. 

Nabi tidak bisa langsung melakukannya.  Dia menggigil dan ketakutan. Dia tak tahu bahwa itulah firman pertama dari Allah yang diembuskan kepadanya. Dia disuruh membaca, tetapi dia tidak bisa membaca. Di usia 40 tahun, Nabi sama sekali tidak bisa membaca. Nak, Nabi kita adalah seorang yang buta huruf. Dia tidak bisa membaca. Jadi, bagaimana dia bisa mengarang Al Quran? Kitab suci yang di dalamnya mengandung kata-kata sastrawi, dirangkai dengan kalimat tingkat tinggi yang memiliki kiasan-kiasan yang tidak mungkin dikarang oleh orang yang tidak bisa membaca. 

Jangankan seorang yang buta huruf, orang-orang pandai yang belajar sampai perguruan tinggi pun belum tentu bisa membuat satu kalimat pun yang serupa dengan satu ayat di dalam Al Quran. Hal itu sudah pernah dilakukan oleh orang-orang kafir yang tidak percaya dengan Al Quran. Mereka berusaha membuat kalimat yang mirip dengan Al Quran, tetapi mereka gagal. Sebab, Al Quran bukan kata-kata Nabi. Al Quran adalah firman Allah. Al Quran diturunkan kepada seorang buta huruf sebagai mukjizat agar kita percaya bahwa Al Quran sungguh-sungguh dari Allah. Tidak mungkin seorang yang buta huruf bisa mengarang Al Quran. 

Bacalah dengan (menyebut)  nama tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.
Yang mengajar (manusia) dengan pena.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Quran Surat Al ‘Alaq ayat 1-5).

Inilah salah satu Kisah Hebat Nabi Muhammad Saw, seorang yang buta huruf tetapi disuruh membaca agar bisa mengajarkan manusia mengenai firman-firman Allah Swt. Kini, Al Quran sudah ada di tanganmu, Nak. Apakah kau sudah membacanya? Apakah kau sudah menyelami ayat-ayat-Nya dan mengambil pelajaran? Jangan kaubiarkan Al Quran hanya terpajang di lemari bukumu, karena di dalamnya ada lautan ilmu mengenai Tuhanmu, Nabimu, dan agamamu. Al Quran adalah penuntun menuju cahaya-Nya.

Allah menyuruh kita membaca, karena buku-buku bacaan itu adalah media untuk mengajarkan manusia dengan pena. Berapa pun usianya, membaca itu perlu. Contohlah Nabi Muhammad Saw yang disuruh membaca oleh Allah Swt, meskipun usianya sudah 40 tahun. Itu kenapa Mama menyediakan banyak buku bacaan untukmu, agar kau pun senang membaca. Tak hanya Al Quran, melainkan juga buku-buku lain yang memberikan ilmu bermanfaat bagi kehidupanmu. Saat kau belum bisa membaca, Mama yang membacakan. Sama seperti Malaikat Jibril yang menuntun Nabi Muhammad Saw untuk membaca. Kini kau sudah bisa mengeja kata dan kaupun membaca buku-buku itu.  

Tetaplah membaca, Nak, bahkan hingga kau menua nanti. Membaca akan menjaga otakmu dari kepikunan. Membaca adalah gerbang menuju cahaya. Temukan kisah-kisah hebat mengenai Nabi Muhammad Saw dan nabi-nabi sebelumnya di dalam Al Quran dan buku-buku sehingga kau meyakini agama yang kau peluk hingga kini. Bukan sekadar mengikuti keyakinan kedua orangtuamu. Jadilah muslim yang tangguh dan kuat seperti Nabi Muhammad Saw.

Buku Kisah Hebat Nabi Muhammad Saw bisa dibeli di MatahariMall.com



Jumat, 03 Juni 2016

Perlukah Anak Belajar Membaca Sejak Bayi?

Belajar membaca bersama Miss Nadia
Assalamu'alaikum, Halo Bu-Ibu.... Sebagai penulis buku, saya miris sekali mengetahui kenyataan bahwa minat baca penduduk Indonesia dibandingkan dengan negara Asia lainnya sangat kecil. Survei dari Unesco, tak sampai satu judul buku yang dibaca oleh per orangnya per tahun, di luar buku pelajaran. WOW! Sedangkan di Malaysia, setiap orang bisa menghabiskan tiga judul buku bacaan per tahunnya. Apalagi bila dibandingkan dengan negara maju seperti Jepang, yang per orangnya membaca lima sampai sepuluh buku per tahun. Tidak heran, sih. Nyatanya, buku-buku yang ada di toko buku sekarang ini hanya bertahan beberapa bulan dipajang, bukan karena laku, tapi karena dikembalikan ke gudang penerbit untuk kemudian dimusnahkan atau kalau nasibnya baik sih diobral. 


Padahal kita tahu ya Bu, buku adalah gudangnya ilmu. Memang sih, ilmu sekarang ini  bukan hanya diperoleh dari buku. Namun, dengan membaca buku, kita jadi lebih pandai merangkai kata, mengembangkan daya imajinasi, dan memperbanyak kosa kata. Bagi anak-anak, bisa kelihatan deh anak yang suka membaca buku itu pengetahuannya lebih luas. Pengetahuan itu tidak hanya didapatkan di sekolah. Kalau hanya di sekolah, masih kurang sekali. Anak-anak harus rajin membaca buku di luar disiplin ilmu yang dipelajarinya di sekolah. Saya sendiri sudah suka membaca buku sejak kelas 3 SD. 

Koleksi Buku Read!

Eh, tapi kapan saya mulai belajar membaca? Ya, standarlah, saya mulai belajar membaca buku saat kelas 1 SD. Makanya saya kaget betul sewaktu menghadiri acara Early Language Learning Workshop di Reading is Fun, Jalan Kerinci III No. 9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ibu Lily, mengungkapkan bahwa anak-anaknya sudah bisa membaca dari umur 9 bulan! Kebayang nggak sih Bu, gimana coba mengajarkan anak membaca dari bayi? Pasti kita mikirnya susah, kan. Terus, kita juga mikir emangnya perlu anak-anak belajar membaca sejak bayi? Bukannya itu memaksa anak untuk dewasa sebelum waktunya? Yah, sebagaimana yang kita ketahui, dunia parenting ini kompleks sekali. Di satu sisi, ada ahli parenting yang menyarankan orangtua agar memberikan anak pengetahuan dan keterampilan sejak batita. Di sisi lain, ada yang justru melarang orangtua memaksa anak belajar sebelum waktunya dan mengabaikan hak bermainnya. Tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut, yang penting kita tetap memikirkan hak anak untuk menjalani masa kecilnya secara bahagia.


Maksudnya begini, orangtua yang mengajari anaknya membaca sejak bayi itu bukan berarti "menyiksa" anak. Kalau metode pembelajaran itu menyenangkan dan dilakukan sambil bermain, anak-anak pasti senang, Itulah yang saya dapati ketika berkunjung ke Perpustakaan Reading is Fun ini. Ternyata, kegiatan membaca itu bisa jadi sangat menyenangkan! Tempatnya homy sekali, dengan dekorasi yang didominasi oleh warna putih. Dari ruang depan sampai belakang, terdapat buku-buku yang menarik anak-anak. Di sini anak-anak bisa belajar membaca dengan mentor-mentor yang ramah dan mumpuni. Salim pun ikut merasakan kegembiraan belajar membaca bersama Miss Nadia yang sabar dan ramah. Sambil duduk berselonjor di ruang belakang yang dipenuhi mainan dan buku-buku. Miss Nadia membacakan satu per satu kata dari buku Your Baby Can READ, yang diciptakan oleh Robert Titzer, Ph.D. 
Bu Lily menceritakan tentang anak-anaknya

Dr. Titzer, seorang Profesor dan peneliti bayi dari Amerika Serikat, menciptakan satu-satunya program komprehensif di Indonesia yang menggabungkan mekanisme melek huruf kecil berdasarkan metodologi multisensoris untuk pengembangan anak usia dini. Buku Your Baby Can READ digunakan untuk pembelajaran anak usia 3 bulan sampai 7 tahun. APAA?! Usia 3 bulan sudah bisa diajari membaca?! Bisa, dong.... Cara belajarnya juga menyenangkan dan tidak akan membuat anak bosan. 

Jadi, kenapa sih anak sebaiknya belajar membaca sejak dini? Supaya bisa lulus seleksi masuk SD favorit? Bukaaan... masuk SD juga bisa kok walaupun belum bisa membaca. Yang paling utama, dengan anak sudah bisa membaca dan terbiasa membaca, ke depannya mereka akan suka membaca. Dengan begitu, minat baca pun akan mengalami kenaikan. Tentunya kita berpikir, pasti susah deh mengajari anak membaca sejak dini? Oh, tidaaak.... Bayi, balita, dan anak-anak usia prasekolah yang telah memprakttekkan program Reading is Fun ini telah membuktikan kefektifannya. Mereka bukan hanya sudah bisa membaca sejak usia 9 bulan, tapi juga jadi kecanduan membaca! Bahkan, anak Bu Lily saja yang masih usia SD, sudah bisa membaca buku Harry Potter yang tebal-tebal dalam waktu cepat. Wuiih! Saya saja belum tamat-tamat membaca Harry Potter. 

Anak-anak antusias belajar membaca

Program Interaktif dari Your Baby Can Read (YBCR) dan Your Child Can Discover (YCCD) yang diciptakan oleh Dr. Titzer ini membantu menstimulasi otak anak secara visual, auditory, dan kinestetis. Para mama blogger diperlihatkan video rekaman anak-anak Bu Lily yang sedang belajar membaca dan mereka bisa membaca kata-kata yang ditunjukkan oleh mentor dengan cepat. Usia anak-anak itu antara 1,5-3 tahun! Luar biasa, ya?! Andai Perpustakaan Reading is Fun ini dekat dengan rumah saya, saya pasti bakal sering berkunjung membawa Salim. Untuk masuk dan membaca bukunya biaya per hari Rp 20.000. Itu sudah sekalian menyewa kostum karakter lho, ada Princess, Spiderman, Thorr, dan sebagainya. Nah, kalau mau ikut kelasnya, bisa daftar dan membayar biaya langganan Rp 1,9 juta, sudah mendapatkan buku Your Baby Can Read dan Your Child Can Discover yang harganya antara 1,5 juta sampai 1,8 juta.

Salim pakai baju Thor
Bagi ibu-ibu yang ingin lebih tahu tentang Program Reading is Fun ini, datang saja ke acaranya BESOK, Sabtu, 4 Juni 2016 jam 10.30-12.30 di Atrium XXI Gandaria City Level 2, Kids Carnival. Akan ada Early Language Learning Workshop, Testimonials from Indonesian Mums, "Your Baby Can" Interactive Demo Class, Lucky Draw & Special Discount, dan Goodiebag.  Yuk, mulai biasakan membaca sejak dini!




Jumat, 20 Mei 2016

Kiat Membesarkan Anak dengan Teknologi

Vera Itabiliana
Teknologi bagaikan dua sisi pisau. Di satu sisi, pisau bermanfaat untuk untuk memotong-motong sayuran. Di sisi lain, pisau juga bisa digunakan untuk melukai. Begitu juga dengan teknologi. Di satu sisi bermanfaat untuk mendukung kegiatan sehari-hari, juga untuk belajar. Di sisi lain, ada banyak dampak negatif teknologi. Contohnya para pelaku pembunuh Yuyun, gadis yang diperkosa 14 pemuda di Bengkulu. Salah satu akibatnya karena para pemuda itu suka menonton film porno di internet. Jadi, gimana dong cara membesarkan anak bersama teknologi? Kemajuan teknologi, mau tidak mau harus kita hadapi. Kita tidak bisa menjauhkan anak dari teknologi karena bagaimanapun mereka akan membutuhkan teknologi untuk belajar dan bekerja. 


Kiat membesarkan anak bersama teknologi, tema itulah yang diangkat dalam Talkshow Parenting yang disponsori oleh Sampoerna Academy, sebuah program pendidikan yang didesain oleh Putera Sampoerna Foundation dengan sistem berasrama standar Internasional. Talkshow ini diadakan pada tanggal 13 April, tapi saya baru sempat menulis laporannya sekarang. Para pembicara: Vera Itabiliana (Psikolog Anak), Miss Yenny (Kepala Sekolah Sampoerna Academy), dan Ibu Erna (Dosen). Vera Itabiliana sebagai seorang Psikolog menjelaskan dampak teknologi, terutama gadget seperti smartphone dan televisi kepada anak-anak. Anak-anak usia di bawah 2 tahun, sebaiknya jangan dulu diperkenalkan dengan gadget. Jangan berikan gadget kalau hanya untuk menyibukkan anak supaya diam dan tidak mengganggu orangtuanya.

Anak yang terlalu banyak terpaprar gadget akan mengalami gangguan komunikasi dan konsentrasi. Pandangan matanya akan terus mengarah ke gadget. Mbak Vera bahkan memiliki contoh kasus pasien anak yang tidak bisa berinteraksi dengan orang di sekitarnya, tapi dapat bicara seperti suara-suara yang ada di game. Anak itu juga tidak bisa memegang pensil, tapi sebaliknya dia menggerakkan  tangannya seperti saat menggerakkan layar Tablet. Mengerikan sekali, ya! Makanya, Mbak Vera punya aturan memberikan gadget ke anaknya hanya saat liburan dan itupun hanya 2 jam sehari. 

Dosen Erna

Ibu Erna, seorang Dosen di Jakarta, menjelaskan pentingnya teknologi. Di zaman sekarang ini, anak-anak harus dibekali dengan STEAM (Sains, Technology, Engineer, Art, dan Matchmatic). Apa pun bakatnya, anak-anak harus punya bekal STEAM, karena di zaman MEA (Masyarakat Ekonomi Asia), anak-anak akan bersaing dengan anak-anak lain dari ASEAN. Untuk mengajari Sains, tidak harus plek teori seperti di buku pelajaran. Bisa dengan mengajak melihat alam. Kalau matahari bersinar itu gunanya untuk apa. Bagaimana proses fotosintesis pada tumbuhan, dan sebagainya. Sains itu mudah, kok.... 

Nah, terakhir Miss Yenny menjelaskan penerapan teknologi di Sampoerna Academy. Bahwasanya di sana internet bisa digunakan kapan saja dan anak-anak belajar menggunakan laptop. Tapii... fasilitas itu hanya bisa digunakan untuk BELAJAR, bukan update status di FB atau menonton film di Youtube. Jika teknologi digunakan dengan benar, niscaya anak-anak akan berkembang pengetahuan dan kecerdasannya. Contohnya, ada anak yang suka membuat cerita. Dia memposting ceritanya di situs dan ceritanya itu dibaca oleh banyak orang. Anak itu jadi terasah kemampuan kreativitas dan imajinasinya. Luar biasa, bukan? 

Miss Yenny

Intinya, anak-anak perlu diperkenalkan dengan teknologi setelah usia di atas 2 tahun ya, Bu. Itupun hanya untuk belajar, bukan sekadar main game atau menonton You Tube. Penggunaannya juga jangan berlebihan. Apa pun yang berlebihan tentu tidak baik. Gunakan teknologi untuk mengasah bakat dan minat anak kita.

Kamis, 19 Mei 2016

Playdate Staedtler: Saat Ibu dan Anak Berkreasi dengan Warna

Assalamu'alaikum. Hari Sabtu lalu, 14 Mei saya mengikuti event Playdate Staedtler di Twin House, Kemang. Acara yang sangat menarik untuk para ibu dan anak. Sebagai ibu, tentunya kita ingin terus merangsang kreativitas anak melalui aktivitas menyenangkan, di antaranya menggambar dan mewarnai. Anak-anak saya suka sekali menggambar, tapi tidak  begitu suka mewarnai. Capek, katanya. Nah, kita lihat ya, apakah sepulangnya mereka dari acara Playdate Staedtler ini, mereka jadi suka mewarnai? 


Acara dimulai jam 10, berhubung jalannya lancar jaya maka saya sekeluarga sampai di lokasi jam 9.30. Panitia masih sedang siap-siap. Acara diadakan di lapangan berumput. Untungnya banyak pohon besar di sekitar, jadi adem deh. Anak-anak langsung menghambur ke lapangan yang sudah ditutupi oleh alas. Di atasnya ada banyak mainan. Howaaa... gimana anak-anak nggak hepi? Semua mainan yang mereka sukai, ada di sana. Bongkar pasang, brick, peralatan menggambar dan mewarnai. Saya juga mendapatkan goodiebag yang isinya wah sekali, pas untuk bekal anak-anak merangsang kreativitas. Alat tulis dan mewarnai dari Stadtler! Alhamdulillah.

Undangannya cantik, penuh warnaaa....
Goodiebag Staedtler untuk bekal kreatif

Saat kami sedang menemani anak-anak sekaligus foto-foto, panitia dengan ramahnya mengajak kami mengobrol terutama tentang aktivitas ngeblog yang dilakukan sambil mengasuh anak-anak. Jam 10.30, para undangan berdatangan, acara pun dimulai dengan santai. Duduk lesehan, dibuka oleh MC dan pembicara dari @haloibu. Kami saling berbagi mengenai aktivitas merangsang kreativitas anak yang dilakukan di rumah, juga bagaimana caranya ibu momblogger ini tetap  ngeblog di tengah kesibukan rumah tangga dan anak-anak. Semua peserta ditanya satu per satu. Rasanya jadi akrab sekali, meskipun banyak yang baru bertemu. Saya juga kebagian ditanya.

Obrol santai bersama Tim @HaloIbu dan Staedtler
Kesimpulannya, rata-rata ibu menulis di blog pada malam hari ketika anak-anak sudah tidur atau siang hari saat sedang sekolah. Pekerjaan rumah tangga didaftar menurut skala prioritas. Yang penting urusan anak-anak dulu, pekerjaan rumah tangga bisa menyusul. Begitu juga dengan saya.  Para momblogger ini mencari ide-ide kreasi permainan anak dan keterampilan di internet, terutama situs-situs milik momblogger luar negeri. Mereka itu kreatif-kreatif sekali. Berbagai barang bekas bisa dimodifikasi menjadi mainan anak. Tak hanya murah, tetapi juga merangsang kreativitas dan imajinasi anak. Anak-anak saya pun senang sekali memodifikasi barang-barang bekas, sampai rumah berantakan tak karuan.

Seru dan Ramai acara Playdate Staedtler

Anak-anak saya paling senang menggambar. Mereka menggambar di mana saja: kertas, tembok rumah, kardus susu, dan lain-lain. Sayangnya, mereka kurang suka mewarnai. Sampai kemudian panitia membagikan wadah mewarnai yang terdiri atas: Papercraft, Kertas Kanvas, dan Tas Blacu. Wow, kalau di atas wadah yang berbeda, anak-anak jadi bersemangat. Sidiq asyik mewarnai di atas Papercraft bergambar Brick, yang kemudian digunting dan dibentuk menjadi Brick 3D. Salim dan Ismail mewarnai di atas Tas Blacu.
Sidiq asyik mewarnai Papercraft
Cantiknya Papercraft setelah diwarnai
Mewarnai Tas Blacu

Ajaibnya, Pensil Mewarnai Luna dari Staedtler menghasilkan warna seperti lukisan. Caranya, warnai gambar, lalu celupkan kuas ke air, dan goreskan kuas ke gambar yang telah diwarnai. Kuas ini sudah ada di dalam Pensil Mewarnai Luna dari Staedtler yang bisa dibeli di toko-toko buku mana saja. Tentunya, aktivitas mewarnai ini tidak hanya untuk anak-anak, lho. Bagi anak usia balita, bisa menjadi media pembelajaran dan pengenalan warna. Sedangkan bagi orang dewasa, bisa melepas stres. Nah, ibu-ibu kalau sedang stres, boleh juga dicoba mewarnai gambar-gambar "Colouring Adult" yang bukunya juga marak dijual di toko buku. 

Pulang dari acara, Sidiq semangat sekali menggambar dan mewarnai di atas Kanvas. Mula-mula kanvas digambar dulu dengan Pensil Warna Staedtler, kemudian dibasahi dengan kuas basah. Hasilnya? Benar-benar seperti lukisan! Sekarang mereka jadi senang mewarnai. Memang ya, jadi ibu itu harus kreativitas mencari hal-hal yang disukai anak. Terima kasih, Staedtler, sudah menyediakan keperluan mewarnai dan alat tulis lainnya untuk anak-anak. Mau dapat ide-ide kreatif lainnya? Ikuti saja media sosial Staedtler dan Pensil Warna Luna di Instagram dan Twitter @StaedtlerID dan Fanspage Luna Kreatif. 


Senin, 02 Mei 2016

Belajar Berdagang di Market Day

Assalamu'alaikum. Akhirnya saya bisa cerita lagi kegiatan anak-anak yang sudah lewat beberapa waktu lalu. Maklum, mamanya nggak selalu bisa update blog, jadi cerita udah kapan, baru sempat dipublish. Ini pertama kalinya anak-anak ikut market day. Saya lupa dulu waktu Ismail kelas 1 apakah ada juga. Tahun ini, ada kegiatan Market Day di sekolah Ismail dan Sidiq, di mana anak-anak diajak belajar berdagang. Nggak semua anak, sih. Saya mau coba-coba, jadi saya daftar. 


Jujur, saya itu paling nggak bisa berdagang. Berdagang itu butuh keberanian dan mental yang kuat. Saya pernah ngerasain dagang di bazar, nungguin dagangan nggak laku-laku. Dilihat orang yang lalu lalang. Aduh, nggak enak ya rasanya hehe.... Makanya, saya lebih senang nulis daripada berdagang. Nah, di acara Market Day ini, saya ingin anak-anak mengasah keberanian itu. Bagaimanapun, keahlian berdagang itu memang harus kita kuasai. Rasulullah Saw sendiri sudah berdagang sedari kecil. Di acara Market Day ini, dagangnya nggak serius sih. Ibu-ibu yang mau berdagang hanya diperbolehkan membawa maksimal 10 produk. Keuntungannya pun hanya maksimal Rp 200/ produk. Kalau mau dagang beneran ya di luar Market Day hehe..... 

Kerajinan Tangan karya anak-anak SD

Kreatif yaa.. ini karya anak-anak SD
Setiap anak disuruh dibekali uang Rp 20.000 untuk berbelanja. Hanya di hari itu saja. Kalau hari biasa sih anak-anak saya hanya membawa uang jajan Rp 7.000. Sidiq pinter deh, minta uangnya Rp 50.000. Dikira bisa membohongi mamanya yeee... Mamanya kan sudah dikasihtahu ustazah-ustazah agar uang jajan anak-anak maksimal 20 ribu. Uang segitu ludes lho, anak-anak memang jago belanja yaaa.... Saya kira anak-anak beli makanan, ternyata Sidiq beli kerajinan tangan gede banget yang dibuat dari kardus dibentuk akuarium. Hadeeeh... Bikin sendiri kan bisa, Nak. Ya anggap aja bantu temen hehehe....

Tadinya saya daftar mau jualan donat yang unik. Mendekati hari H, saya malah pusing. Apa saya bisa bikin donat? Suami malah nyuruh saya beli aja donatnya, trus digambar sendiri. Tapi, cokelat hiasnya kan mahal. Itu donat mau dihargai berapaaa? Untungnya, nama saya dicoret karena yang jualan donat sudah banyak. Saya langsung kepikiran jualan jus! Kan gampang, tinggal dijus. Saya pilih jus buah naga, karena belum ada yang mendaftarkan. Memang produk jualannya nggak boleh ada yang sama. Eh, ternyata susah ya dapetin buah naga di tempat saya. Harus ke supermarket. Kalau jalan ke pasar sih ada, tapi nggak sempat ke pasar. Saya nggak punya SIM dan di pasar itu sering ada polisi wkwkwk.... 

Sudah banyak yang bikin donat :D

Saya titip ke suami eh dia belinya di Swalayan. Yah, harganya mahaaal... Kalau di pasar cuma Rp 5.000/ buah. Itu mah Rp 14.000/ buah. Aduh, gimana menekan harganya supaya nggak mahal? Belum gelas plastik, gula, dan airnya. Ah, nggak usah mikirin keuntungan deh. Namanya juga belajar dagang. Pagi hari, saya blender buah naga bersama gula dan air. Untungnya buah naga itu warnanya pekat banget. Jadi, kalau kebanyakan airnya pun tetap merah warnanya hehe.... Setelah itu saya bingung bagaimana membawanya? Alhamdulillah, ada galon isi lima liter bekas beli air Kangen Water. Eh, ternyata jusnya lebih dari lima liter. Jadi bisa sisa dan diminum sendiri. 

Jus Buah Naga buatan Mama :D

Harga gelas plastik isi 50 buah hanya Rp 11.000 lho. Jadi, per gelas itu Rp 220. Sampai di sekolah sudah agak terlambat. Saya memang sengaja datang agak terlambat. Jadwalnya jam 7 tapi masih upacara pembukaan. Saya datang jam 8. Tadinya bingung mau jualan di mana, stannya sudah penuh. Kebagian tempat sedikit. Saya bawa 15 gelas. Jusnya dituang di tempat. Eh, ternyata hasilnya hanya dapat 8 gelas! Salah prediksi, booo.... Harga per gelasnya Rp 3.000. Masih untung kok sedikit. Dengan modal Rp 17.000 dan total penjualan Rp 24.000. Jadi untung Rp 7.000. Nggak disangka, ya? 

Tadinya saya was-was jus naga ini nggak laku. Saya khawatir anak-anak nggak suka buah. Anak-anak saya aja nggak doyan jus buah naga. Alhamdulillah, baru juga dituangin jusnya, anak-anak sudah berebutan mau beli. Belum sempat dinilai juri, jus naganya hanya sisa 3 gelas. Anak-anak yang mau beli sempat dilarang beli dulu karena belum penjurian. Gimana? Menang, nggak? Yang menang sih kelas yang  jualan barang-barang kerajinan kreatif. Nggak apa-apa, yang penting udah belajar berdagang dan rasanya... enaaaak lhooo.... 

Salim nggak sabar beli mainan dari barang bekas :D

Pulang dari Market Day, Sidiq menyerahkan uang hasil jualannya ke saya dengan senyum cerah mempesona. Ismail malah protes, kenapa dia nggak disuruh jualan juga? Nanti yaaa... Tahun depan kalau ada lagi. Mamanya juga ketagihan jualan nih, hihihi....

Kamis, 07 April 2016

Kiat Membantu Anak Mandiri oleh Ibu Elly Risman

"Bu, bikinin susu...." seorang anak usia SD meminta tolong kepada ibunya untuk membuatkan susu. Ketika ibunya hendak berdiri, anak lainnya ikut meminta tolong. "Aku juga bikinin ya, Bu...." Sang Ibu menghentikan langkah sambil mengerutkan dahi, "Kalau kamu bikin sendiri, dong...." Si anak perempuan yang sudah berusia belasan tahun dan duduk di bangku SMP itu memajukan bibirnya, "Yah.... Ibu... Masa adek dibikinin, aku enggak? Bikinin, ah...." Mungkin karena tidak mau berdebat dengan anaknya di tengah orang banyak, sang ibu mengalah dan melangkahkan kaki ke dispenser untuk membuatkan dua gelas susu. 


Saya melirik sebal ke arah anak perempuan yang asyik memainkan smartphonenya. Bahkan, saat dia menyuruh ibunya tadi, matanya tidak lepas dari smartphone. Enak sekali menyuruh ibunya seolah-olah ibunya itu seorang  pramusaji. Ibunya juga sih, mau-maunya disuruh. Peristiwa itu terjadi saat saya sedang mengikuti liburan bersama teman-teman kantor suami di sebuah villa di Puncak. Saya ingat, sewaktu berusia sama seperti gadis itu, saya malah kebagian mencuci pakaian seluruh keluarga. Almarhumah ibu saya membagi-bagi pekerjaan. Saya kebagian mencuci baju, adik-adik saya ada yang kebagian menyapu dan mengepel lantai, memasak, dan sebagainya. Rasa-rasanya saya tidak ingat pernah menyuruh ibu saya membuatkan susu, ketika saya sudah bisa melakukannya sendiri. Mau ditempeleng? Dulu memang rasanya seperti kejam, saya harus mencuci pakaian seluruh keluarga. Mana pakai tangan, belum ada mesin cuci. Sekarang, saya mendapatkan manfaatnya. Saya bisa menghargai orang tua. 

Ternyata menjadi orang tua itu memang butuh belajar. Tidak mudah lho mendidik anak agar mandiri. Itulah sebabnya saya senang sekali ketika menang kuis di twitter, berhadiah tiket seminar Modern Mama 2016 "Raising Children who Think for Themselves" yang diadakan oleh The Urban Mama di Gedung AXA Tower Lantai 36F Kuningan City Jl. Prof. Dr. Satrio, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 2 April 2016. Pembicaranya adalah Ibu Elly Risman, MPsi mengenai Kiat Membantu Anak Mandiri dan Adhitya Mulya mengenai Helicopter Parenting. Dua pembicara yang keren sekali, nih. Sayang untuk dilewatkan. 

Urusan membantu anak mandiri ini masih menjadi PR besar buat saya, karena ketiga anak saya masih usia di bawah 10 tahun dan masih sangat bergantung kepada saya. Untuk urusan mandi, pakai baju, dan makan sih mereka sudah bisa sendiri. Tapi itu lho... kalau mau berangkat ke sekolah, buku-bukunya masih harus disiapkan oleh saya. Urusan ibadah seperti salat pun masih harus didorong-dorong. Kemudian, masih perlu diberitahu untuk buang sampah pada tempatnya. Pekerjaan rumah tangga yang luar biasa banyaknya, akan semakin memberatkan ketika anak-anak masih belum mandiri untuk hal-hal yang sebenarnya sudah bisa mereka lakukan sendiri. 

Pagi hari, jam 6.30, saya sudah berkendara menuju stasiun kereta. Sampai di lokasi jam 8 kurang. Alhamdulillah. Jam 8.30, Adhitya Mulya, penulis buku "Sabtu bersama Bapak" yang best seller itu, membawakan tema "Helicopter Parenting." Apa itu Helicopter Parenting, yaitu suatu keadaan di mana orangtua terlalu dominan dan protektif terhadap anaknya sehingga tidak mau anaknya menghadapi konflik dan kesulitan-kesulitan dalam hidup. Orangtua berusaha membereskan semua konflik dan menghilangkan semua kesulitan dari jalan anaknya. Kang Adit, demikian beliau disapa, memberikan contoh-contoh dominasi orangtuanya. Misalnya, ada orangtua di sebuah TK yang meminta guru agar memundurkan jam masuk sekolah supaya anaknya sempat sarapan. "Anak saya baru bangun jam 1/2 8. Kalau masuknya jam segitu, nanti dia nggak sempat sarapan. Kan kasihan...."

Adhitya Mulya
Ada lagi kasus ketika anaknya berkelahi dengan teman sekolahnya, eh orangtuanya ikut ribut. Yang paling umum saat anak kalah lomba, orangtua marah-marah menyalahkan wasitnya. Mengapa terjadi hal-hal demikian? Karena orangtua kurang siap menerima kemungkinan bahwa metode parentingnya harus diperbaiki. Orangtua merasa sudah menjadi orangtua yang sempurna. Akibatnya, sampai anaknya dewasa pun, orangtua terus mengatur anaknya agar menjadi seperti keinginan orangtuanya. Lalu, bagaimana seharusnya? JANGAN membantu anak menyelesaikan konfliknya, tetapi AJARKAN anak menyelesaikan konfliknya sendiri.  Contoh kasus yang pertama. Ya, memang kasihan kalau anaknya belum sempat sarapan. Tapi, bukan berarti orangtua bisa mengatur jam masuk sekolah (memangnya yang sekolah anaknya saja). Yang benar, orangtua harus membangunkan anaknya lebih cepat  supaya dia sempat sarapan. 

Anak-anak yang terlalu dilindungi oleh orangtuanya, kelak akan menjadi anak yang lemah mentalnya. Tidak kuat menghadapi persaingan hidup. Selama ada di bawah ketiak orangtuanya, ya dia memang akan terlindungi. Akan tetapi, orangtua harus ingat bahwa kelak anaknya akan sendirian mengatasi kesulitan-kesulitannya. Sudah banyak contohnya anak-anak yang dulunya terlalu dilindungi orangtua, ketika dewasa menjadi orang yang suka menyalahkan orang lain karena dia terbiasa tidak ditunjukkan kesalahannya. Hal kecil saja, ikut lomba kalah, yang disalahkan wasitnya. Kelak, anak itu ketika melakukan kesalahan, yang disalahkan orang lain. 

Namun, jika sudah bersentuhan dengan tindakan kriminal, orangtua HARUS melindungi anaknya. Misalnya, jika anaknya mendapatkan perundungan (bullying) dari temannya, orangtua harus ikut menyelesaikan masalah itu. Jangan dibiarkan saja karena akan menimbulkan trauma pada anaknya. Sesi berikutnya Ibu Elly Risman yang membawakan tema "Kiat Membantu Anak Mandiri." Bu Elly ini pakar parenting yang sudah ternama. Siapa yang belum kenal, hayoo....? Alhamdulillah, saya diberi kesempatan mendengarkan langsung paparannya. Bu Elly datang dengan semangat tinggi dan terlihat sekali keharuannya mendapati masih banyak orangtua yang peduli terhadap pengasuhan anak. 
Ibu Elly Risman

Bu Elly sudah banyak menangani anak-anak bermasalah akibat salah asuh. Beliau memulai cerita mengenai pengalaman saat menjadi asisten di sebuah Day Care di Amerika. Anak-anak di luar negeri sudah dilatih mandiri sejak usia 1 tahun, lho! Ada anak yang ke toilet sendiri untuk buang air kecil, lalu kesulitan menutup celananya. Bu Elly ingin membantu, tapi anak itu menolak. "I'm not a baby!" serunya.... Tahu nggak berapa usia anak itu? DUA TAHUN! Huhu.. anak bungsu saya berusia 3 tahun dan masih dibantu buang air kecil, hehehe.... Ya itulah yang masih harus dikejar di Indonesia. Anak-anak Indonesia masih belum dilatih mandiri sejak kecil. Contohnya seperti di atas. Sudah SMP masih minta dibuatkan susu oleh ibunya. Anak perempuan pula! 

Sesi Bu Elly ini cukup panjang, dan banyak sekali ilmu berharga yang dipaparkan. Bu Elly memulainya dengan survey mengenai siapa penanggung jawab pengasuhan anak Anda? Ternyata sebagian besar hasil survey yang sudah dilakukan adalah Pembantu dan Nenek! Ibu dan ayahnya bekerja. Pembantu dan Nenek bukanlah orang yang tepat untuk mengajarkan kemandirian kepada anak. Mereka lebih sering membantu anak agar tugas cepat selesai. Anak punya kekuasaan kepada pembantu. Pembantu juga sungkan kepada anak majikannya. Di mana bisa melatih kemandirian anak kalau apa-apa dibantu pembantu? Nenek punya kecenderungan menyayangi cucunya, sehingga membolehkan cucunya melakukan apa saja. Ini pengalaman saya ketika anak-anak menghabiskan liburan sekolah di rumah neneknya. Neneknya menyuruh anak-anak saya supaya mandi, tetapi anak-anak saya malas mandi. Apa yang dilakukan Nenek? "Oh ya sudah, tidak usah mandi." Hadeuuh... untung nggak sering-sering menginap di rumah Nenek, bisa-bisa anak-anak saya nggak pernah mandi hehehehe.....

Siapa yang harus mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab kepada anak? ORANGTUA. Guru memang membantu orangtua di sekolah, tetapi guru hanya fokus pada kurikulum akademik. Tetap saja kuncinya adalah orangtua. Orangtua bukan hanya IBU, tetapi juga AYAH. Pengalaman saya, sosok ayah itu disegani oleh anak-anak (padahal saya paling galak lho, tapi anak-anak takutnya sama ayahnya hehe). Entah mengapa, kalau ayahnya menyuruh walaupun hanya satu kali, anak-anak langsung bergerak. Misal, "Ayo, solat!" Anak-anak segera bangkit dari duduknya, ambil wudhu, dan salat. Lah, kalau ibunya yang nyuruh? Biar sudah sepuluh kali disuruh, masih saja duduk santai. Hm, gimana nggak melotot, coba? Heran, saya juga bingung.

Jadi, kehadiran seorang AYAH itu sangat penting! Dudukkan Ayah sebagai pemimpin. Ibu, jangan sekali-sekali mengambil kedudukan ayah, kecuali bila ayahnya sudah tiada. Kepemimpinan ayah jangan sampai lemah. Sudah banyak kasus di mana ayahnya kurang berperan, akibatnya anak-anak terlibat seks bebas, narkoba, dan sebagainya. Ingat, anak-anak itu bukan milik kita. Anak-anak itu amanah dari Allah. Anak adalah anugerah dan setiap anugerah itu pasti diuji. Jadi, tidak ada itu anak yang baik dengan sendirinya. Setiap anak pasti akan menguji orangtuanya. Untuk mengajarkan kemandirian kepada anak, dibutuhkan PEMBIASAAN. Tidak sekali jadi. Harus diulang terus-menerus. Sabar, Bu.... Ketika anak sudah bisa melakukan apa yang kita contohkan, berikan penghargaan. Ibu Elly memberikan contoh-contoh kemandirian sesuai usia anak. 

Jam 12.30 siang,, Bu Elly mengakhiri sesinya. Dilanjutkan dengan istirahat, solat, dan makan. Berhubung saya masih ada acara lain, jadi saya melewatkan sesi tanya jawab bersama Ibu Elly. Lagipula, Sidiq yang ikut seminar ini juga sudah rewel minta pulang hehehe... Terima kasih, The Urban Mama, untuk acaranya yang sangat bermanfaat. Mudah-mudahan bisa konsisten saya praktekkan. Aamiin...

Mama dan Sidiq







Selasa, 22 Maret 2016

Anakku ABG, Bagaimana Menghadapinya?

"Kita bukan orangtua sempurna, tetapi cintai anak kita dengan sempurna."

Itu adalah kalimat terakhir yang disampaikan oleh Ibu Rani Razak Noe'man, dalam Workshop Kampung Keluarga bertajuk "Anakku Beranjak ABG" Hari Sabtu, 19 Maret 2016 di Gedung Pers Indonesia, Jalan Kebon Sirih, Gambir, Jakarta Pusat. Di akhir acara, air mata saya dibuat berderai-derai melihat video tentang hubungan Ayah dan Anak yang kurang baik, si ayah suka marah-marah sampai anaknya minggat, tetapi kemudian diakhiri dengan adegan dramatis yang membuat si anak menyadari bahwa cinta sang ayah kepadanya sangatlah besar. Hiks, jadi ingat ayah sendiri. 


Alhamdulillah sekali, saya merasa sangat beruntung datang ke acara ini. Sarat ilmu yang sayang dilewatkan. Anak-anak saya memang belum ABG, yang paling  besar umurnya baru delapan tahun. Eh, tapi tidak lama lagi mereka memasuki usia ABG. Menurut Ibu Rani, anak-anak sekarang lebih cepat dewasa. Usia 10 tahun, sudah dapat menstruasi! Tugas orangtualah untuk memperlambat proses kedewasaan itu, biarkan berjalan secara alami. Mengapa? Karena proses pubertas yang terlalu cepat itu diakibatkan oleh faktor lingkungan. Sedangkan secara sosiologis, baik itu pola pikir, emosi, tanggung jawab, visi, seorang anak belumlah dewasa. Jika terjadi kesenjangan yang sangat besar, akibatnya ya yang sekarang ini banyak terjadi. Orang yang dewasa dari segi umur, tetapi perilakunya masih kekanak-kanakan. Itu karena mereka dipaksa untuk cepat dewasa oleh tontonan dan sebagainya.

Acara dibuka dengan menonton video
Indonesia ini masih belum memiliki tontonan yang baik untuk anak-anak, serta hukum yang tegas untuk melindungi anak-anak. Lihat saja berita-berita mengerikan yang beredar, banyak anak yang menjadi korban kejahatan seksual orang dewasa. Sebenarnya sama saja menjadi orangtua zaman dulu dengan zaman sekarang. Sama-sama susah. Bedanya, zaman sekarang lebih sulit karena adanya kemajuan teknologi. Sulitnya kita sudah membentengi anak dari pornografi, eh anak-anak bisa dengan mudah mendapatkannya dari internet. Dan ternyata, mengasuh anak remaja itu LEBIH SULIT daripada anak kecil. Banyak orangtua yang gagap, tidak tahu cara menghadapi anak ABG-nya. Apalagi dengan adanya perbedaan zaman. Misalnya, zaman saya dulu belum ada handphone apalagi smartphone. Zaman sekarang? 

Peserta diajak mengisi hal-hal yang diinginkan semasa remaja dan yang disebali dari orangtua

Belum lagi, banyak orangtua yang memiliki dendam positif. Ingin anaknya mewujudkan mimpi orangtua, padahal anak-anak punya mimpi sendiri. Nah ini nih yang sering memicu konflik orangtua dan anak. Kalau anak punya mimpi dan cita-cita yang berbeda dari yang lain, orangtua sudah ketakutan. Ibu Rani mencontohkan anak keduanya yang pernah ingin jadi tukang pijat. Orangtua mana yang mau anaknya menjadi tukang pijat, coba? Tetapi, Ibu Rani tidak serta merta melarang. Dibiarkan anaknya mengikuti keinginanya itu sampai kemudian menemukan bahwa dia tidak serius ingin jadi tukang pijat. 

Ketika anak sudah remaja, banyak orangtua yang juga berpikir bahwa tugasnya sudah selesai. Anak sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Orangtua pun sibuk mencari kegiatan lain. Ingin eksis, misalnya. Tanpa disadari, orangtua kehilangan waktu bersama anak. Padahal, anak-anak masih membutuhkan orangtua. Akhirnya, anak-anak mencari tempat curhat yang lain. So, jadilah sahabat anak. Walaupun anak sudah remaja, orangtua ya jangan jadi cuek bebek gitu. Ibu Rani mengajak peserta untuk menuliskan hal-hal yang diinginkan sewaktu remaja dan hal-hal yang tidak disukai dari orangtua. Wuiih.. jadi nostalgia nih. Ternyata, apa yang dulu kita inginkan di masa remaja itu sama kok dengan yang diinginkan anak-anak kita di masa remajanya. Kalau kita tidak ingin anak-anak membenci kita, ya jangan lakukan hal-hal yang dulu kita sebali dari orangtua. 

Usia remaja itu dimulai dari 12 tahun sampai 18 tahun. Usia 15 tahun itu puncak kegalauan. Permasalahannya ada tiga: Materialisme, Keluarga, dan Sekolah. Anak-anak di zaman sekarang makin berat tantangannya, karena materialisme semakin kuat mencengkeram. Ibu Rani memutarkan berita mengenai anak-anak yang terlihat seks komersial demi UANG! Anak-anak SMP menjajakan tubuhnya demi mendapatkan uang beberapa ratus ribu! Mengerikan, ya? Tragisnya, anak-anak modern mendapatkan alternatif pengganti keluarga atau orangtua, diantaranya: Televisi, Pembantu, Teman Sebaya. Atas nama kesibukan, orangtua yang sebenarnya justru hanya punya sedikit waktu untuk anak-anak. 

Satu lagi pesan yang membekas di hati saya, "Apa pun yang terjadi, anak-anak itu dititipkan kepada KITA (orangtuanya), bukan kepada siapa pun (Televisi, Pembantu, Kakek-Nenek, apalagi Teman Sebaya)." 

Sekolah, bukanlah tempat untuk menitipkan anak-anak. Orangtua tetaplah pendidik pertama. Ibu Rani menyarankan, anak usia 6-17 tahun hendaknya tetap bersama orangtuanya. Jangan dulu disekolahkan full day atau pesantren. Sekolah sekarang ini hanya mementingkan kurikulum akademik, bukan pengembangan kedewasaan anak. Orangtualah yang mestinya membimbing anak menghadapi kedewasaan. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa keluarga yang berfungsi dengan baik mampu menjadi  benteng pertahanan yang kuat bagi anak  dalam menghadapi  nilai-nilai negatif yang datang dari luar. 

Ibu Rani Razak Noe'man

Bagaimana solusinya? Pendidikan agama, sudah tentu menjadi solusi pertama. Hubungan seks itu pada dasarnya tidak ada aturannya. Orang bebas mau melakukan hubungan seks sesama jenis, seks dengan binatang, seks sendirian, dan sebagainya. Lalu, siapa yang membatasi? Ya, hukum agama. Jadi anak-anak harus didekatkan dengan agama, bukan sekadar ritual. Terlebih di zaman sekarang ini di mana kaum liberal begitu kuatnya mencengkeram anak-anak. Menanamkan paham hak asasi manusia yang kebablasan. Hubungan sesama jenis dianggap hal biasa dan NORMAL. Ibu Rani pun memutar sekilas video sesama lelaki yang berciuman. Video itu apabila terus diputar dan ditanamkan di dalam otak anak akan menimbulkan pemikiran bahwa hubungan sesama jenis itu normal. Di Australia, sudah banyak orangtua yang mengeluarkan anaknya dari sekolah umum karena sudah diberlakukan pelajaran bahwa hubungan sesama jenis itu normal. Bayangkan kalau itu terjadi di Indonesia? 

Kedua, bangun kedewasaannya. Anak harus diajak menetapkan tujuan utamanya, sehingga dia mengabaikan hal-hal kecil yang remeh temeh. Misalnya, tanyakan apa cita-cita anak. Ingin jadi dokter? Berarti dia harus sekolah yang tinggi. Ketika anak ingin berpacaran, orangtua bisa mengingatkan anak terhadap cita-citanya itu. "Kan kamu ingin jadi dokter? Kalau pacaran, nanti perhatianmu terbagi." Nanti anak akan berpikir lagi. Mau pacaran atau serius kuliah dulu? Gityu... 

Ketiga, ajarkan nilai-nilai universal. Orangtua harus mau mendengarkan anak. Kalau anak curhat, orangtua jangan marah atau menasihati dulu. Cukup didengarkan saja. Jadilah sahabat yang baik untuk anak. Berikan kebebasan, tapi harus bertanggungjawab. Bantu anak meraih mimpinya, jangan belum-belum sudah melarang. Apa pun mimpi anak, selama itu baik, orangtua hanya berperan untuk mengarahkan. Bukan memaksa anak mewujudkan mimpi orangtua. 

Isi goodiebag

Tak terasa, waktu tiga jam pun berakhir. Rasanya masih belum cukup, apalagi Ibu Rani sangat asyik membawakan workshop yang interaktif ini. Beberapa kali peserta diajak mengikuti games yang berkaitan dengan tema. Alhamdulillah, saya menang lomba live tweet juga dan mendapatkan tambahan pashmina dari Move Inc Hijab. Sebelumnya, saya sudah dapat pashmina juga di goodiebagnya. Cantik-cantik deh pashminanya. Kudapan dari Dapur Bugis juga enak banget. Daaan.. ada voucher Rp 500.000 dari Optik A. Kasoem Cikini. Uhuuui... saya bisa ganti kacamata, deh. Terima kasih untuk semua sponsor. Ilmu dapat, hadiah juga dapat. Tentu saja saya juga berterima kasih kepada Blogger Reporter yang sudah memfasilitasi kedatangan saya ke acara ini.



Acara ini dipersembahkan oleh:
Kampung Keluarga (Twitter, Instagram @KampungKeluarga, Fanspage: Kampung Keluarga)
Move Inc Hijab (Instagram @move.inc.hijab)
Kayva Hijab Clothing (Twitter @kayvastyle, Instagram @kayva_style, Fanspage: Kayva)
Dapur Bugis (Instagram @dapurbugis)
Marsh Indo (Instagram @marsh.indo)
The Urban Mama (Twitter @theurbanmama, Instagram @the_urbanmama, Fasnpage the urban mama)
Optik A. Kasoem (Twitter @kasoemoptik, Instagram @a.kasoem), Fanspage: Optikal A. Kasoem Cikini) 
Viva.co.id


Selasa, 15 Maret 2016

Ketika si Kecil Berkacamata

kacamata anak
Ayah dan anak berkacamata
Assalamu'alaikum.... Dulu pernah saya menulis artikel di blog ini yang berjudul "Menjaga Kesehatan Mata Anak Sejak Dini." Gara-garanya, Sidiq mengalami gangguan penglihatan. Setelah diperiksa ke Dokter Mata, ternyata matanya sudah minus 0,5! Huhu.... Padahal, Sidiq kan mau jadi Tentara. Ada nggak ya tentara yang pakai kacamata? Memang, ini salah saya juga sih dulu nggak telaten kasih sayur ke Sidiq. Sidiq nggak suka sayur. Sekarang setelah divonis minus, dia mulai suka makan wortel.


Dokter bilang, coba tunggu sebulan. Kalau masih belum sembuh minusnya, baru deh datang lagi dan dikasih kacamata. Ternyata setelah sebulan diobatin pakai tetes mata dari Dokter, mata Sidiq masih minus 0,5. Alhasil, ayahnya pun membelikan kacamata. Saya nggak ikut pas belinya, tapi kata ayahnya, itu kacamata pilihan Sidiq sendiri. Warnanya lucu, campuran hijau dan oranye.

Kacamata anak itu rupanya ringan sekali, baik lensa maupun gagangnya. Ada talinya juga yang dimasukkan ke leher, sehingga kacamata nggak jatuh walaupun anak berlari-larian. Sidiq nggak mau pakai talinya. Tadinya Sidiq semangat mau pakai kacamata ke sekolah. Begitu tiba harinya berangkat ke sekolah, eh dia mogok. Malu, katanya.... 

Kami pun berusaha membujuk Sidiq supaya mau memakai kacamata ke sekolah. Macam-macam penjelasannya, terutama supaya dia nggak susah lagi melihat ke papan tulis. Saya jelaskan  bahwa pakai kacamata itu nggak perlu malu. Saya dan ayahnya pun berkacamata. Jangan-jangan Sidiq berkacamata karena genetis hehe.... Teman-teman nggak akan ada yang nanyain. Ternyata benar, setelah Sidiq berangkat ke sekolah pakai kacamata, nggak ada satu pun temannya yang tanya-tanya. Mungkin karena mereka masih kelas 1 SD ya. Guru-gurunya pun nggak bertanya. Sst... bagi anak kecil, mencoba hal yang baru dan mendapat pertanyaan itu membuat malu. 

kacamata anak
Berangkat ke sekolah memakai kacamata

Sekarang Sidiq selalu pakai kacamata saat berangkat ke sekolah. Kadang-kadang sih ketinggalan karena lupa. Dia mengaku matanya jadi lebih jelas. Belajar membacanya pun sudah lebih lancar. Alhamdulillaah... Ini berkat datang ke even Sun Life Edu Fair 2016, di mana saat itu Psikolognya bercerita. Kalau anak mengalami kesulitan belajar, siapa tahu matanya mengalami gangguan dan harus pakai kacamata. Jadi, ibu-ibu, kalau anaknya lambat belajar, coba perhatikan di kelasnya, barangkali dia kesulitan melihat ke papan tulis.