Kamis, 03 Maret 2016

Salim Berbagi Morinaga Chil-Go! di PAUD Bina Insani Bogor



Halooo… tanggal 23 Februari lalu, akhirnya Salim berbagi Morinaga Chil-Go! di PAUD Bina Insani Tajur Halang, Bogor. Persiapannya bisa dibaca di sini ya: Persiapan Salim Berbagi bersama Morinaga Chil-Go! Memangnya ada acara apa sih kok Salim mau bagi-bagi susu cair pertumbuhan Morinaga Chil-Go!? Tidak perlu ada acara apa-apa untuk berbagi. Ulang tahun Salim sudah lewat tanggal 20 September lalu. Tujuan Salim berbagi hanyalah untuk mensyukuri pemberian Allah Swt, karena sejak lepas ASI, Salim masih bisa minum susu. Susunya yang bergizi tinggi dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak Generasi Platinum: susu cair Morinaga Chil-Go!


Alasan Salim minum susu Morinaga Chil-Go!:

  • Mengandung sinergi nutrisi yang tepat, bukan saja untuk mendukung kecerdasan majemuk anak tetapi juga memberikan pertahanan tubuh ganda. Nutrisi untuk kecerdasan Multi Talenta anak di dalam Morinaga Chil-Go!  diantaranya: Kolim dan Inositol yang berperan dalam penyimpanan memori, kemampuan berpikir, berbicara dan gerakan sadar, Vitamin B Kompleks, Zat Besi, dan Yodium yang merupkan vitamin dan mineral yang berperan penting pada sistem saraf dan konsentrasi anak. Sedangkan nutrisi untuk pertahanan tubuh ganda yang terkandung dalam susu Morinaga Chil-Go! dapat melindungi tubuh anak dari ancaman penyakit, diantaranya: Inulin (1000 mg) merupakan Prebiotik (makanan bagi bakteri baik) dan serat pangan yang dapat membantu kesehatan saluran cerna anak, Zinc yang akan membantu meningkatkan sistem imunitas tubuh anak, Kalsium untuk pembentukan tulang dan gigi, serta Vitamin A, C, dan E yang melindungi sel-sel tubuh agar dapat berfungsi dengan baik.
  • Siap Minum, Morinaga Chil-Go! adalah susu anak siap minum. Jadi, Mama tidak usah repot-repot menyeduh air dan menuangkan ke gelas. Kemasan botol plastiknya juga kuat dan tidak mudah bocor sekalipun terjatuh dari genggaman tangan anak.
  • Praktis dibawa ke mana-mana. Susu cair pertumbuhan Morinaga Chil-Go! seperti namanya: Chil Go! Chil on The Go, bisa dibawa ke mana saja: sekolah, piknik, bermain, berenang, dan lain-lain. Mama tidak usah susah-susah  bawa termos untuk menyeduh susu bubuk dan meracik susu dalam suasana yang sedang repot, seperti di perjalanan. Cukup bawa saja susu Morinaga Chil-Go! yang bisa dikonsumsi anak umur 1-12 tahun. Praktis, bukan?
  • Dapat dijadikan isi goodiebag, misalnya untuk acara ulangtahun anak, syukuran khitanan atau kenaikan kelas, pesta keluarga, dan sebagainya. Biasanya di dalam kemasan goodiebag disertakan minuman instan ataupun susu. Daripada memberikan minuman instan yang mengandung pemanis dan pengawet buatan, lebih baik berikan susu cair Morinaga Chil-Go! agar anak sehat dan tidak mudah sakit. 



Nah, kali ini Salim ingin membagi-bagi susu cair Morinaga Chil-Go! ke teman-teman di PAUD Bina Insani, Tajurhalang, Bogor. Salim sendiri masih belum sekolah. Siapa tahu nanti Salim sekolah di PAUD Bina Insani juga kalau umurnya sudah cukup. Sekarang umur Salim baru 3 tahun, jadi masih sekolah dengan Mama di rumah. Pagi-pagi Salim bangun dan langsung mandi, karena Salim akan berangkat ke PAUD Bina Insani bersama Mama jam 8. Teman-teman di PAUD Bina Insani itu masuk sekolahnya jam 8 dan pulang jam 10. Salim tidak boleh terlambat nih, supaya bisa membagikan susu Morinaga Chil-Go! Sayangnya, Mama yang terlambat karena masih sibuk urusan rumah. Jadi deh berangkatnya jam 8.30. 

PAUD Bina Insani itu cukup jauh dari rumah Salim, jadi Mama harus membawa motor. Kardus yang berisi susu cair Morinaga Chil-Go! disiapkan di depan pintu. Salim foto dulu sebelum ditaruh Mama di motor. Salim tidak keberatan membagi susunya ke teman-teman PAUD, insya Allah dengan berbagi susu nanti Salim  bisa dapat susu yang lebih banyak lagi. Aamiin….  Setiap kebaikan yang kita lakukan, niscaya akan kembali kepada kita juga. Jika hari ini kita melakukan kebaikan untuk orang lain, kelak kita akan mendapatkan kebaikan dari orang lain dengan jalan yang tak disangka-sangka. Siapa bilang kita tidak membutuhkan bantuan orang lain? Dalam hidup, kita akan selalu membutuhkan bantuan orang lain. 

Perjalanan ke PAUD memakan waktu 30 menit. Sampai di sana, teman-teman PAUD sedang beristirahat tapi belum makan bersama. Ada yang sedang bermain, ada yang masih membaca. Beberapa ibu juga terlihat sedang menunggui anak-anaknya. Mereka antusias melihat Salim membawa kardus berisi susu Morinaga Chil-Go! Ibu kepala sekolah pun datang menghampiri, kemudian anak-anak diajak berbaris di depan kelas untuk menerima pembagian susu. Huwaaa… anak-anak senang sekali mendapatkan susu cair Morinaga Chil-Go! sebagai tambahan makanan di saat istirahat! 

Foto-foto keseruan anak-anak saat menerima susu cair Morinaga Chil-Go! bisa dilihat di bawah ini yaa….






Ibu-ibunya tak mau kalah. Mereka penasaran. Susu apa sih yang dibagikan ke anak-anak? Berikut ini pertanyaan yang mereka lontarkan:
Susunya bisa dibeli di mana?
Mama menjawab: susunya bisa dibeli di minimarket, supermarket, dan hypermarket. Kalau mau lebih mudah, bisa pesan secara online lho di www.kalbestore.com. Banyak promo menariknya, lho dan bisa dapat point yang ditukar dengan aneka hadiah. Untuk lebih mudahnya bisa bergabung dengan Kalbe Family, sehingga kita dapat memesan Morinaga Chil-Go! melalui Kalbe Home Delivery di nomor 500880. Morinaga Chil-Go! akan diantar ke rumah kita tanpa biaya tambahan. 

Susunya satu merk ya dengan Morinaga Chil-Kid?
Wah, ternyata di antara teman kita di PAUD Bina Insani ini ada yang minum susu bubuk Morinaga Chil-Kid! Iya, benar, Morinaga Chil-Go! ini satu merk dengan Chil-Kid, tapi kalau Morinaga Chil-Go! bentuknya susu cair yang siap minum dan praktis. Bisa diminum kapan saja. Susu Morinaga Chil-Go! merupakan inovasi baru dari Morinaga, hadir sebagai pendamping dari susu Morinaga Chil-Kid dan Morinaga Chil-School.  Morinaga Chil-Go! diproduksi oleh Morinaga Reasearch Centre dari Kalbe Nutritionals.  Kalbe Nutritionals dirintis sejak tahun 1982 dengan nama PT. Sanghiang Perkasa, tapi lebih dikenal sebagai Health Foods Division dari PT. Kalbe Farma Tbk, perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia. Terbukti telah menghasilkan produk-produk makanan kesehatan berkualitas dan mendapatkan sertifikasi ISO 9001: 2000 pada tahun 2002, sertifikasi HACCP (Hazard Analysis Critical Point pada tahun 2002, PT. Sanghiang Perkasa mendapatkan penghargaan Enseval Awards: Best Customer Focus pada tahun 2004, dan sertifikasi ISO 14000 pada tahun 2003.


Harganya berapa?
Harganya cukup terjangkau. Rata-rata di beberapa toko kurang lebih Rp 5.000/ botol. Yang penting kandungan gizinya itu lho, komplit! 

Alhamdulillah, semua teman di PAUD Bina Insani Tajur Halang Bogor sudah kebagian susu Morinaga Chil-Go! dan mereka senang lho minumnya sampai ada yang minta lagi. Salim mau pulang ya, karena teman-teman akan meneruskan belajarnya. Insya Allah Salim akan masuk PAUD juga tahun depan. Semoga teman-teman di PAUD Bina Insani dapat menjadi anak Generasi Platinum yang cerdas dan kuat!

Rabu, 02 Maret 2016

Persiapan Salim Berbagi bersama Morinaga Chil-Go!



Persiapan Pertama: Cerita tentang Berbagi

Cara mudah untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai pentingnya berbagi adalah dengan bercerita, karena dapat disajikan dalam bentuk hiburan yang disukai oleh anak-anak. 

Memiliki tiga anak laki-laki dengan jarak usia yang berdekatan itu seperti memiliki tiga anak kembar. Kalau membeli sesuatu, harus sama semua. Kalau tidak sama, dijamin nantinya akan ada yang bertengkar dan berebut meskipun semuanya sudah dibelikan. Misalnya, pernah saya membelikan mainan kereta untuk Salim, sedangkan kakak-kakaknya dibelikan mainan bongkar pasang. Melihat kakak-kakaknya bermain bongkar pasang, Salim jadi tidak tertarik dengan mainan keretanya. Dia meminta mainan kakak-kakaknya, tetapi yang diincarnya adalah mainan Sidiq. Sudah tentu permintaannya itu ditolak. 


“Salim kan udah punya mainan sendiri!” seru Sidiq.
Salim bersikukuh mengambil mainan kakaknya sehingga terjadilah tarik menarik yang berakhir dengan pecahnya tangisan si bungsu. Kalau sudah begitu, Salim berlari ke arah saya dan meminta bantuan.
“Kakak Sidiq, ayo dong pinjemin dulu mainannya ke Salim,” pinta saya.
“Salim kan udah punya mainan sendiri! Nggak boleh!” Sidiq menyahut.
“Iya, Salim kan udah punya mainan sendiri. Kita main punya Salim aja, ya?” Saya berusaha membujuk Salim, tetapi Salim masih terus menangis dan bersikeras meminta mainan kakaknya.
“Kakak Sidiq, ayo pinjemin dulu sebentar…. Kita kan tidak boleh pelit,” Saya kembali membujuk Sidiq dan Sidiq masih dengan pendiriannya. “Kalau begitu, kita bermain boneka sayur saja yaa….” Saya mengambil beberapa boneka sayur dari kayu yan ada di tumpukan mainan. Salim suka sekali memainkan boneka itu. 


Begini ceritanya….

Suatu hari, Sayur Timun bertandang ke rumah Sayur Tomat. Timun melihat Tomat sedang memainkan mainan boneka Minion. Timun ingin ikut bermain bersama Tomat.
Timun: “Hai, Tomat, bolehkah aku meminjam boneka minionmu?”
Tomat: “Apa? Pinjam? Beli, dong…! Tidak boleh! Kamu tidak boleh meminjam mainanku!”
Timun: “Huh, Tomat pelit deh. Ya sudah, aku mau pulang lagi.”

Keesokan harinya, gantian Tomat yang sedang berjalan melewati rumah Timun, melihat Timun sedang bermain boneka Dinosaurus.
Tomat: “Wah, sepertinya mainan Timun lebih bagus daripada punyaku. Aku mau pinjam ah….”
Timun: “Mau apa kamu ke sini, Tomat?”
Tomat: “Aku mau pinjam mainanmu. Boleh, kan?”
Timun: “Tidak boleh! Kemarin kamu tidak membolehkan aku meminjam mainanmu. Sekarang pun aku tidak mau meminjam mainanku.”
Tomat: “Kamu kok gitu? Kamu pelit!”
Timun: “Kamu yang pelit!” 




Keduanya bertengkar, hingga muncullah Ibu Cabe. Ibu Cabe menasihati keduanya.

Cabe: “Hayo, kalian bertengkar karena apa?”
Setelah mendapatkan penjelasan dari Timun dan Tomat, Ibu Cabe mengeluarkan dua botol susu Morinaga Chil-Go!
Cabe: “Ini, kalian minum dulu ya susunya. Ibu kasih susu ini, karena dengan berbagi kita akan menjadi lebih bahagia.”
Timun: “Hah? Masa sih Bu kalau kita berbagi jadi lebih bahagia?”
Cabe: “Iya dong, kan kalian jadi tidak bertengkar. Itu salah satu kebahagiaan. Kalian bisa meminum susu dan bermain bersama-sama. Lebih enak bermain bersama-sama daripada sendirian, kan?”
Timun dan Tomat mengangguk-angguk. Keduanya pun bersalaman dan saling meminjamkan mainan. Mereka bermain-main dengan gembira dan bahagia sambil meminum susu Morinaga Chil-Go!



Setelah melihat pertunjukan Timun, Cabe, dan Tomat, Sidiq dan Salim pun bisa bermain bersama-sama sambil meminum susu Morinaga Chil-Go! Anak-anak dengan cepat melupakan pertengkaran mereka, seperti tidak ada peristiwa itu sebelumnya. 

Memang butuh waktu untuk memahamkan anak-anak tentang berbagi.  Jangankan anak-anak, orang dewasa pun masih banyak yang tidak mau berbagi. Bahkan ada orang yang suka merampas dan menguasai hak orang lain. Mumpung mereka masih kecil, beri pengertian dan contoh yang terus menerus, insya Allah mereka akan terbiasa berbagi dan tidak hanya mementingkan kebutuhannya sendiri.  Saya jadi terpikir ingin menanamkan konsep berbagi ini lebih banyak lagi kepada anak-anak, dimulai dari membagi sesuatu yang mereka sukai. Apa itu? Susu Morinaga Chil-Go! Persiapan pertama saya sudah sukses, yaitu menyiapkan mental anak-anak untuk  berbagi melalui cerita tentang berbagi. 

Mengapa bercerita? Ini ada beberapa alasan mengapa bercerita itu menjadi metode mendidik anak yang terbaik pada usianya:

  • Lebih mudah menanamkan budi pekerti kepada anak, karena lebih mudah dicerna. Seperti cerita tentang berbagi di atas. Orangtua dapat memasukkan contoh, teladan, dan alasan mengapa harus berbagi dengan cara yang asyik dan menyenangkan. Tanpa harus mengomeli dan memarahi anak.
  • Memberi contoh cara menyelesaikan konflik secara baik, berbicara yang baik, dan memberi pelajaran mengelola sifat negatif di dalam diri kita. Ternyata kalau kita tidak mau berbagi, suatu ketika nanti orang lain pun tidak mau berbagi kepada kita. 
  • Mendekatkan hubungan orangtua dan anak, di mana orangtua mau bermain bersama anak sambil memasukkan nilai-nilai edukasi. Tak sekadar menyuruh, memerintah, dan mengomeli yang akan menimbulkan dampak negative terhadap psikis anak.
  • Sarana edukasi yang menyenangkan bagi anak. Anak-anak senang melihat dan mendengarkan cerita, apalagi jika disertai boneka tangan. Mereka  tertawa-tawa melihat boneka itu berbicara dengan suara dan gerakan yang lucu.
  • Memenuhi kebutuhan imajinasi dan rekreasi anak-anak. Pada periode emas, anak-anak sedang mengembangkan daya imajinasinya. Mereka senang berkhayal dan membayangkan sesuatu. Kita dapat mengarahkan kebutuhan imajinasinya itu melalui cara yang positif. Anak-anak juga mendapatkan hiburan dengan cerita-cerita yang menyenangkan. Untuk anak yang belum bersekolah, setiap harinya pasti bosan berada di rumah terus. Ibu bisa menghibur anak melalui bercerita.

Saya rasa masih banyak lagi manfaat bercerita bagi anak. Jadi, kalau kita kesulitan memberikan pengertian kepada anak-anak, coba deh dengan cara bercerita. 

Persiapan Kedua: Berbagi kepada Anak Tetangga

Berbagi itu dimulai dari yang sedikit. Walaupun sedikit, bila dilakukan dengan konsisten akan memupuk sikap mental dan kepribadian anak yang mau berbagi. 

Saat sedang asyik bermain bertiga, tiba-tiba Salim melihat Moses lewat di depan rumah. Moses adalah anak tetangga di sebelah rumah. Salim langsung memanggilnya.

“Soses! Soses!”
Moses berhenti di depan pagar. Salim segera menghampiri dan mengajak Moses main ke dalam rumah. “Yuk, main, Soses… Main, yuk….”
Moses mengikuti Salim masuk ke dalam rumah. Mereka asyik bermain, sampai kemudian Salim minta susu Morinaga Chil-Go! lagi. Di rumah, saya memang menyetok susu Morinaga Chil-Go! berkardus-kardus.
“Ayo, inget nggak cerita Mama tadi? Moses dikasih juga ya susunya?” kata saya. 


Salim pun memberikan sebotol susu Morinaga Chil-Go! kepada Moses dan Moses kelihatan senang sekali. Mereka kembali bermain setelah minum susu, sampai jam menunjukkan pukul 5 sore. Artinya, Moses sudah harus pulang. Ajaib! Ketika Moses hendak pulang, Sidiq memberikan sebotol susu lagi kepada Moses tanpa saya suruh!

“Nih, Moses, bawa lagi susunya, ya…” kata Sidiq. 

Alhamdulillaaah, anak-anak cepat menangkap teladan yang diberikan sebelumnya. Mereka tidak takut susunya jadi habis karena dibagi. Berarti persiapan saya untuk membagi-bagi susu Morinaga Chil-Go! sudah oke. Yaitu mempersiapkan mental anak-anak agar mau membagi susu Morinaga Chil-Go! Rencananya, saya mau membagi-bagi susu Morinaga Chil-Go!kepada anak-anak di kampung Bulak, kampung yang berada di dekat komplek perumahan saya. Di sana ada seorang teman yang memiliki PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Tadinya saya berpikir, kira-kira anak-anak rela tidak ya susunya dibagi-bagi ke teman-teman mereka di Kampung Bulak? 

Hm, soalnya mereka suka sekali minum susu Morinaga Chil-Go! Susu cair pertumbuhan dengan Prebiotik Inulin 1000 mg untuk Generasi Platinum.  Baca deh Lima Aktivitas Seru Tiga Jagoan bersama Morinaga Chil-Go! Ismail, Sidiq, dan Salim beraktivitas dengan semangat dan ceria ditemani susu cair Morinaga Chil-Go! yang memiliki tiga varian rasa: Vanilla, Cokelat, dan Strawberry. Ketiganya disukai anak-anak, meskipun yang paling cepat habis yang rasa Cokelat.  


Sebagai orangtua, memilih susu cair Morinaga Chil-Go! sebagai teman belajar dan bermain anak-anak adalah pilihan yang tepat karena Morinaga Chil-Go! memiliki  empat keunggulan:

Formula Platinum
Morinaga Chil-Go! mengandung sinergi nutrisi tepat untuk mendukung pertumbuhan Si Kecil menjadi Generasi Platinum Multi Talenta yang cerdas dan tidak gampang sakit. Formula Platinumnya akan membantu anak menghadapi tantangan hidup yang semakin keras dan tajam, di mana tidak hanya dibutuhkan kecerdasan otak, tetapi juga fisik dan mental. 

Kecerdasan Multi Talenta
Morinaga Chil-Go! mendukung Periode Emas otak Si Kecil, terutama fungsi Kognitif yang masih berlangsung hingga usia 12 tahun. Susu ini bisa diminum untuk anak usia 1-12 tahun. Setiap anak memiliki kecerdasan dominan, tetapi mereka tetap harus menguasai kecerdasan lainnya untuk mendukung kecerdasan dominannya. Itulah yang disebut dengan kecerdasan Multi Talenta. Ada banyak tipe kercerdasan dari para ahli. Menurut Dr. Howard Gardner (Psikolog), ada delapan tipe kecerdasan yaitu: Linguistik, Logik Matematik, Visual dan Spasial, Musik, Interpersonal, Intrapersonal, Kinestetik, dan Naturalis. 

Namun, apa yang disebutkan oleh Dr. Howard Gardner itu hanyalah kecerdasan dalam bentuk intelektual atau Intelligence Quotient. Kita banyak mendengar cerita orang-orang yang cerdas tetapi gagal dalam hidupnya karena stress dan frustasi. Karena itulah kemudian dimunculkan perlunya Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient) dan Spiritual (Spiritual Quotient) untuk melengkapi Kecerdasan Intelektual agar anak-anak semakin kuat dan tangguh dalam mengarungi terjalnya kehidupan. 

Penanaman pemahaman mengenai berbagi ini menjadi sarana untuk mengasah kecerdasan emosional dan spiritual anak. Secara emosi, anak-anak diajak untuk berempati kepada orang lain dengan memberikan sesuatu yang disukainya, mengalahkan nafsu pribadi, mengembangkan hubungan sosial anak yang kelak akan bermanfaat di dalam bermasyarakat. Sebab, anak-anak nantinya akan menjadi orang dewasa yang akan membutuhkan orang lain. Sehingga mereka harus mampu mengendalikan sikap egois (ingin menang sendiri atau mementingkan kebutuhannya sendiri) dengan senantiasa berbagi.

Rupanya, menurut penelitian para ahli, melakukan kebaikan dan berbagi kepada sesama ini menimbulkan efek positif bagi kesehatan fisik dan jiwa. James Andreoni pada tahun 1989 menjelaskan efek ini dengan sebutan “Warm Glow Effect” atau Efek Cahaya Pemberi, yang mana dengan memberi, beramal, dan berbagi akan menimbulkan rasa hangat di dalam jiwa atau rasa bahagia di hati. Otak akan melepaskan hormone endorphin yang memproduksi perasaan positif, dopamine yang memberikan perasaan bahagia, dan Oxytocin yang mengurangi stress dan meningkatkan kekebalan tubuh, ketika kita melakukan aktivitas berbagi (sumber). Wow, luar biasa, yaah efek dari berbagi ini. 

Secara spiritual, di dalam ajaran agama apa pun pasti ada perintah untuk berbagi kepada sesama. Di dalam agama Islam yang saya anut, perintah itu ada dalam beberapa ayat Al Quran dan Hadist Nabi. Salah satunya, “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya akan memperoleh pahala yang besar.” (QS: Al Hadiid: 7).

Sebagai orang yang beriman, saya ingin nantinya anak-anak pun terbiasa untuk berbagi bukan hanya untuk mendapatkan pahala dari Allah melainkan untuk menyehatkan fisik dan jiwa mereka pula. Sebab, kecerdasan intelektual saja tidaklah cukup. Perlu didukung pula dengan kecerdasan emosional dan spiritual. 

Pertahanan Tubuh Ganda
Cerdas saja tidak cukup. Pada usia dini, anak-anak rentan terkena penyakit. Morinaga Chil-Go! dilengkapi dengan nutrisi penunjang daya tahan tubuh anak, yaitu:

  • Prebiotik Inulin 1000 mg, merupakan Prebiotik (makanan bagi bakteri baik) dan serat pangan untuk membantu kesehatan saluran cerna anak.

  • Zinc, membantu meningkatkan sistem imunitas tubuh.

  • Tinggi Kalsium, untuk pembentukan tulang dan gigi.

  • Vitamin A, C, dan E melindungi sel tubuh agar dapat berfungsi dengan baik. 


Inovasi Unggulan
Susu cair Morinaga Chil-Go! adalah produk inovasi unggulan terbaru dari Kalbe dan Morinaga dalam bentuk susu cair siap minum, sehingga dapat dibawa ke mana-mana. Bagi orangtua yang menghendaki kepraktisan karena sibuk jika harus membuat susu sendiri, berikan saja susu cair ini. Dibuat oleh Morinaga Research Centre yang senantiasa menciptakan produk-produk berkualitas. Kalbe Nutritionals dirintis sejak tahun 1982 dengan nama PT. Sanghiang Perkasa, tapi lebih dikenal sebagai Health Foods Division dari PT. Kalbe Farma Tbk, perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia. Terbukti telah menghasilkan produk-produk makanan kesehatan berkualitas dan mendapatkan sertifikasi ISO 9001: 2000 pada tahun 2002, sertifikasi HACCP (Hazard Analysis Critical Point pada tahun 2002, PT. Sanghiang Perkasa mendapatkan penghargaan Enseval Awards: Best Customer Focus pada tahun 2004, dan sertifikasi ISO 14000 pada tahun 2003.


Persiapan Ketiga: Menghubungi Pemilik PAUD BINA INSANI
Seorang teman saya di pengajian memiliki PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)  dan TPA (Taman Pendidikan Al Quran) di rumahnya. Kesempatan bagi saya untuk lebih jauh lagi mengajari konsep berbagi kepada anak-anak dengan membagi-bagikan susu cair Morinaga Chil-Go! kepada anak-anak murid teman saya. Saya menghubungi teman saya melalui Whatsapp dan ternyata dia menyambut dengan baik sekali rencana saya membagikan susu cair Morinaga Chil-Go! ini. Kami pun membuat janji kapan saya akan datang ke PAUD. Rupanya saya bisa datang kapan saja, sesuai jam belajar anak-anak, yaitu dari jam 8 sampai 10 pagi. 

Tadinya saya mau membagikan di TPA (Taman Pendidikan Al Quran), tetapi jam belajarnya setelah Magrib. Akhirnya saya pilih membagikan di PAUD, agar suasananya lebih cerah dan ceria. 

Persiapan Keempat: Menjelaskan kepada Anak-anak tentang Rencana Berbagi bersama Morinaga Chil-Go!

Di rumah ada enam kardus susu cair Morinaga Chil-Go! Wih, banyak yah… Iya, karena anak saya ada tiga dan ketiganya masih minum susu, jadi harus menyetok banyak. Saya kasih tahu ke anak-anak bahwa sebagian dari susu itu akan dibawa ke PAUD untuk dibagi-bagikan. Jadi jangan dihabiskan semuanya. Alhamdulillah, anak-anak sudah mengerti. Mereka dengan senang hati menyisihkan susu yang akan dibawa. 


Horeee… sekarang tinggal bersiap-siap membawa susu Morinaga Chil-Go! ke PAUD Bina Insani di Kampung Bulak, Nanggerang, Sasak Panjang, Bogor. Kamu juga mau ikut? Simak keseruan berbagi di PAUD dalam tulisan selanjutnya…. Baca di sini: Salim Berbagi Morinaga Chil-Go! di PAUD Bina Insani Bogor.

Kamis, 25 Februari 2016

Ajari Putrimu Berhijab karena Allah

Masih terngiang sepotong dialog antara saya dan almarhumah ibu saya, ketika saya memutuskan untuk mengenakan sepotong kain kerudung di bangku kelas tiga SMA. Ibu saya bertanya, 
"Apa kamu serius? Kalau sudah pakai jilbab, kamu tidak boleh melepasnya lagi. Kamu harus memakainya terus lho...." 
Saya menjawab dengan mantap, "Serius!" 
"Baiklah. Kalau kamu memang serius, nanti Mama buatkan seragam yang panjang, juga jilbab. Ingat ya, kamu tidak boleh melepasnya lagi. Tidak  boleh bongkar pasang."


Kalimat penegasan itu keluar dari mulut ibu saya, yang saat itu belum berjilbab. Ibu saya adalah anak seorang Kiai tersohor di kampungnya. Mbah Kakung adalah seorang Kiai sekaligus guru mengaji, bahkan pernah mengajari mengaji keluarga pejabat tinggi. Mbak Kakung setiap hari berpenampilan layaknya Kiai, dengan kopiah dan sarung. Salat tepat waktu berjamaah di Langgar (musala kecil). Mengajari anak-anak mengaji kitab kuning. Mengajari orang-orang dewasa menyelami kitab Allah. Akan tetapi, anak-anak perempuan Mbah Kung TIDAK MENGENAKAN HIJAB. 

Perubahan itu terjadi belasan tahun kemudian, ketika cucu-cucu Mbah Kung beranjak dewasa. Salah satunya, saya. Saya memakai hijab bukan karena disuruh oleh ibu, apalagi Mbah Kung. Saya memakai hijab dengan kesadaran sendiri. Saya mendapatkan petunjuk dari Allah. Sejak kecil, saya sudah membaca buku-buku. Saat sedang memilih komik di toko buku, saya malah tersasar di rak buku-buku agama dan menemukan buku kecil yang berisi panduan untuk muslimah. Saya rasa, Allah telah menggerakkan tangan saya untuk mengambil buku itu dan membawanya pulang. Entah mengapa, saya menikmati membaca tulisan-tulisan di dalam buku itu. Padahal, saya seorang penggemar komik, tapi mengapa saya malah membaca buku agama? Saya suka membaca komik-komik Jepang, seharusnya saya eneg (mual) membaca buku agama. 

Tubuh saya bergetar, jantung saya berdebar. Hanya deretan kata-kata dari penulis buku itu telah membuat kesadaran saya bangkit. Penulisnya menerangkan kewajiban berhijab bagi setiap muslimah, disertai dalil ayat dan hadisnya. Saat itu, di sekolah saya hanya ada satu dua siswi yang berhijab. Itupun karena mereka lulusan Madrasah Tsanawiyah. Pokoknya, setelah membaca buku itu, keinginan saya begitu kuat untuk berhijab. Hingga tibalah hari itu, SAYA INGIN BERHIJAB.

Ibu saya tidak berhijab.
Tante saya tidak berhijab,
Bahkan, Mbah Putri yang telah meninggal pun tidak berhijab.
Mbah Kakung yang seorang Kiai tidak pernah menyuruhku berhijab.
Tapi, mengapa saya berhijab? 
Saya yakin, Allah yang telah menunjukkan jalan kepada saya. Saya pun berhijab, meskipun teman-teman di sekolahku ngeri melihat saya. Ada yang mengatai saya "culun" karena pakai hijab. Ada yang mengejek saya "ninja." Semua ejekan itu masih saya ingat jelas.

Beberapa tahun kemudian, saya melihat telah banyak muslimah yang mengenakan hijab. Meskipun masih ada yang suka menyinyir menganggap hijab sebagai ARABISASI, alhamdulillah Allah masih menguatkan keteguhan saya mengenakan kain penutup kepala ini. Jujur, selama berhijab itu, kadang-kadang saya ingin melepasnya. Kadang-kadang saya ingin menunjukkan rambut yang baru dicreambath, kadang-kadang saya ingin memakai kalung dan anting untuk bisa dilihat orang (tentunya saya harus lepas hijab), kadang-kadang saya ingin memakai pakaian yang tidak menutup aurat (lengan pendek), dan sebagainya. Tak heran jika teman saya yang lebih dulu berhijab mendoakan supaya istiqomah, ketika saya pertama kali mengenakan hijab.

ISTIQOMAH. Konsisten. Berkelanjutan. Dalam hal hijab, artinya bisa terus berhijab sampai kapan pun. Tidak akan melepas hijab di hadapan non mahram.  Sebab, memakai hijab itu ternyata bukan sekadar memakai penutup kepala. Memakai hijab adalah ujian keimanan. Buktinya, banyak orang yang tadinya berhijab, dari orang biasa sampai pesohor, tiba-tiba melepas hijabnya karena berbagai alasan. Hijab itu bukan pakaian biasa. Bukan pakaian yang besok kita pakai, kemudian kita lepas lagi. Hijab adalah pakaian takwa. Wajib dipakai setiap muslimah di hadapan non mahram. Pakaian yang menjadi sarana ibadah kepada Allah. 

Dahulu sekali, ada seorang pesohor yang sempat  saya kagumi karena berhijab di saat tidak banyak artis yang berhijab. Apalagi dia bergelut di bidang musik. Dia juga sudah pernah diwawancarai beberapa majalah Islam. Sayang, tak lama setelah terkenal dengan hijabnya, dia malah lepas hijab. Sampai sekarang Allah belum memberinya hidayah lagi. Ketika diwawancarai mengapa melepas hijabnya, ternyata dia kecewa dengan ayahnya. Ayahnyalah yang menyuruhnya memakai hijab, tapi kemudian ayahnya berpoligami. Dia kecewa karena ayahnya telah mengkhianati ibunya. Untuk membalas ayahnya, dia melepas hijab. 

Ada lagi kisah seorang pesohor yang melepas hijab karena merasa hijab bukanlah dirinya. Hijab tidak merepresentasikan dirinya. Ibunyalah yang menyuruhnya berhijab. Lalu, dia kecewa dengan perceraian ibunya. Setelah belasan tahun berhijab, dia melepasnya dengan alasan HIJAB BUKANLAH IDENTITASNYA. Banyak orang yang kecewa, karena kehadirannya di depan publik telah sangat membanggakan muslimah. Ini lho ada muslimah berhijab yang berprestasi luar biasa. Sayang, kebanggaan itu tidak berlangsung lama. Allah mencabut hidayah dari dirinya. 

Lalu, ada pula seorang artis yang sudah sangat terkenal, sebut saja inisialnya M, juga melepas hijab beberapa saat setelah bercerai dari suaminya. Orangtua M juga dulunya bercerai. Saya pernah menulis di blog mengenai hijab artis M ini, yang menyatakan bahwa saya bangga karena dia telah berhijab. Apa yang terjadi? Kebanggaan itu hanya sesaat. 

Ada juga seorang penulis buku islami yang melepas hijabnya, justru setelah bercerai dari suaminya. Bertahun-tahun dia mengenakan hijab, bahkan sudah berdakwah ke mana-mana, tapi mengapa kemudian dia melepas hijab dan mengenakan pakaian seksi? Dan ironisnya, orangtuanya juga bercerai. Saya tak ingin berspekulasi mengenai mengapa dia melepas hijabnya, tetapi ada yang perlu diambil pelajaran dari setiap kejadian di atas.

Banyak ibu yang berbondong-bondong memakaikan hijab kepada putrinya sejak mereka masih bayi, tetapi apakah ibu-ibu sudah membekali pengetahuan UNTUK APA dan MENGAPA putrinya harus berhijab? Sudahkah ibu-ibu mendekatkan putrinya kepada Allah? Sudahkah ibu-ibu mengajak putrinya mencintai Allah? Yang lucu, saya pernah menemukan kejadian di angkot. Seorang ibu yang tidak berhijab, memaksa putrinya mengenakan hijab. Memang lucu sih anak kecil dikasih hijab. Putrinya yang berumur lima  tahun itu menolak. Si ibu memaksa terus. Putrinya terus menolak, sampai akhirnya putrinya berkata, "Ibu juga nggak pakai jilbab.. kok aku harus pakai?" 

Nyesss.... saya yang mendengar percakapan itu ikut bergetar hati saya. Jangan dikira anak-anak yang masih kecil itu tak mengerti. Ibunya tidak berhijab, mengapa si kecil harus berhijab? Dari keempat kasus di atas, mengapa mereka datang dari keluarga broken home? Tentu saya tidak ingin menyamakan bahwa semua keluarga broken home itu bermasalah, tetapi perlu juga dipertimbangkan adanya keguncangan psikologis pada anak-anak yang orangtuanya bercerai. Itu yang harus diperhatikan oleh orangtua yang memilih bercerai atau bapak yang hendak berpoligami. Pikirkan anak-anakmu. Sudahkah mereka beribadah karena Allah dan bukan karena orangtuanya? 

Apakah anak-anak berhijab karena menaati orangtua atau karena Allah? Jika anak-anak berhijab karena perintah orangtua, maka tunggu saja ketika orangtua terkena masalah. Anak-anak merasa kecewa dan melepaskan segala hal yang mengingatkan mereka kepada orangtuanya. Salah satunya, hijab. Bergantung kepada manusia atau melakukan sesuatu karena manusia, hanya akan membuatmu kecewa. Sama halnya bila berhijab karena diperintah suami. Ketika suami melakukan kesalahan besar, kita pun melepas hijab. Intinya, ketika beribadah, niatkan semua karena Allah. Begitu pula ketika mengajari anak untuk menaati perintah Allah. Tanamkan kecintaan di dalam diri anak-anak kepada Allah. 

Rasa cinta itu sulit diterjemahkan dengan kata-kata. Bila seseorang sudah mencintai sesuatu, apa pun yang terjadi, dia akan tetap cinta. Bukan begitu? Misalnya, jika kita sudah mencintai Allah. Saat diberikan ujian seberat apa pun, kita akan bertahan karena kita cinta. Bagaimana bisa mencintai Allah? Itu datang dari perenungan yang dalam. Kontemplasi. Menghitung-hitung pemberian-Nya. Menadabburi firman-Nya. Bergaul dengan orang-orang saleh yang juga mencintai Allah. Tanamkan selalu di dalam hati bahwa saya berhijab karena Allah. Bukan karena manusia. Insya Allah dengan sendirinya akan timbul rasa malu. Bila kita akan melepas hijab, kita malu karena Allah memperhatikan. 

Bagaimana mengajari anak-anak mencintai Allah? Orangtuanya juga harus mencintai Allah. Orangtua juga harus selalu melibatkan Allah dalam pengasuhan. Doakan anak-anak agar selalu berada di jalan yang lurus. Ada atau tidak adanya orangtua, anak-anak tetap mendapatkan petunjuk dari Allah. Anak-anak saya memang masih kecil, jadi belum bisa dijadikan contoh. Saya tidak tahu bagaimana anak-anak saya nanti ke depannya. Saya hanya mendoakan dan mengarahkannya. Akan tetapi, saya belajar dari orangtua saya dulu. Ibu saya tidak berhijab, tetapi ibu saya tak pernah lepas mendoakan saya beserta anak-anak yang  lain. Satu demi satu, putri-putri ibu saya pun berhijab. Saat itulah ibu saya merasa malu. Kalau sedang berjalan-jalan, masa anak-anaknya pakai hijab, ibunya tidak? 

Di usia 40 tahun-an, ibu saya mengenakan hijab justru setelah semua anaknya berhijab.  Ya, doa. Itulah kekuatan seorang ibu. Ibu saya selalu khusyuk berdoa untuk kebaikan putri-putrinya sehingga alhamdulillah kami masih menaati perintah Allah sampai hari ini. Semoga kami bisa istiqomah selalu agar ibu kami tetap tersenyum di dalam kuburnya. Aamiin...

Postingan ini diikutsertakan dalam giveaway #DareToShare - http://www.unidzalika.com/2015/12/haruskah-saya-membuka-hijab.html

http://www.unidzalika.com/2015/12/daretoshare-kenapa-sih-kamu-memutuskan.html?m=1






Sabtu, 20 Februari 2016

Tips Menghadapi Orang dengan Gangguan Jiwa Exhibisionis

Assalamu'alaikum. Coba perhatikan foto di samping itu baik-baik. Ada yang menarikkah? Itu adalah foto saat saya sedang membeli Hotdog di Pasar Ikan Santolo Garut. Saat memasuki pasar, kami langsung bertemu sesosok wanita yang sedang jongkok dengan pakaian lusuh (kaus kecokelatan). Sidiq, anak saya yang nomor dua, nyeletuk, "Mah, kok itu nggak pakai celana?" HAH! Siapa yang nggak pakai celana? Waduuuh... anak saya melihat pornoaksi nih! Segera saya tarik anak-anak agar menjauhi wanita itu, yang rupanya sudah memperhatikan kami. BAYANGKAN! Wanita itu mengikuti kami! Maunya saya sih segera menjauh, tapi anak-anak minta dibelikan Hotdog. Saat penjualnya membuatkan pesanan, wanita itu ikut mengantri bersama kami! 


Takut? Yap. Itu reaksi wajar, sebenarnya. Siapa yang nggak takut berhadapan dengan orang dengan gangguan jiwa? ODGJ atau Orang dengan Gangguan Jiwa adalah orang yang kehilangan kesadarannya sehingga bisa melakukan hal-hal di luar akan sehat. Contohnya, ya nggak pakai celana itu. Untung kausnya panjang. Coba kalau dia  benar-benar telanjang. Bisa tambah heboh deh anak-anak saya. Anak-anak sudah mengerti batasan aurat wanita dan laki-laki. Kalau mereka melihat wanita berpakaian seksi, mereka akan berkomentar. Nah, jadi hati-hati deh berpakaian seksi di hadapan anak-anak. Kasihan kan, di usia muda, otak mereka sudah terkotori oleh pikiran mesum. Kecuali ODGJ ya... mereka tidak punya kesadaran, jadi susah dikasihtahu kalau harus pakai baju lengkap. 

ODGJ itu terus memperhatikan kami yang sedang membeli Hotdog, sambil menjilati lidahnya. Mungkin dia lapar. Si penjual Hotdog memberikan sepotong roti, kemudian ODGJ itu pun pergi. Ah, kasihan.. pasti ada sesuatu yang membuat jiwanya terguncang hingga kehilangan kesadaran. Itu pengalaman terbaru saat berhadapan dengan ODGJ. Selama ini, alhamdulillah saya belum pernah mengalami hal-hal mengerikan saat berjumpa dengan ODGJ yang demikian. Ada teman yang dikejar ODGJ sampai menjerit-jerit. Kalau saya pilih menjauh. Mereka nggak akan mengganggu kalau kita sudah menjauh. Justru yang mengerikan itu adalah orang yang memiliki gangguan jiwa tapi tidak menyadarinya. Contohnya, EXHIBISIONIS. 

Saya pernah dua kali bertemu dengan pria exhibisionis.  Yang pertama, saya sedang duduk di angkot sendirian. Di depan ada supir, tapi penumpangnya baru saya saja. Tiba-tiba naik seorang laki-laki dan duduk di hadapan saya. Eh, dia membuka ritsleting celananya, daaaan.... dia memamerkan alat vitalnya dong. Kaget? Untungnya waktu itu saya tergolong lemot, alias telat mikir. Saya malah ngeliatin orang itu, lalu bingung nih orang ngapain sih? Mungkin orang itu kesal karena saya nggak menjerit-jerit ketakutan. Dia pun turun lagi dari angkot. Setelah itu, baru saya bergidik. Ealah.. tadi kan dia itu.... idiih.... Geli.... Mending cakep #eh. 

Yang kedua, saat saya sedang berjalan berdua dengan teman di sisi kampus (ini kejadiannya masih kuliah). Dari arah depan, ada laki-laki berjalan ke arah kami. Teman saya yang mula-mula melihat. Dia menjerit, "Aaah... itu orang buka retsleting celananyaa!" Dia pun menarik saya agar keluar dari jalan tersebut dan mengambil jalan lain. Yah, kami memang belum sempat melihat "barangnya," untung sudah diantisipasi sejak dini hehe.... 

Nah, pengalaman teman saya yang paling mengerikan. Pulang dari kantor, dia naik angkot dan duduk di pojok. Kemudian ada laki-laki yang naik dan langsung duduk di pojok. Angkot pun segera penuh karena jam pulang kantor. Di tengah perjalanan, laki-laki itu membuka celananya dan memainkan alat vitalnya DI DEPAN TEMAN SAYA! Teman saya menjerit ketakutan, dan tahu apa yang terjadi? Pria itu semakin kesenangan dan orgasme! Ih, jijiiiiik..... Teman saya sampai muntah melihat cairan sperma di depannya. Dia semakin menjerit dan menangis. Soalnya pas orgasme itu, penumpang sudah mulai sepi. Supir angkot pun mengusir pria itu, tapi tetap saja trauma yang dirasakan teman saya itu nggak bisa hilang. Sampai besoknya, teman saya masih nangis-nangis. 

Orang exhibisionis mungkin nggak sadar kalau dirinya terkena gangguan jiwa. Setelah saya baca-baca informasi, ternyata orang exhibisionis itu malah senang kalau korbannya menjerit-jerit ketakutan. Dia akan orgasme. Jadi, kalau ketemu orang seperti itu, mendingan bersikap seperti saya. Diam dan pura-pura nggak melihat. Dijamin tuh exhibisionis itu langsung balik, karena gagal membuat kita menjerit-jerit. Apa yang saya sebutkan ini sesuai dengan informasi yang saya baca di www.klikdokter.com yah.

Jadi, kalau bertemu dengan exhibisionis, ini yang perlu kita lakukan:
  • Tetap tenang, jangan berteriak, apalagi menjerit-jerit karena hal itulah yang diinginkan pelaku demi mendapatkan kepuasan seksualnya. 
  • Tunjukkan wajah datar, tidak terkesan, dan masa bodoh. Kalau perlu, tertawakan saja kelakuannya itu. Atau picingkan mata dengan sorot mata, "punya lu kecil yee...." Itu akan membuatnya jera. 

Bagi orang yang memiliki kecenderungan exhibisionis, lebih baik berkonsultasi pada psikiater atau dokter jiwa. 


Kamis, 18 Februari 2016

Bandung Love Story: Bandung Lautan Cinta

Sarapan dengan si Cinta di Hotel deJava, Bandung
Assalamu'alaikum. Bandung, siapa yang tak kenal kota itu? Apalagi sekarang bapak walikotanya ngehits banget yah.. selain ganteng, berwawasan, lucu pula. Saya bukan orang Bandung, tetapi Bandung memiliki kenangan yang akan terus melekat seumur hidup. Tentu saja, bagaimana tidak, saya bertemu suami dan ayah dari ketiga anak saya, ya di Bandung. Cuit.. cuit... memang betul deh, Kota Kembang itu telah membuat hati saya dipenuhi  banyak kembang. Padahal, saya baru dua kali ke Bandung. Bandingkan dengan Semarang, tempat di mana saya kuliah dan ngekos selama empat tahun. Boro-boro ketemu jodoh, patah hati iya hehehe....


Itulah, kita memang tidak tahu di mana dan kapan akan bertemu dengan jodoh kita. Di tempat yang kita diami bertahun-tahun atau malah di tempat yang baru kita datangi? Jauh sebelumnya, saat masih ngekos di Semarang, seorang teman satu kos pernah berharap berjodoh dengan ikhwan Bandung, lulusan ITB. Wuiih.. ketinggian nggak tuh? Ya, berharap sih boleh saja, walaupun jelas-jelas kami kuliah di Semarang, masa minta jodohnya orang Bandung? Entah bagaimana cara bertemunya. Saya sendiri tidak punya gambaran dari mana jodoh saya, yang penting laki-laki, muslim, dan mapan (wueitss... dasar matre!). 

Setelah lulus kuliah, saya bekerja di Depok. Lah, terus bagaimana bisa dapat jodoh orang  Bandung? Cerita masih berlanjut. Barangkali ada yang sudah bosan baca cerita saya ini, karena sudah beberapa kali saya ceritakan juga, tapi ini saya tulis ulang hehe... Saya juga menjalani proses perjodohan dengan orang Jakarta dan sekitarnya, tapi gagal semua. Kemudian, dalam suatu kesempatan, saya pergi ke Bandung untuk acara kepenulisan. Apakah di sana saya ketemu jodoh? Ya, enggak juga. Sabar... tenang dulu. Kali kedua ke Bandung, saya sekadar jalan-jalan saja akhir pekan bersama dua orang sahabat: Kania Ningsih dan Mbak Tary. Mereka ini adalah teman sewaktu saya kerja di majalah. Kania Ningsih bekerja di majalah yang sama dengan tempat saya kerja. Mbak Tary seorang penulis lepas, sekarang dia sudah menjadi penulis skenario televisi yang sukses.
Ayah dan tiga anaknya di Mall Paris Van Java, Bandung

Yah, bisa dibilang dulu kami sedang galau-galaunya dalam urusan jodoh dan pekerjaan. Gaji minimalis. Calon jodoh, nggak masuk list. Kami beberapa kali gagal dalam urusan jodoh. Sampai kemudian Kania yang pindah ke Bandung karena mau meneruskan kuliah, mengabarkan kalau dia sudah dapat jodoh! Apaaaa? Kami keduluan Kaniaa? Kania sudah dilamar dan dua bulan lagi akan menikah. Mbak Tary pun mengajak saya mengunjungi Kania di Bandung, sebelum Kania menikah dan menjalani dunia yang berbeda dengan kami, hiks.... 

Kami menginap di kos Kania, ngobrol-ngobrol cantik sebelum salah satu melepas masa lajang. Saya jadi tambah galau kalau ada teman yang mau menikah, sementara saya belum ada calon sama sekali. Hasil dari ngobrol-ngobrol itu, Kania memberikan formulir kontak jodoh yang tadinya mau dia pakai tapi nggak jadi. Dia menyuruh saya mengisinya, nanti dikirim lagi ke dia pakai Pos dan dia yang akan meneruskannya ke Ustaz yang mencarikan jodoh itu. Coba kalau teman-teman jadi saya, apakah teman-teman akan melakukan saran itu? Kalau saya sih, yes. Dua minggu setelah memikirkannya, apa salahnya saya isi formulir jodoh itu dan kirimkan ke Kania? Sebulan setelah formulir itu diserahkan Kania ke Ustaz yang dimaksud, saya mendapat telepon dari Ustaz tersebut dan disuruh ke Bandung karena calon lelaki yang mau menjadi suami saya sudah menunggu. 

Taman Kota Sukajadi, Bandung

WHAAAT?! Deg-deg.. saya berangkat lagi ke Bandung bareng Mbak Tary, karena dulu itu saya nggak berani bepergian jauh sendirian. Kami menginap lagi di rumah Kania. Saya datang agak telat karena calon suami saya itu sudah menunggu satu jam sebelumnya. Wajahnya agak bete pas melihat kami datang hahaha.... Wawancara berjalan mulus. Tiga hari kemudian, Ustaz kembali menghubungi, apakah saya yes dengan lelaki itu itu? Saya gengsi dong bilang yes, saya balikkan ke Ustaznya, apakah lelaki itu yes? Dan ternyata... dia yes! Ya sudah, saya yes juga deh (pura-pura pasrah, padahal mau). Delapan bulan kemudian, saya menikah dengan lelaki itu. Lelaki yang saya temui di Bandung. Walaupun bukan orang Bandung, tapi lulusan ITB. Saya mengambil mimpi teman saya. 

Sekarang kami sudah sembilan tahun menikah dan punya tiga anak. Bandung tetap menjadi tempat favorit untuk jalan-jalan, karena selalu kami lewati kalau mau ke rumah orangtua suami di Garut. Beberapa tulisan mengenai tempat-tempat di Bandung yang kami kunjungi sekeluarga, sudah saya terbitkan di blog ini dan blog satunya lagi. Berikut ini daftarnya: 


Tentunya masih banyak lagi tempat-tempat di Bandung yang belum kami jelajahi. Bandung, sepertinya masih akan menjadi tempat tujuan wisata utama, selain Garut, karena murah meriah dan dekat. Semua tempat di Bandung, istimewa bagi saya, selama dijelajahi bersama suami dan anak-anak. Namun, tempat yang akan selalu saya kenang adalah rumah Ustaz di mana kami bertemu. Di mana itu? Rahasia ah. Nanti banyak yang nanya :D



Jumat, 12 Februari 2016

Cara Membuat Manisan Rambutan

Manisan Rambutan
Assalamu'alaikum. Lama tidak menyapa pembaca blog ini. Saya mau membagikan postingan yang sederhana saja. Beberapa waktu lalu, Ismail minta dibelikan rambutan. Sekarang ini kan memang sedang musim rambutan. Di mana-mana ada tukang rambutan. Yang tadinya jualan mangga, jadi jualan rambutan. Akhirnya saya beli deh rambutan tiga ikat di tukang buah dekat rumah. Sebenarnya dari awal sudah keliatan buah rambutan itu sudah layu. Mungkin sudah lama ya dipajang dan nggak laku-laku. Tapi mau nyari di tempat lain kok males, karena lebih jauh. Boncengin anak tiga kan repot. Beli tiga ikat juga karena permintaan Ismail. Harganya Rp 18.000. Saya tahu itu juga kemahalan, karena biasanya Rp 15.000/ 3 ikat. Berhubung yang jualnya sudah kakek-kakek, ya terima saja deh. 


Ternyata benar. Setelah dicoba, Ismail kurang suka dengan buah rambutannya. Buahnya susah lepas dari biji. Ismail maunya buah rambutan yang gampang dilepas dari bijinya. Yaaah... itu rambutan nganggur deh sampai beberapa hari, karena saya sendiri males ngemil rambutan. Kemudian saya mikir, enaknya diapain nih rambutan? Sampai kulitnya menghitam, masih belum ada yang mau makan. Saya googling saja dan nemu resep manisan rambutan. Aha! Bikin manisan rambutan aja, deh! Caranya gampang banget.

Bahan-bahannya:
Buah rambutan, dikupas kulitnya. Harusnya sih dipisahin juga dari bijinya, tapi ini kan susah dipisahinnya. 
Gula, secukupnya.
Garam, 1/2 sendok teh.
Pewarna makanan (kalau suka). Mestinya nggak usah pakai pewarna makanan sih, karena suami nggak suka. 

Cara membuatnya: 
Buah rambutan direbus bersama gula, garam, sampai mendidih. Lalu tambahkan pewarna makanan satu tetes. Aduk-aduk. Dinginkan. Setelah dingin, masukkan ke dalam kulkas.

Seger deh, kayak manisan yang dijual di supermarket, tapi yang ini nggak pakai pengawet. Sayangnya, cuma saya yang makan nih hahaha... Suami nggak mau kalau ada warnanya. Lain kali mesti bikin yang nggak pakai pewarna. Makan manisan juga nggak boleh sering-sering sih, khawatir diabetes. Sesekali dimakan kalau gerah dan cuaca panas. Segeeer.....