Jumat, 20 Mei 2016

Kiat Membesarkan Anak dengan Teknologi

Vera Itabiliana
Teknologi bagaikan dua sisi pisau. Di satu sisi, pisau bermanfaat untuk untuk memotong-motong sayuran. Di sisi lain, pisau juga bisa digunakan untuk melukai. Begitu juga dengan teknologi. Di satu sisi bermanfaat untuk mendukung kegiatan sehari-hari, juga untuk belajar. Di sisi lain, ada banyak dampak negatif teknologi. Contohnya para pelaku pembunuh Yuyun, gadis yang diperkosa 14 pemuda di Bengkulu. Salah satu akibatnya karena para pemuda itu suka menonton film porno di internet. Jadi, gimana dong cara membesarkan anak bersama teknologi? Kemajuan teknologi, mau tidak mau harus kita hadapi. Kita tidak bisa menjauhkan anak dari teknologi karena bagaimanapun mereka akan membutuhkan teknologi untuk belajar dan bekerja. 


Kiat membesarkan anak bersama teknologi, tema itulah yang diangkat dalam Talkshow Parenting yang disponsori oleh Sampoerna Academy, sebuah program pendidikan yang didesain oleh Putera Sampoerna Foundation dengan sistem berasrama standar Internasional. Talkshow ini diadakan pada tanggal 13 April, tapi saya baru sempat menulis laporannya sekarang. Para pembicara: Vera Itabiliana (Psikolog Anak), Miss Yenny (Kepala Sekolah Sampoerna Academy), dan Ibu Erna (Dosen). Vera Itabiliana sebagai seorang Psikolog menjelaskan dampak teknologi, terutama gadget seperti smartphone dan televisi kepada anak-anak. Anak-anak usia di bawah 2 tahun, sebaiknya jangan dulu diperkenalkan dengan gadget. Jangan berikan gadget kalau hanya untuk menyibukkan anak supaya diam dan tidak mengganggu orangtuanya.

Anak yang terlalu banyak terpaprar gadget akan mengalami gangguan komunikasi dan konsentrasi. Pandangan matanya akan terus mengarah ke gadget. Mbak Vera bahkan memiliki contoh kasus pasien anak yang tidak bisa berinteraksi dengan orang di sekitarnya, tapi dapat bicara seperti suara-suara yang ada di game. Anak itu juga tidak bisa memegang pensil, tapi sebaliknya dia menggerakkan  tangannya seperti saat menggerakkan layar Tablet. Mengerikan sekali, ya! Makanya, Mbak Vera punya aturan memberikan gadget ke anaknya hanya saat liburan dan itupun hanya 2 jam sehari. 

Dosen Erna

Ibu Erna, seorang Dosen di Jakarta, menjelaskan pentingnya teknologi. Di zaman sekarang ini, anak-anak harus dibekali dengan STEAM (Sains, Technology, Engineer, Art, dan Matchmatic). Apa pun bakatnya, anak-anak harus punya bekal STEAM, karena di zaman MEA (Masyarakat Ekonomi Asia), anak-anak akan bersaing dengan anak-anak lain dari ASEAN. Untuk mengajari Sains, tidak harus plek teori seperti di buku pelajaran. Bisa dengan mengajak melihat alam. Kalau matahari bersinar itu gunanya untuk apa. Bagaimana proses fotosintesis pada tumbuhan, dan sebagainya. Sains itu mudah, kok.... 

Nah, terakhir Miss Yenny menjelaskan penerapan teknologi di Sampoerna Academy. Bahwasanya di sana internet bisa digunakan kapan saja dan anak-anak belajar menggunakan laptop. Tapii... fasilitas itu hanya bisa digunakan untuk BELAJAR, bukan update status di FB atau menonton film di Youtube. Jika teknologi digunakan dengan benar, niscaya anak-anak akan berkembang pengetahuan dan kecerdasannya. Contohnya, ada anak yang suka membuat cerita. Dia memposting ceritanya di situs dan ceritanya itu dibaca oleh banyak orang. Anak itu jadi terasah kemampuan kreativitas dan imajinasinya. Luar biasa, bukan? 

Miss Yenny

Intinya, anak-anak perlu diperkenalkan dengan teknologi setelah usia di atas 2 tahun ya, Bu. Itupun hanya untuk belajar, bukan sekadar main game atau menonton You Tube. Penggunaannya juga jangan berlebihan. Apa pun yang berlebihan tentu tidak baik. Gunakan teknologi untuk mengasah bakat dan minat anak kita.

Kamis, 19 Mei 2016

Playdate Staedtler: Saat Ibu dan Anak Berkreasi dengan Warna

Assalamu'alaikum. Hari Sabtu lalu, 14 Mei saya mengikuti event Playdate Staedtler di Twin House, Kemang. Acara yang sangat menarik untuk para ibu dan anak. Sebagai ibu, tentunya kita ingin terus merangsang kreativitas anak melalui aktivitas menyenangkan, di antaranya menggambar dan mewarnai. Anak-anak saya suka sekali menggambar, tapi tidak  begitu suka mewarnai. Capek, katanya. Nah, kita lihat ya, apakah sepulangnya mereka dari acara Playdate Staedtler ini, mereka jadi suka mewarnai? 


Acara dimulai jam 10, berhubung jalannya lancar jaya maka saya sekeluarga sampai di lokasi jam 9.30. Panitia masih sedang siap-siap. Acara diadakan di lapangan berumput. Untungnya banyak pohon besar di sekitar, jadi adem deh. Anak-anak langsung menghambur ke lapangan yang sudah ditutupi oleh alas. Di atasnya ada banyak mainan. Howaaa... gimana anak-anak nggak hepi? Semua mainan yang mereka sukai, ada di sana. Bongkar pasang, brick, peralatan menggambar dan mewarnai. Saya juga mendapatkan goodiebag yang isinya wah sekali, pas untuk bekal anak-anak merangsang kreativitas. Alat tulis dan mewarnai dari Stadtler! Alhamdulillah.

Undangannya cantik, penuh warnaaa....
Goodiebag Staedtler untuk bekal kreatif

Saat kami sedang menemani anak-anak sekaligus foto-foto, panitia dengan ramahnya mengajak kami mengobrol terutama tentang aktivitas ngeblog yang dilakukan sambil mengasuh anak-anak. Jam 10.30, para undangan berdatangan, acara pun dimulai dengan santai. Duduk lesehan, dibuka oleh MC dan pembicara dari @haloibu. Kami saling berbagi mengenai aktivitas merangsang kreativitas anak yang dilakukan di rumah, juga bagaimana caranya ibu momblogger ini tetap  ngeblog di tengah kesibukan rumah tangga dan anak-anak. Semua peserta ditanya satu per satu. Rasanya jadi akrab sekali, meskipun banyak yang baru bertemu. Saya juga kebagian ditanya.

Obrol santai bersama Tim @HaloIbu dan Staedtler
Kesimpulannya, rata-rata ibu menulis di blog pada malam hari ketika anak-anak sudah tidur atau siang hari saat sedang sekolah. Pekerjaan rumah tangga didaftar menurut skala prioritas. Yang penting urusan anak-anak dulu, pekerjaan rumah tangga bisa menyusul. Begitu juga dengan saya.  Para momblogger ini mencari ide-ide kreasi permainan anak dan keterampilan di internet, terutama situs-situs milik momblogger luar negeri. Mereka itu kreatif-kreatif sekali. Berbagai barang bekas bisa dimodifikasi menjadi mainan anak. Tak hanya murah, tetapi juga merangsang kreativitas dan imajinasi anak. Anak-anak saya pun senang sekali memodifikasi barang-barang bekas, sampai rumah berantakan tak karuan.

Seru dan Ramai acara Playdate Staedtler

Anak-anak saya paling senang menggambar. Mereka menggambar di mana saja: kertas, tembok rumah, kardus susu, dan lain-lain. Sayangnya, mereka kurang suka mewarnai. Sampai kemudian panitia membagikan wadah mewarnai yang terdiri atas: Papercraft, Kertas Kanvas, dan Tas Blacu. Wow, kalau di atas wadah yang berbeda, anak-anak jadi bersemangat. Sidiq asyik mewarnai di atas Papercraft bergambar Brick, yang kemudian digunting dan dibentuk menjadi Brick 3D. Salim dan Ismail mewarnai di atas Tas Blacu.
Sidiq asyik mewarnai Papercraft
Cantiknya Papercraft setelah diwarnai
Mewarnai Tas Blacu

Ajaibnya, Pensil Mewarnai Luna dari Staedtler menghasilkan warna seperti lukisan. Caranya, warnai gambar, lalu celupkan kuas ke air, dan goreskan kuas ke gambar yang telah diwarnai. Kuas ini sudah ada di dalam Pensil Mewarnai Luna dari Staedtler yang bisa dibeli di toko-toko buku mana saja. Tentunya, aktivitas mewarnai ini tidak hanya untuk anak-anak, lho. Bagi anak usia balita, bisa menjadi media pembelajaran dan pengenalan warna. Sedangkan bagi orang dewasa, bisa melepas stres. Nah, ibu-ibu kalau sedang stres, boleh juga dicoba mewarnai gambar-gambar "Colouring Adult" yang bukunya juga marak dijual di toko buku. 

Pulang dari acara, Sidiq semangat sekali menggambar dan mewarnai di atas Kanvas. Mula-mula kanvas digambar dulu dengan Pensil Warna Staedtler, kemudian dibasahi dengan kuas basah. Hasilnya? Benar-benar seperti lukisan! Sekarang mereka jadi senang mewarnai. Memang ya, jadi ibu itu harus kreativitas mencari hal-hal yang disukai anak. Terima kasih, Staedtler, sudah menyediakan keperluan mewarnai dan alat tulis lainnya untuk anak-anak. Mau dapat ide-ide kreatif lainnya? Ikuti saja media sosial Staedtler dan Pensil Warna Luna di Instagram dan Twitter @StaedtlerID dan Fanspage Luna Kreatif. 


Sabtu, 14 Mei 2016

KA’BAH DIBANGUN SECARA FISIK SEJAK NABI ADAM AS


Menurut beberapa riwayat, Ka’bah telah dibangun sejak zaman Nabi Adam AS, namun sebelumnya dibangun oleh para malaikat.
Umat Islam di seluruh dunia pasti mengenal Ka’bah, rumah Allah (Baitullah) yang menjadi kiblat umat Islam di seluruh jagat raya ini. Ka’bah atau Bayt Atiq dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. dan Baitullah ini merupakan tempat ibadah yang pertama kali dibangun di atas dunia.
“Sesungguhnya, rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) Maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya menjadi amanlah dia. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah. Yaitu, (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.” (QS. Ali Imran [3]: 96-97)
Dalam menafsirkan surah Ali Imran [3] ayat 96, Al-Qurthubi, seorang ahli tafsir, mengatakan bahwa orang yang pertama kali membangun Baitullah adalah Nabi Adam AS.
Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Allah SWT memerintahkan para malaikat-Nya untuk membangun Baitullah di muka bumi dan melaksanakan Thawaf disana. Peristiwa tersebut terjadi sebelum Adam diturunkan ke bumi. Setelah turun, Adam menyempurnakan bangunannya dan berthawaf disana dan juga para nabi setelahnya. Kemudian, pembangunan Baitullah tersebut dilaksanakan kembali dan disempurnakan oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Ismail”
Penjelasan ini berdasarkan keterangan AlQuran surah Al-Baqarah[2] ayat 127 dan surah Al-Hajj[22] ayat 26.
“Dan, ingatlah ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 127).
Dari keterangan ini, jelaslah bahwa yang pertama kali membangun Ka’bah adalah Nabi Adam AS. Dan, yang menyempurnakan pembangunan Ka’bah dengan memasang atau meninggikan pondasinya adalah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Para ulama salaf mengatakan bahwa disetiap tingkat langit terdapat sebuah rumah. Penduduk langit tersebut beribadah kepada Allah di rumah tersebut, oleh karena itulah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS membuat bangunan seperti itu di muka bumi.
Disebutkan dalam kitab Ara’is al-Majilis karya Al-Tsa’ibi, Allah mewahyukan kepada Adam: “Aku memiliki tanah haram (terhormat) dalam posisi sejajar dengan singgasana-Ku (Arasy). Karena itu, datanglah ke sana dan berkelilinglah (Thawaf) sebagaimana dikelilinginya singgasana-Ku. Shalatlah di sana sebagaimana dilaksanakan shalat di sisi singgasana-Ku. Di sanalah Aku memperkenankan doamu.”
Keterangan ini menunjukkan bahwa Adam adalah pembangun Ka’bah pertama, lalu disempurnakan pembangunannya oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Posisinya sama seperti yang ada hingga saat ini.
Mengenai pembangunan Ka’bah, ada pendapat yang menytakan bahwa Ibrahim AS diperintahkan untuk membangun kembali Ka’bah di posisi yang ada saat ini, sebab, sebelumnya lokasi tersebut sering terjadi banjir besar. Karena itu, Ibrahim diperintahkan untuk meninggikan fondasinya. Sebagaimana dikatakan Al-Azraqi dalam Tarikh Makkah, “setelah peristiwa banjir besar, lokasi Ka’bah dulu telah hilang. Lokasi tersebut berbentuk bukit kecil berwarna merah yang tidak terjangkau aliran air. Saat itu, manusia hanya tahu bahwa di sana ada tempat yang sangat bernilai tanpa mengetahui lokasinya secara pasti. Dari seluruh penjuru dunia, mereka yang dizhalimi, menderita, dan butuh perlindungan datang ke tempat ini untuk berdoa. Doa merekapun dikabulkan. Manusia pun mengunjunginya hingga Allah memerintahkan Ibrahim untuk membangun kembali Ka’bah. Sejak Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, Baitullah selalu menjadi tempat yang dimuliakan dan diperbaiki terus-menerus oleh setiap agama dan umat dari satu generasi ke generasi lainnya. Tempat ini juga senantiasa dikunjungi malaikta sebelum Adam turun ke bumi.”
Pembangunan itu dilakukan oleh Ibrahim dan Ismail AS. Ismail yang mengangkat batunya dan Ibrahim yang memasangnya. semakin lama makin tinggi hingga Nabi Ibrahim AS tidak mampu lagi menjangkau tempat tertinggi untuk memasang batu-batu tersebut. Kemudian Ismail membawakan sebuah batu untuk pijakan bagi Nabi Ibrahim. Batu inilah yang akhirnya disebut sebagai Maqam Ibrahim.
Mereka terus bekerja sembari berdoa: “Wahai, Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya, Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Setelah selesai, Allah kemudian memerintahkan Ibrahim untuk berseru kepada seluruh umat manusia agar mengerjakan haji ke Baitullah, sebagaimana yang terkandung dalam QS. Al-Hajj [22]: 27-29.
Menurut wikipedia disebutkan pada awalnya bangunan Ka'bah terdiri atas dua pintu serta letak pintu ka'bah terletak diatas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi sebagaimana pondasi yang dibuat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun renovasi dilakukan akibat bencana banjir pada saat Muhammad SAW berusia 30 tahun dan sebelum diangkat menjadi rasul, karena merenovasi Ka'bah sebagai bangunan suci harus menggunakan harta yang halal dan bersih, sehingga pada saat itu terjadi kekurangan biaya. Maka bangunan ka'bah dibuat hanya satu pintu serta ada bagian ka'bah yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan ka'bah yang dinamakan Hijir Ismail yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi ka'bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya. Karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang sangat dimuliakan oleh bangsa Arab.
Karena kaumnya baru saja masuk Islam, maka Nabi Muhammad SAW mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali ka'bah sehingga ditulis dalam sebuah hadits perkataan beliau: "Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan Aku turunkan pintu ka'bah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail kedalam Ka'bah", sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.
Ketika masa Abdurrahman bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan itu dibuat sebagaimana perkataan Nabi Muhammad SAW atas pondasi Nabi Ibrahim. Namun karena terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan, penguasa daerah Syam (Suriah,Yordania dan Lebanon sekarang) dan Palestina, terjadi kebakaran pada Ka'bah akibat tembakan peluru pelontar (onager) yang dimiliki pasukan Syam. Sehingga Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Ka'bah berdasarkan bangunan hasil renovasi Nabi Muhammad SAW pada usia 30 tahun bukan berdasarkan pondasi yang dibangun Nabi Ibrahim. Dalam sejarahnya Ka'bah beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan umur bangunan.
Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa
kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali ka'bah sesuai pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi Muhammad SAW. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan ajang bongkar pasang para penguasa sesudah beliau. Sehingga bangunan Ka'bah tetap sesuai masa renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang.
Maqam Ibrahim – tempat berpijak
Maqam Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim AS. Maqam Ibrahim adalah batu tempat berpijaknya Nabi Ibrahim sewaktu membangun Ka’bah. Ketika itu Ibrahim bermaksud meletakkan batu ke tempat teratas, namun tangannya tidak mampu menjangkau, lalu ia menyuruh Nabi Ismail untuk mencarikan sebuah batu sebagai tempat berpijaknya.
Posisi Maqam Ibrahim hingga kini sama persis pada saat pembangunan Ka’bah pada zaman Nabi Ibrahim, demikian pula pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar, hingga terjadinya banjir besar pada masa khalifah Umar.
Pada mulanya, Maqam itu menempel pada dinding Ka’bah. Namun, pada masa khalifah Umar, digeser kearah timur agar di sisi Maqam Ibrahim bisa menjadi tempat shalat, sebagaimana keterangan AlQuran surah Al-Baqarah [2] ayat 125.
Menurut Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam bukunya mengatakan, “Nabi Ibrahim berpijak di atas batu besar yang lembap, langsung dengan kedua telapak kakinya tanpa alas.”
Wa Allahu ‘alam

Senin, 02 Mei 2016

Belajar Berdagang di Market Day

Assalamu'alaikum. Akhirnya saya bisa cerita lagi kegiatan anak-anak yang sudah lewat beberapa waktu lalu. Maklum, mamanya nggak selalu bisa update blog, jadi cerita udah kapan, baru sempat dipublish. Ini pertama kalinya anak-anak ikut market day. Saya lupa dulu waktu Ismail kelas 1 apakah ada juga. Tahun ini, ada kegiatan Market Day di sekolah Ismail dan Sidiq, di mana anak-anak diajak belajar berdagang. Nggak semua anak, sih. Saya mau coba-coba, jadi saya daftar. 


Jujur, saya itu paling nggak bisa berdagang. Berdagang itu butuh keberanian dan mental yang kuat. Saya pernah ngerasain dagang di bazar, nungguin dagangan nggak laku-laku. Dilihat orang yang lalu lalang. Aduh, nggak enak ya rasanya hehe.... Makanya, saya lebih senang nulis daripada berdagang. Nah, di acara Market Day ini, saya ingin anak-anak mengasah keberanian itu. Bagaimanapun, keahlian berdagang itu memang harus kita kuasai. Rasulullah Saw sendiri sudah berdagang sedari kecil. Di acara Market Day ini, dagangnya nggak serius sih. Ibu-ibu yang mau berdagang hanya diperbolehkan membawa maksimal 10 produk. Keuntungannya pun hanya maksimal Rp 200/ produk. Kalau mau dagang beneran ya di luar Market Day hehe..... 

Kerajinan Tangan karya anak-anak SD

Kreatif yaa.. ini karya anak-anak SD
Setiap anak disuruh dibekali uang Rp 20.000 untuk berbelanja. Hanya di hari itu saja. Kalau hari biasa sih anak-anak saya hanya membawa uang jajan Rp 7.000. Sidiq pinter deh, minta uangnya Rp 50.000. Dikira bisa membohongi mamanya yeee... Mamanya kan sudah dikasihtahu ustazah-ustazah agar uang jajan anak-anak maksimal 20 ribu. Uang segitu ludes lho, anak-anak memang jago belanja yaaa.... Saya kira anak-anak beli makanan, ternyata Sidiq beli kerajinan tangan gede banget yang dibuat dari kardus dibentuk akuarium. Hadeeeh... Bikin sendiri kan bisa, Nak. Ya anggap aja bantu temen hehehe....

Tadinya saya daftar mau jualan donat yang unik. Mendekati hari H, saya malah pusing. Apa saya bisa bikin donat? Suami malah nyuruh saya beli aja donatnya, trus digambar sendiri. Tapi, cokelat hiasnya kan mahal. Itu donat mau dihargai berapaaa? Untungnya, nama saya dicoret karena yang jualan donat sudah banyak. Saya langsung kepikiran jualan jus! Kan gampang, tinggal dijus. Saya pilih jus buah naga, karena belum ada yang mendaftarkan. Memang produk jualannya nggak boleh ada yang sama. Eh, ternyata susah ya dapetin buah naga di tempat saya. Harus ke supermarket. Kalau jalan ke pasar sih ada, tapi nggak sempat ke pasar. Saya nggak punya SIM dan di pasar itu sering ada polisi wkwkwk.... 

Sudah banyak yang bikin donat :D

Saya titip ke suami eh dia belinya di Swalayan. Yah, harganya mahaaal... Kalau di pasar cuma Rp 5.000/ buah. Itu mah Rp 14.000/ buah. Aduh, gimana menekan harganya supaya nggak mahal? Belum gelas plastik, gula, dan airnya. Ah, nggak usah mikirin keuntungan deh. Namanya juga belajar dagang. Pagi hari, saya blender buah naga bersama gula dan air. Untungnya buah naga itu warnanya pekat banget. Jadi, kalau kebanyakan airnya pun tetap merah warnanya hehe.... Setelah itu saya bingung bagaimana membawanya? Alhamdulillah, ada galon isi lima liter bekas beli air Kangen Water. Eh, ternyata jusnya lebih dari lima liter. Jadi bisa sisa dan diminum sendiri. 

Jus Buah Naga buatan Mama :D

Harga gelas plastik isi 50 buah hanya Rp 11.000 lho. Jadi, per gelas itu Rp 220. Sampai di sekolah sudah agak terlambat. Saya memang sengaja datang agak terlambat. Jadwalnya jam 7 tapi masih upacara pembukaan. Saya datang jam 8. Tadinya bingung mau jualan di mana, stannya sudah penuh. Kebagian tempat sedikit. Saya bawa 15 gelas. Jusnya dituang di tempat. Eh, ternyata hasilnya hanya dapat 8 gelas! Salah prediksi, booo.... Harga per gelasnya Rp 3.000. Masih untung kok sedikit. Dengan modal Rp 17.000 dan total penjualan Rp 24.000. Jadi untung Rp 7.000. Nggak disangka, ya? 

Tadinya saya was-was jus naga ini nggak laku. Saya khawatir anak-anak nggak suka buah. Anak-anak saya aja nggak doyan jus buah naga. Alhamdulillah, baru juga dituangin jusnya, anak-anak sudah berebutan mau beli. Belum sempat dinilai juri, jus naganya hanya sisa 3 gelas. Anak-anak yang mau beli sempat dilarang beli dulu karena belum penjurian. Gimana? Menang, nggak? Yang menang sih kelas yang  jualan barang-barang kerajinan kreatif. Nggak apa-apa, yang penting udah belajar berdagang dan rasanya... enaaaak lhooo.... 

Salim nggak sabar beli mainan dari barang bekas :D

Pulang dari Market Day, Sidiq menyerahkan uang hasil jualannya ke saya dengan senyum cerah mempesona. Ismail malah protes, kenapa dia nggak disuruh jualan juga? Nanti yaaa... Tahun depan kalau ada lagi. Mamanya juga ketagihan jualan nih, hihihi....

Sabtu, 30 April 2016

Resep Dimsum Tuna

Assalamu'alaikum....
Lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Padahal, ada banyak yang mau saya publish. Ada dua event parenting yang saya ikuti minggu lalu, tapi masih belum sempat menuliskannya. Saya tulis artikel ringan saja ya. Berbagi resep masakan yang pernah dipraktekkan di kelompok pengajian yang saya ikuti. Kelompok pengajian saya isinya hanya delapan orang. Sesekali kami mengisi pengajian dengan memasak atau berjalan-jalan. Nah, kali ini jadwalnya memasak bersama dan nama masakanya: Dimsum Tuna. 


Saya sendiri sering bingung ikan tuna itu enaknya dimasak apa ya, soalnya amis banget. Kalau tidak piawai memasaknya, bisa gatot. Ikan tuna itu bagus untuk otak anak-anak. Salah satu cara memasaknya adalah dengan membuat Dimsum. Berikut bahan-bahan dan cara pembuatannya ya, Bu-Ibu.... 

Ikan Tuna Dipotong-potong dan Dicincang Halus 

Jumlah ikan tunanya berapa? Secukupnya saja. Kalau ini ikannya 1/2 Kg.  

Potong-potong ikan tunanya

Lalu dicincang

Santan Diperas 

Gunakan santan dari satu kelapa yang sudah diparut dan tambahkan air secukupnya.

Masukkan Bumbu
 
Daun bawang dipotong-potong, lalu campur dengan ikan tuna, tambahkan dua bungkus lada bubuk dan garam. 


Kulit Pangsit 

Lipat dua kulit pangsit, dan potong. Gunakan dua puluh lembar kulit pangsit, atau secukupnya. 


Masukkan santan sedikit-sedikit ke dalam adonan


Masukkan Tepung Tapioka

Tepung Tapioka bisa dibeli di toko kue atau supermarket. Saya lupa takaran pemberiannya. Masukkan saja secukupnya sampai adonanya tidak encer. 


Lipat segitiga kulit pangsit dan masukkan adonan secukupnya


Kukus Dimsum sampai matang

Berapa lama waktu mengukusnya? Untuk menguji apakah Dimsum sudah matang atau belum, cukup ditusuk memakai garpu. Kalau adonan sudah empuk, berarti sudah matang. 


Hidangkan Dimsum Tuna bersama saus sambal, saus tomat, atau mayonaise. Langsung dimakan selagi hangat ya. Kalau sudah dingin, kukus lagi saja supaya hangat.
 

Jumat, 08 April 2016

Pampers Raih Rekor MURI karena Jutaan Ibu di Indonesia Yakin #PakaiPampers

Lomba foto bayi #PakaiPampers sudah usai, dan sungguh luar biasa, didapatkan foto 11.700 bayi dari seluruh penjuru Indonesia yang memakai Pampers untuk membantu bayi agar tidur nyenyak. Itulah mengapa pada hari Sabtu tanggal 2 April lalu, Pampers memecahkan Rekor MURI terbaru di Grand Indonesia. Semakin membuktikan bahwa Pampers adalah merk popok sekali pakai dengan penjualan No. 1 di dunia yang dipercaya oleh jutaan ibu di Indonesia. Pengalaman anak saya memakai Pampers dibandingkan merk lain, memang lebih nyaman. Popoknya tidak tebal tapi menyerap banyak dan tidak bocor. Kalau pakai popok bayi yang tebal, anak jadi susah bergerak. 


Jusuf Ngadri, Senior Manager MURI mengatakan, "Pampers telah memenuhi semua persyaratan dan ketentuan pemecahan rekor untuk pemajangan foto bayi tidur terbanyak dengan jumlah foto 11.700." Pada permulaan acara, seorang dokter anak, Dr. Chatarine M. Sambo, SpA menjelaskan mengenai pentingnya tidur nyenyak pada bayi. Terutama pada tahun pertama kehidupannya, karena perkembangan otak bayi sedang berlangsung cepat. Salah satu cara agar bayi bisa tidur nyenyak adalah dengan memastikan kulitnya tetap bersih dan nyaman. Diantaranya tentu saja dengan memakai popok bayi yang kering dan tidak membuat iritasi. Hati-hati ya, tidak semua popok bayi memenuhi persyaratan ini. Pengalaman saya tentang popok bayi yang membuat iritasi, bisa dibaca di sini Anakku Bisa Tidur Nyenyak karena Pakai Pampers. 

Setelah sesi Dr. Chatarine usai, dilanjutkan dengan mendengarkan pengalaman dua brand ambassador Pampers yang juga memakaikan Pampers kepada bayi-bayinya: Artika Sari Devi dan Giselle. Pasti kenal kan dengan baby Gempi yang imut dan menggemaskan? Gempi juga pakai Pampers, lho. Senangnya, undangan blogger mendapatkan bibs yang sama seperti Gempi bertuliskan nama bayi masing-masing. Bibs itu lho yang untuk tadahan air liur atau makanan supaya tidak mengotori baju bayi. Keseruan terjadi ketika kedua brand ambassador Pampers itu mengajak ibu-ibu untuk melakukan selfie massal: foto bersama bayinya di atas panggung. Wuiih... langsung meruyaklah ibu-ibu ke atas panggung, tidak mau menyiakan kesempatan berfoto bersama Giselle dan Gempi.

Brand Ambassador Pampers: Giselle dan Artika
Keseruan ibu-ibu yang befoto selfie dengan Giselle

Usai foto selfie, dilanjutkan dengan penyerahan piagam MURI atas keberhasilan Pampers memecahkan rekor foto bayi terbanyak yang pakai Pampers. Artika dan Giselle pun ikut berfoto. Eh, saya juga kebagian difoto karena menjadi pemenang Live Tweet. Sayang, saya tidak tahu meminta fotonya ke mana huhuhu.... Lupa minta tolong teman untuk memfotokan, padahal kan momen bagus itu bisa foto di sebelah Giselle *norak. Alhamdulillah, saya mendapatkan hadiah satu pak Pampers dan tasnya. Lumayan buat persediaan Salim yang kadang-kadang masih pakai Pampers. 

Setelah salat Ashar (karena acara dimulai jam 2 siang), saya mengajak anak-anak ke lantai 5 Grand Indonesia untuk menikmati keseruan berfoto di depan miniatur kota-kota di Indonesia, serta naik kereta Pampers yang tiketnya didapatkan dengan membeli satu pack Pampers. Anak-anak senang sekali. Untuk kegiatan tersebut, masih berlangsung sampai tanggal 3 April. Di Fountain Atrium (Rockfeller area) West Mall Lantai 3A Grand Indonesia Jakarta, Pampers memperlihatkan pajangan foto  bayi tidur terbanyak dari seluruh Indonesia. 
Naik kereta Pampers

Para ibu yang berpartisipasi untuk foto selfie dan mengunggahnya ke media sosial menggunakan hastag #PakaiPampers akan mendapatkan bips dan free sample Pampers Baby Dry Pants kemasan satuan. Kelihatan sekali antusiasme ibu-ibu yang datang bersama dengan bayinya. Pampers Baby Dry Pants dengan lapisan ganda Extra Dry dilengkapi oleh perlindungan anti bocor serta Super Gel yang dapat mengunci kebasahan dan menyerap cairan lebih cepat, sehingga bayi selalu merasa nyaman dan dapat tidur nyenyak sepanjang malam. 

Photobooth Pampers

Kamis, 07 April 2016

Kiat Membantu Anak Mandiri oleh Ibu Elly Risman

"Bu, bikinin susu...." seorang anak usia SD meminta tolong kepada ibunya untuk membuatkan susu. Ketika ibunya hendak berdiri, anak lainnya ikut meminta tolong. "Aku juga bikinin ya, Bu...." Sang Ibu menghentikan langkah sambil mengerutkan dahi, "Kalau kamu bikin sendiri, dong...." Si anak perempuan yang sudah berusia belasan tahun dan duduk di bangku SMP itu memajukan bibirnya, "Yah.... Ibu... Masa adek dibikinin, aku enggak? Bikinin, ah...." Mungkin karena tidak mau berdebat dengan anaknya di tengah orang banyak, sang ibu mengalah dan melangkahkan kaki ke dispenser untuk membuatkan dua gelas susu. 


Saya melirik sebal ke arah anak perempuan yang asyik memainkan smartphonenya. Bahkan, saat dia menyuruh ibunya tadi, matanya tidak lepas dari smartphone. Enak sekali menyuruh ibunya seolah-olah ibunya itu seorang  pramusaji. Ibunya juga sih, mau-maunya disuruh. Peristiwa itu terjadi saat saya sedang mengikuti liburan bersama teman-teman kantor suami di sebuah villa di Puncak. Saya ingat, sewaktu berusia sama seperti gadis itu, saya malah kebagian mencuci pakaian seluruh keluarga. Almarhumah ibu saya membagi-bagi pekerjaan. Saya kebagian mencuci baju, adik-adik saya ada yang kebagian menyapu dan mengepel lantai, memasak, dan sebagainya. Rasa-rasanya saya tidak ingat pernah menyuruh ibu saya membuatkan susu, ketika saya sudah bisa melakukannya sendiri. Mau ditempeleng? Dulu memang rasanya seperti kejam, saya harus mencuci pakaian seluruh keluarga. Mana pakai tangan, belum ada mesin cuci. Sekarang, saya mendapatkan manfaatnya. Saya bisa menghargai orang tua. 

Ternyata menjadi orang tua itu memang butuh belajar. Tidak mudah lho mendidik anak agar mandiri. Itulah sebabnya saya senang sekali ketika menang kuis di twitter, berhadiah tiket seminar Modern Mama 2016 "Raising Children who Think for Themselves" yang diadakan oleh The Urban Mama di Gedung AXA Tower Lantai 36F Kuningan City Jl. Prof. Dr. Satrio, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 2 April 2016. Pembicaranya adalah Ibu Elly Risman, MPsi mengenai Kiat Membantu Anak Mandiri dan Adhitya Mulya mengenai Helicopter Parenting. Dua pembicara yang keren sekali, nih. Sayang untuk dilewatkan. 

Urusan membantu anak mandiri ini masih menjadi PR besar buat saya, karena ketiga anak saya masih usia di bawah 10 tahun dan masih sangat bergantung kepada saya. Untuk urusan mandi, pakai baju, dan makan sih mereka sudah bisa sendiri. Tapi itu lho... kalau mau berangkat ke sekolah, buku-bukunya masih harus disiapkan oleh saya. Urusan ibadah seperti salat pun masih harus didorong-dorong. Kemudian, masih perlu diberitahu untuk buang sampah pada tempatnya. Pekerjaan rumah tangga yang luar biasa banyaknya, akan semakin memberatkan ketika anak-anak masih belum mandiri untuk hal-hal yang sebenarnya sudah bisa mereka lakukan sendiri. 

Pagi hari, jam 6.30, saya sudah berkendara menuju stasiun kereta. Sampai di lokasi jam 8 kurang. Alhamdulillah. Jam 8.30, Adhitya Mulya, penulis buku "Sabtu bersama Bapak" yang best seller itu, membawakan tema "Helicopter Parenting." Apa itu Helicopter Parenting, yaitu suatu keadaan di mana orangtua terlalu dominan dan protektif terhadap anaknya sehingga tidak mau anaknya menghadapi konflik dan kesulitan-kesulitan dalam hidup. Orangtua berusaha membereskan semua konflik dan menghilangkan semua kesulitan dari jalan anaknya. Kang Adit, demikian beliau disapa, memberikan contoh-contoh dominasi orangtuanya. Misalnya, ada orangtua di sebuah TK yang meminta guru agar memundurkan jam masuk sekolah supaya anaknya sempat sarapan. "Anak saya baru bangun jam 1/2 8. Kalau masuknya jam segitu, nanti dia nggak sempat sarapan. Kan kasihan...."

Adhitya Mulya
Ada lagi kasus ketika anaknya berkelahi dengan teman sekolahnya, eh orangtuanya ikut ribut. Yang paling umum saat anak kalah lomba, orangtua marah-marah menyalahkan wasitnya. Mengapa terjadi hal-hal demikian? Karena orangtua kurang siap menerima kemungkinan bahwa metode parentingnya harus diperbaiki. Orangtua merasa sudah menjadi orangtua yang sempurna. Akibatnya, sampai anaknya dewasa pun, orangtua terus mengatur anaknya agar menjadi seperti keinginan orangtuanya. Lalu, bagaimana seharusnya? JANGAN membantu anak menyelesaikan konfliknya, tetapi AJARKAN anak menyelesaikan konfliknya sendiri.  Contoh kasus yang pertama. Ya, memang kasihan kalau anaknya belum sempat sarapan. Tapi, bukan berarti orangtua bisa mengatur jam masuk sekolah (memangnya yang sekolah anaknya saja). Yang benar, orangtua harus membangunkan anaknya lebih cepat  supaya dia sempat sarapan. 

Anak-anak yang terlalu dilindungi oleh orangtuanya, kelak akan menjadi anak yang lemah mentalnya. Tidak kuat menghadapi persaingan hidup. Selama ada di bawah ketiak orangtuanya, ya dia memang akan terlindungi. Akan tetapi, orangtua harus ingat bahwa kelak anaknya akan sendirian mengatasi kesulitan-kesulitannya. Sudah banyak contohnya anak-anak yang dulunya terlalu dilindungi orangtua, ketika dewasa menjadi orang yang suka menyalahkan orang lain karena dia terbiasa tidak ditunjukkan kesalahannya. Hal kecil saja, ikut lomba kalah, yang disalahkan wasitnya. Kelak, anak itu ketika melakukan kesalahan, yang disalahkan orang lain. 

Namun, jika sudah bersentuhan dengan tindakan kriminal, orangtua HARUS melindungi anaknya. Misalnya, jika anaknya mendapatkan perundungan (bullying) dari temannya, orangtua harus ikut menyelesaikan masalah itu. Jangan dibiarkan saja karena akan menimbulkan trauma pada anaknya. Sesi berikutnya Ibu Elly Risman yang membawakan tema "Kiat Membantu Anak Mandiri." Bu Elly ini pakar parenting yang sudah ternama. Siapa yang belum kenal, hayoo....? Alhamdulillah, saya diberi kesempatan mendengarkan langsung paparannya. Bu Elly datang dengan semangat tinggi dan terlihat sekali keharuannya mendapati masih banyak orangtua yang peduli terhadap pengasuhan anak. 
Ibu Elly Risman

Bu Elly sudah banyak menangani anak-anak bermasalah akibat salah asuh. Beliau memulai cerita mengenai pengalaman saat menjadi asisten di sebuah Day Care di Amerika. Anak-anak di luar negeri sudah dilatih mandiri sejak usia 1 tahun, lho! Ada anak yang ke toilet sendiri untuk buang air kecil, lalu kesulitan menutup celananya. Bu Elly ingin membantu, tapi anak itu menolak. "I'm not a baby!" serunya.... Tahu nggak berapa usia anak itu? DUA TAHUN! Huhu.. anak bungsu saya berusia 3 tahun dan masih dibantu buang air kecil, hehehe.... Ya itulah yang masih harus dikejar di Indonesia. Anak-anak Indonesia masih belum dilatih mandiri sejak kecil. Contohnya seperti di atas. Sudah SMP masih minta dibuatkan susu oleh ibunya. Anak perempuan pula! 

Sesi Bu Elly ini cukup panjang, dan banyak sekali ilmu berharga yang dipaparkan. Bu Elly memulainya dengan survey mengenai siapa penanggung jawab pengasuhan anak Anda? Ternyata sebagian besar hasil survey yang sudah dilakukan adalah Pembantu dan Nenek! Ibu dan ayahnya bekerja. Pembantu dan Nenek bukanlah orang yang tepat untuk mengajarkan kemandirian kepada anak. Mereka lebih sering membantu anak agar tugas cepat selesai. Anak punya kekuasaan kepada pembantu. Pembantu juga sungkan kepada anak majikannya. Di mana bisa melatih kemandirian anak kalau apa-apa dibantu pembantu? Nenek punya kecenderungan menyayangi cucunya, sehingga membolehkan cucunya melakukan apa saja. Ini pengalaman saya ketika anak-anak menghabiskan liburan sekolah di rumah neneknya. Neneknya menyuruh anak-anak saya supaya mandi, tetapi anak-anak saya malas mandi. Apa yang dilakukan Nenek? "Oh ya sudah, tidak usah mandi." Hadeuuh... untung nggak sering-sering menginap di rumah Nenek, bisa-bisa anak-anak saya nggak pernah mandi hehehehe.....

Siapa yang harus mengajarkan kemandirian dan tanggung jawab kepada anak? ORANGTUA. Guru memang membantu orangtua di sekolah, tetapi guru hanya fokus pada kurikulum akademik. Tetap saja kuncinya adalah orangtua. Orangtua bukan hanya IBU, tetapi juga AYAH. Pengalaman saya, sosok ayah itu disegani oleh anak-anak (padahal saya paling galak lho, tapi anak-anak takutnya sama ayahnya hehe). Entah mengapa, kalau ayahnya menyuruh walaupun hanya satu kali, anak-anak langsung bergerak. Misal, "Ayo, solat!" Anak-anak segera bangkit dari duduknya, ambil wudhu, dan salat. Lah, kalau ibunya yang nyuruh? Biar sudah sepuluh kali disuruh, masih saja duduk santai. Hm, gimana nggak melotot, coba? Heran, saya juga bingung.

Jadi, kehadiran seorang AYAH itu sangat penting! Dudukkan Ayah sebagai pemimpin. Ibu, jangan sekali-sekali mengambil kedudukan ayah, kecuali bila ayahnya sudah tiada. Kepemimpinan ayah jangan sampai lemah. Sudah banyak kasus di mana ayahnya kurang berperan, akibatnya anak-anak terlibat seks bebas, narkoba, dan sebagainya. Ingat, anak-anak itu bukan milik kita. Anak-anak itu amanah dari Allah. Anak adalah anugerah dan setiap anugerah itu pasti diuji. Jadi, tidak ada itu anak yang baik dengan sendirinya. Setiap anak pasti akan menguji orangtuanya. Untuk mengajarkan kemandirian kepada anak, dibutuhkan PEMBIASAAN. Tidak sekali jadi. Harus diulang terus-menerus. Sabar, Bu.... Ketika anak sudah bisa melakukan apa yang kita contohkan, berikan penghargaan. Ibu Elly memberikan contoh-contoh kemandirian sesuai usia anak. 

Jam 12.30 siang,, Bu Elly mengakhiri sesinya. Dilanjutkan dengan istirahat, solat, dan makan. Berhubung saya masih ada acara lain, jadi saya melewatkan sesi tanya jawab bersama Ibu Elly. Lagipula, Sidiq yang ikut seminar ini juga sudah rewel minta pulang hehehe... Terima kasih, The Urban Mama, untuk acaranya yang sangat bermanfaat. Mudah-mudahan bisa konsisten saya praktekkan. Aamiin...

Mama dan Sidiq