Jumat, 15 Januari 2016

Best Moment 2015: Writerpreneur

"Apa benar kita bisa hidup dari menulis?"

Banyak orang yang menanyakan hal itu kepada para penulis. Benarkah kita bisa mendapatkan penghasilan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari dari menulis? Bagi sebagian penulis, ya benar. Bagi sebagian penulis lainnya, tidak begitu benar.  Bagi saya? Hem, beruntung saya ditakdirkan menjadi seorang istri dari suami yang bertanggung jawab untuk kehidupan saya dan anak-anak. Saya mendapatkan uang nafkah bulanan dari suami yang cukup. Saya tidak tahu bagaimana kalau tidak mendapatkan uang nafkah bulanan dari suami, apakah penghasilan saya dari menulis itu bisa mencukupi? 


Well, seorang teman saya sudah membuktikan bahwa dia bisa hidup dari menulis meskipun sudah tak bersuami, memiliki anak-anak, dan penghasilannya betul-betul hanya dari menulis. Tentu saja, keterampilan Writerpreneurship dibutuhkan bagi para penulis jika ingin mendapatkan penghasilan yang cukup dari menulis. Writerpreneurship adalah wirausaha menulis, membisniskan menulis. Agar sukses sebagai Writerpreneur, maka seorang penulis tidak hanya berfokus pada satu jenis tulisan saja, tetapi harus dapat merambah pada banyak jenis tulisan, entah itu menulis buku, menulis di media massa, menulis di media sosial (seperti blog), menjadi konsultan penulis, menjadi editor lepas, dan sebagainya. 

Teman saya, yang saya sebutkan di atas itu, tak hanya menulis buku tetapi juga sering mengikuti lomba blog dan menjadi editor lepas di beberapa penerbit. Kadang-kadang dia juga mengirim tulisannya ke media massa. Dia bisa hidup dari menulis. Alhamdulillah, menjadi seorang Writerpreneur adalah Best Moment saya di tahun 2015. Saya bisa menghilangkan hambatan ketidakpercayaan diri untuk keluar dari satu jenis tulisan. Tadinya, saya lebih fokus menulis buku, tetapi kemudian saya menghadapi kenyataan bahwa penghasilan dari menulis buku belum bisa memenuhi estimasi. Maka, saya berusaha melebarkan sayap. Dimulai dari tahun 2012, saya menulis di blog dan mengikuti berbagai kompetisi menulis di blog. 

Tentunya, bukan suatu lompatan yang mudah dari yang mulanya menulis buku lalu pindah ke blog. Sindiran dan cibiran dari rekan-rekan penulis buku yang masih bertahan dengan idealismenya, kerap terdengar. Seperti anggapan bahwa menulis di blog itu tidak idealis, tetapi materialistis. Menulis buku lebih keren daripada menulis di blog. Menulis di blog itu gampang, siapa saja bisa melakukannya. Tinggal publish. Tak ada editor maupun redaktur. Kita ini penulis buku, sastrawan, bukan penulis blog. Menulis di blog itu asal nulis, tidak butuh direnungkan. Saya bosan membaca review-review produk di blog, enakan juga baca buku. Dan banyak lagi cibiran yang dilayangkan kepada para penulis blog. Jadi, jika penulis buku berubah menjadi penulis blog, itu artinya suatu kemunduran. Sampai-sampai seorang teman bertanya dengan tajam kepada saya, 

"Kita ini worth it gak sih jadi blogger? Kok aku ngerasa waktuku untuk nulis (buku) jadi berkurang ya gara-gara nulis di blog?" 

Aduh, jujur saya bingung kalau sudah begitu. Saya tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu. Bagi saya, yang penting menulis, di mana pun medianya. Mau di blog, buku, media massa, selama bisa menyebarkan ide, pikiran, dan kebaikan, mengapa tidak? Apalagi menulis di blog juga bagian dari Writerpreneurship. Pengalaman saya memenangkan berbagai hadiah dari lomba menulis di blog, telah mewujudkan beberapa mimpi yang selama ini masih berada di atas awan. Saya juga mendapatkan lebih banyak teman dan jaringan. Dan yang pasti, blog bisa menjadi sarana untuk Personal Branding. Toh, saya juga masih menulis buku karena itu sudah menjadi bagian hidup saya sejak belasan tahun lalu.

Tahun 2015, saya masih mendapatkan kesempatan untuk memenangkan beberapa kompetisi menulis di blog. Alhamdulillah. Lalu, apa lagi? Baiklah, karena memenangkan lomba blog sudah dimulai dari sejak tahun 2012, maka itu bukan hal yang luar biasa lagi. Best Moment saya di tahun 2015, yang semakin memantapkan saya di bidang Writerpreneurship ini adalah: Menjadi Konsultan Penulis. 

Beberapa Hadiah Lomba Blog Tahun 2015 







Awal tahun 2015, saya dan seorang teman, memberanikan diri membuat Kursus Menulis Novel, "Smart Writer." Bagi kami, itu sebuah keberanian yang luar biasa, karena kami belum sekelas penulis-penulis novel bestseller. Namun, karena ada beberapa surat elektronik yang masuk menanyakan tentang cara menjadi penulis sampai meminta dikoreksi naskahnya, kami berpikir untuk menjadikan konsultasi novel itu lebih profesional. Mengapa? Sebab, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tentu kami butuh waktu. Apalagi kalau diminta mengoreksi naskah, kami harus membaca berlembar-lembar naskah. Sementara kami harus menulis karya sendiri, alhasil kami mengoreksi sekenanya. 

Tak disangka, ketika Smart Writer diluncurkan, cukup banyak calon penulis yang mendaftar, bahkan beberapa diantaranya sudah pernah menulis buku juga.  Berhubung ini kelas profesional, tentu ada biayanya. Saya pun benar-benar meluangkan waktu untuk membimbing para peserta hingga berhasil menyelesaikan novel mereka. Para peserta juga lebih menghargai usahanya untuk belajar, karena mereka telah membayar. Kalau mereka tidak serius, sayang uang yang telah dikeluarkan untuk membayar kami. Ke depannya, mudah-mudahan kami bisa konsisten menjalankan bisnis ini. 
Testimoni peserta Kelas Novel "Smart Writer"

Ya, menjadi Writerpreneur adalah jawaban dari pertanyaan, "Apakah penulis bisa hidup dari menulis saja?"





Kamis, 14 Januari 2016

Membuat Papan Kegiatan bersama Morinaga Multiple Intelligence PlayPlan



Halo, teman-teman, apa kabar? Kenalkan, namaku Salim. Aku anak ketiga Mama Ela. Umurku tiga tahun tiga bulan. Aku belum sekolah. Setiap hari aku menemani Mama di rumah. Kata Mama, aku sekolahnya nanti aja kalau udah umur lima tahun. Aku juga mau main-main dulu sama Mama di rumah. Aku sukaaa bermain. Main itu menyenangkan, apalagi kalau mainnya sama Mama. Hff, aku sebel deh kalau lagi asyik main, eh Mama bilang,


“Salim… ayo, mandi dulu….”
Aku pasti jawab, “Nggak mau ah….” 

Seru deh, Mama akan mengejarku karena aku terus berlari, nggak mau disuruh mandi. Aku belum bisa bertanya, kenapa kita harus mandi? Tapi, Mama pernah bacain cerita tentang kuman yang ada di dalam tubuh manusia. Kakak-kakakku minta dibacakan cerita itu. Ceritanya mengenai dua anak yang diajak jalan-jalan oleh robot ke dalam tubuh manusia. Robot itu memiliki pistol yang bisa membuat tubuh manusia menjadi kecil. Mereka pun masuk ke dalam tubuh manusia yang ada di dekat mereka, dari mulai lubang hidung, telinga, sampai ke dalam perut. 

Upsss.. itu diaa! Ada kuman yang masuk ke dalam tubuh manusia! Kuman itu menyebarkan virus penyakit. Dia bisa masuk dari udara yang tercemar virus, tangan yang tidak bersih, rambut yang kotor, dan lain-lain. Kuman yang masuk ke dalam kulit wajah, bisa menyebabkan jerawat. Kuman yang ada di kulit tubuh, bisa menyebabkan gatal-gatal. Kuman yang masuk ke dalam hidung, bisa menyebabkan batuk dan pilek. Kuman yang ada di rambut, bisa menyebabkan ketombe.  Makanya, kita harus rajin mandi supaya tubuh kita bersih. Walaupun Mama sudah sering menceritakannya, aku masih malas mandi. Airnya dingin, sih. Aku kan udah besar, nggak boleh mandi air hangat lagi, kecuali kalau sedang sakit. Setelah Mama berhasil memandikanku, ada lagi perintahnya yang kadang-kadang aku nggak turuti. 

“Udah mandi, sekarang kita makan yaa….” Mama menyodorkan sepiring nasi dan lauk pauknya. Ada sayur dan ikan kesukaanku. Tapi, aku belum lapar, Maaa…. Aku menolak sambil menggeleng-gelengkan kepala. 

“Kenapa nggak mau makan? Ayo, Ade makan yaa…. Biar cepat besar dan pintar,” Mama berusaha membujukku.
“Ini bukan Ade, ini Salim….” Aku nggak mau dipanggil “Ade.”
“Iya, Ade Salim….”
“Ini Salim!” aku tetap nggak mau dipanggil Ade.
“Iya, deh, Salim…. Salim makan dulu, yaa….” Mama tetap berusaha membujuk dan aku tetap nggak mau. Mama terpaksa menyerah. Aku memang belum lapar, masa harus makan? Aku baru mau makan kalau sudah lapar. 

Malam hari, Mama kembali menyuruh sesuatu yang membuatku sebel. 

“Salim kenapa belum bobo-bobo? Mama udah bacain tiga cerita, nih. Ayo, bobo, dong…,” Mama berusaha membujukku. Aduh, aku kan belum ngantuk. Masa disuruh bobo. Mama terus membujuk, tapi aku nggak mau. Aku masih asyik melompat-lompat di atas kasur bersama kakak-kakakku. Kalau mereka belum bobo, aku juga belum mau bobo ah. Mama sampai pusing melihatnya. Kata Mama, aku nggak boleh bobo terlalu malam. Kakak-kakak juga nggak boleh bobo terlalu malam, nanti susah bangun pagi. Kakak-kakak kan harus berangkat ke sekolah.

“Hem, gimana kalau kita bikin papan kegiatan aja?” tiba-tiba, Mama mengusulkan sesuatu. Wah, wah, apa itu? Kakak-kakak langsung menyambut usulan Mama. Mama mengeluarkan benda-benda dari kotak ajaib!
“Siapa yang mau bikin?” tanyanya.
“Sayaaa!” Kakak Sidiq langsung mengacungkan tangan. Dengan bersemangat, Kakak Sidiq mengikuti Mama membuat papan kegiatan. 

Waah… ada apa saja itu yaah? Aku pun memperhatikan Kakak Sidiq, karena aku belum bisa ikut membuatnya. 


Papan Kegiatanku
Alat dan Bahan:

Karton warna kuning/ warna lainnya.
Velcro, atau kain perekat yang bisa dibeli di toko peralatan menjahit.
Spidol.
Gunting.
Double Tape.
Lem UHU. 


Kakak Sidiq tekun sekali membuat papan kegiatanku ini. Mama mendapatkan cara membuatnya dari www.morinagamiplayplan.com. Ini adalah aplikasi dari Morinaga untuk merencanakan dan menstimulasi kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence) anak-anak usia 1-6 tahun, agar dapat mengembangkan seluruh potensinya secara maksimal sebagai Anak Generasi Platinum Multitalenta.  Di sini ada rencana bermain  (Morinaga MI PlayPlan) sebagai alat bantu. Apa saja sih yang disediakan oleh aplikasi ini? Ada alat identifikasi MI Morinaga, ide bermain, dan area cetak MI Morinaga yang bisa dicetak dan dipraktekkan di rumah. Wow, seru, kaaan…. Bilang ke mamamu ya, supaya kita bisa lebih asyik mainnya. Bermain sambil belajar. 





Pagi hari, saat kakak-kakak sudah berangkat ke sekolah, Mama mengajakku mandi. 

“Ayo, Salim, kita mandi dulu….”
“Nggak mau. Main dulu….”
“Nanti kalau sudah mandi, kita tempel papan kegiatannya….”
“Horeee…. Saya mau mandii….” Aku pun cepat-cepat mengikuti Mama ke kamar mandi. Asyiik… setelah mandi, aku langsung menempel karton yang ada gambar “mandi” dari atas ke bawah. Muncul deh tulisan “sudah dikerjakan.” 


Setelah mandi, aku minum susu Morinaga Chil-School Platinum Moricare+4 Rasa Madu untuk anak usia 3-12 tahun dari Kalbe Nutritionals. Aku memang belum sekolah, tapi aku kan sekolah di rumah sama Mama. Morinaga Chil-School Platinum Moricare+ Prodiges merupakan kombinasi antara zat gizi makro (protein) dan mikro (vitamin dan mineral) untuk pertumbuhanku. Aku kan masih dalam periode emas. Selain butuh nutrisi, juga butuh stimulasi. Stimulasinya dari permainan-permainan yang ada di Morinaga Multiple Intelligence PlayPlan (MI PlayPlan) itu. Nutrisinya, selain dari makanan bergizi, juga dari Morinaga Chil School Platinum Moricare+ Prodiges. Morinaga Multiple Intelligence PlayPlan dan Moricare+ Prodiges merupakan sinergi antara nutrisi dan stimulasi.

Cara membuatnya: sediakan air hangat sebanyak 180 ml  ke dalam gelas bersih. Airnya jangan terlalu panas ya, karena bisa mengurangi manfaat bifidobakteria hidup yang berguna untuk menyehatkan pencernaan. Tuangkan tujuh sendok takar peres Morinaga Chil School Platinum MoriCare+ Prodiges, lalu aduk dan minum deh. Bisa juga pakai air es. Hm, aku suka minuman dingin. Eh, tapi susunya jangan dihangatkan di dalam microwave lho, makanya harus segera diminum. Nanti nutrisinya bisa rusak kalau dipanaskan. 

Perutku sudah kenyang minum susu nih. Aku main dulu ya sebentar. Enakan main di taman, jadi bisa lari-lari dan teriak-teriak tanpa mengganggu Mama. Mama juga menemani, kok. Main pagi-pagi, udara masih segar. Setelah main, aku bisa melipat lagi karton yang ada gambar mainnya, muncullah tulisan “sudah dikerjakan.” Horeee….!  



“Nah, sekarang kita makan, yaa….” Mama membawa sepiring nasi dan lauk pauknya. “Salim bisa makan sendiri, kan?”
“Bisa!” aku menjawab dengan mantap. Aku suka makan sendiri. Memang sih agak sedikit berantakan, hehe…. Setelah makan, aku kembali melipat kartun yang bergambarkan “makan.” 

Siang hari, Mama mengajakku untuk tidur siang. Katanya, anak seusiaku masih harus tidur siang supaya perkembangan otaknya maksimal. Aku juga sudah ngantuk. Sambil mendengarkan Mama bercerita, mataku menutup pelan-pelan. Tahu-tahu aku sudah berada di dunia mimpi. 

Bangun tidur, aku bisa melipat lagi karton bergambar anak yang sedang tidur. Alhamdulillah, aku sudah mengerjakan semua kegiatan yang ada di papan kegiatan itu. Oya, kakak-kakakku juga bisa memakai papan kegiatan itu. Pastinya kegiatannya bertambah, karena kakak-kakakku sudah agak besar. Ditambah dengan kegiatan salat, belajar, dan membantu Mama. Yeaaayy! Asyiknya bermain dengan Morinaga Multiple Intelligence PlayPlan

Horeee! Semuanya sudah dikerjakan!
Teman-teman, coba juga yuk. Oya, kamu bisa baca cerita mamaku yang jadi kreatif di sini: Mama Kreatif Berkat Morinaga MI PlayPlan.


Selasa, 12 Januari 2016

Mama Kreatif Berkat Morinaga Multiple Intelligence PlayPlan



“Mah, beli mainaaan….” Salim rewel.
“Beli mainan, Maah….” Sidiq menatap dengan mata kucing yang sedang berharap dikasih ikan oleh tuannya.
“Kakak juga mau beli mainan.” Ismail tak mau kalah, meski meminta dengan nada datar. 

Hem, Mama pusing deh. Lagi-lagi minta beli mainan. Dunia anak memang dunia bermain, tapi kalau setiap hari beli mainan, bisa jebol dompet Mama. Jadi ingat suatu ketika pernah ngobrolin soal surga bersama anak-anak.


“Kalian mau masuk surga, nggak? Ayo, bantuin Mama kalau mau masuk surga…,” kata saya, saat sedang membereskan mainan anak-anak yang bertebaran di lantai. 
“Surga itu apa, Mah?” Sidiq bertanya. Mereka memang sedang dalam fase kritis. Segala hal ditanyakan.
“Surga itu tempat yang indaaah sekali…. Semua yang kalian mau, ada di surga. Sidiq maunya apa?” saya balik bertanya.
“Mainan! Sidiq mau mainan yang  banyak!”
“Salim juga!” si bungsu ikut-ikutan.
“Kalau Kakak maunya makanan yang banyak!” (Ismail memang doyan ngemil, hihihi)

Mama bengong.

Lagi-lagi mainan. Ya iya dong, mainan itu senjata ampuh untuk mendiamkan anak-anak. Lihat saja, di mana ada anak-anak, di situ ada tukang mainan. Masalahnya, harga mainan buatan pabrik itu mahal-mahal. Lagipula, hanya sedikit yang bisa menstimulasi otak anak. Anak-anak saya juga sukanya pilih-pilih mainan. Mereka suka mainan yang bisa dibongkar pasang. Semua mainan tak ada yang utuh. Dipreteli sedemikian rupa. Ujung-ujungnya masuk tempat sampah. Hiks…. Saya pernah berandai-andai, seandainya uang untuk  beli mainan itu dipakai untuk beli baju saya, kan saya jadi bisa mamah yang lebih gaya, ahaaii….

Kalau dikumpulin itu uang yang digunakan untuk beli mainan plastik, bisa jutaan rupiah. Mainan anak-anak sekarang harganya mahal-mahal. Ditambah pula anak-anak saya maunya mainan yang bisa dibongkar-bongkar. Sekarang sedang  musim mainan bongkar pasang yang jadi tokoh kartun film terkenal. Itu hanya satu miniatur orang-orangannya saja harganya Rp 15.000, yang KW-nya, alias yang menyerupai asli. Kalau yang original, beuuuh… harganya lebih mahal lagi. Di atas Rp 50.000. Anak saya tiga dengan usia berdekatan, jadi ketiganya harus dibelikan. Dompet mama pun semakin mengkerut. Untung mereka dapat angpau lebaran yang lumayan, hehehe…. Habis buat beli mainan.

Sebaliknya, di rumah ada banyak kardus bekas susu Morinaga Platinum. Sayang juga sih kalau dibuang. Saya terpikir ingin membuat prakarya bersama anak-anak, karena sesungguhnya mereka meminta mainan itu untuk mengisi waktu. Walaupun di rumah saya ada televisi, tapi jarang dinyalakan. Anak-anak lebih suka bermain bertiga, melakukan aktivitas fisik yang membuat mamanya geleng-geleng kepala. Gimana enggak? Rumah kayak kapal pecah deh. Mainan tersebar di mana-mana, dari ruang tamu sampai tempat tidur.  



Masalahnya, saya tidak kreatiiif! Maklum, dulu saya tidak masuk TK, hehehe…. Kalau di TK kan anak-anak belajar bikin prakarya. Saya langsung belajar di SD, membaca dan menulis yang text book. Otak saya tidak terlatih untuk melakukan kerajinan tangan. Untung saya ketemu aplikasi Morinaga Multiple Intelligence PlayPlan di www.morinagamiplayplan.com. Di website ini tersedia games DIY (Do It Yourself) yang bisa kita praktekkan di rumah. Kita bisa memanfaatkan barang-barang bekas untuk membuat bermacam-macam mainan, yang bermanfaat guna menstimulasi kecerdasan anak, terutama anak usia 1-6 tahun. Langsung daftar saja di website tersebut dan dapatkan berbagai petunjuk membuat permainan kreatif untuk anak-anak. 


Salim usianya 3 tahun. Saya belum memasukkannya ke Playgroup karena tidak ada Playgroup yang memadai di sekitar tempat tinggal saya. Ada Playgroup, tapi anak usia 2 tahun sudah disuruh menghapal segala macam. Kasihan nanti terbebani. Saya ingin Salim belajar sambil bermain. Benar-benar bermain. Saya kapok juga karena dulu memasukkan Sidiq ke TK umur 3,5 tahun dan dia dipaksa menghapal abjad, huruf arab, berhitung, dan sebagainya dengan tekanan. Akhirnya sekarang jadi kurang bersemangat belajar. Jadi, saya memilih  mengajari Salim sendiri, santai tanpa paksaan. 

Mainan adalah salah satu sarana untuk belajar, tetapi memilih mainan pun tak sembarangan. Pengalaman berkali-kali membeli mainan untuk anak-anak, tak semuanya mampu menstimulasi otak anak. Berbekal instruksi dari website Morinaga MI PlayPlan, saya mengajak anak-anak membuat mainan sendiri. Mereka mendapatkan dua keuntungan dari mengaplikasikan DIY Morinaga MI PlayPlan ini: menjadi kreatif saat membuat mainan sendiri dan hiburan saat memainkannya. Ibu-ibu juga bisa mempraktekkannya di rumah, dengan mencetak panduan pembuatannya. Anak-anak jadi punya kesibukan yang menyenangkan. 

Rencana Bermain MI Morinaga (Morinaga MI PlayPlan) adalah jadwal bermain dan aktivitas harian yang dapat digunakan oleh para orangtua untuk merencanakan, mengarahkan, dan membantu menstimulasi perkembangan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) anak-anak, khususnya anak usia 1-6 tahun. Di dalamnya meliputi tipe aktivitas, peranan, dan kegiatan yang akan dilakukan oleh anak dalam kegiatan hariannya.

Menurut Dr. Howard Gardner, psikolog dari Universitas Harvard, Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) adalah kecerdasan yang mencakup banyak bidang dalam kehidupan sehari-hari, yang membuat seseorang mampu untuk belajar, memahami lingkungan, dan memecahkan masalah. Setiap anak memiliki kecerdasan majemuk, tetapi ada satu yang dominan dan harus lebih maksimal dikembangkan untuk masa depannya. Bagaimana caranya? Kita dapat melakukan observasi pada kegiatan sehari-hari anak atau menggunakan alat bantu identifikasi awal Kecerdasan Majemuk yang bisa diaplikasikan melalui website Morinaga MI PlayPlan. 

Beberapa permainan kreatif yang sudah saya praktekkan bersama anak-anak yang diambil dari website Morinaga MI PlayPlan, diantaranya: 

Membuat Papan Kegiatan



Tujuan Pencapaian:
Mendorong dan memotivasi anak untuk menyelesaikan pekerjaan atau melakukan pekerjaan yang disukainya.
Anak merasa terapresiasi dengan apa yang sudah dikerjakannya.

Baca juga: Membuat Papan Kegiatan bersama Morinaga Multiple Intelligence PlayPlan

Membuat Gitar Kardus


Stimulasi kemampuan menyanyi.
Mengajarkan anak-anak untuk berekspresi dan tampil percaya diri. 

Pasir Garam Berwarna


Meningkatkan kemampuan visual.
Mengasah kreativitas dalam mewarnai sesuatu.

Mewarnai, Menggunting, dan Menempel Gambar


Untuk menstimulasi kecerdasan visual spasial, kinestetik, logical matematik, naturalis, dan linguistik.
Soal mainan ini, ternyata anak-anak itu tidak cukup hanya diberikan  mainan lalu selesai. Anak-anak akan cepat bosan kalau main sendiri. Orangtua harus ikut mendampingi. Kalau orangtua ikut bermain, anak-anak pasti senang. Saya juga menikmati keseruan membuat mainan-mainan ini. Saat anak-anak sudah terlihat lelah, saya tawari minum susu Morinaga Platinum Chil-School Moricare+ Prodiges yang mengandung nutrisi penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh anak-anak. 

  • Protein: komponen esensial dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.
  • Vitamin B12: berperan sebaai koenzim dalam pembentukan asam nukleat, misalnya sel darah merah.
  • Zat Besi: komponen hemoglobin dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh.
  • Zink dan Vitamin A: membantu mempertahankan keutuhan lapisan permukaan saluran pencernaan.
  • Tinggi Kalsium dan Vitamin D: berperan dalam pembentukan dan mempertahankan kepadatan tulang dan gigi. 





Rangkaian produk Morinaga Platinum kini komposisinya lebih lengkap karena dilengkapi dengan MoriCare+ Formula yang mengandung: 

  • Brain Care, nutrisi yang berperan dalam perkembangan otak seperti DHA, AA, AL, AAL, Zat Kolin, Fosfolipid, dan Zat Besi.
  • Body Defense, nutrisi yang berperan dalam menjaga kesehatan saluran cerna, berupa Prebiotik Laktulosa, Probiotik BB536 & M16-V, Laktoferrin dan Zink.
  • Body Growth, kombinasi unik nutrisi untuk menunjang pertumbuhan dan aktifitas anak, terdiri dari Prodiges (nutrisi mudah cerna: Whey Protein dan Lemak OPO).

Inovasi Moricare+ Prodiges lebih dari sekadar nutrisi atau beyond nutrition  karena menghadirkan sebuah modul digital yaitu Multiple Intelligence PlayPlan atau MI PlayPlan yang bisa dilihat di www.morinagamiplayplan.com. Mengutip ucapan dalam Newsletter Morinaga, Helly Octaviana, Business Unit Health Nutrition for Kids, Kalbe Nutritionals, "Modul Multiple Intelligence PlayPlan atau MI PlayPlan persembahan Morinaga, diharapkan bisa membantu Bunda dalam mengenali kecerdasan si kecil dan memberikan stimulasi yang tepat." Modul tersebut mencakup stimulasi 8 tipe kecerdasan, yaitu Kecerdasan Musikal, Intrapersonal, Interpersonal, Naturalis, Visual Spasial, Linguistik, Logika Matematika, dan Kinestetis. 

Tiga langkah untuk mengakses modul ini, yaitu: 

Identifikasi: untuk mengenali jenis kecerdasan yang dominan dan yang kurang dominan, sehingga dapat menentukan stimulasi spesifik yang dibutuhkan si kecil. 

Stimulasi: untuk mendeteksi potensi talenta, dari kecerdasan yang telah teridentisifikasi. Berupa agenda bermain dan ragam ide permainan. 

Evaluasi: bermanfaat untuk mempertajam kecerdasan lainnya yang masih kurang dominan. 

Dr. Rose Mini A. Prianto, M. Psi, Ketua Program Studi Psikologi Terapan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Presiden Direktur ESSA Consulting dalam Newsletter Morinaga mengatakan: "Dari aplikasi MI PlayPlan, harapannya si kecil bisa tumbuh menjadi Generasi Platinum yang multitalenta, karena untuk bisa unggul di satu bidang, misalnya musikal, si kecil perlu memiliki dan mengasah kecerdasan lainnya, seperti kecerdasan interpersonal. Kelengkapan modul stimulan MI PlayPlan persembahan Morinaga, dikreasi guna memfasilitasi para orangtua untuk mengembangkan multitalenta si kecil secara konsisten dan optimal."





Saya berikan Morinaga Chil-School Platinum Moricare+ 4 Rasa Madu untuk anak usia 3-12 tahun dari Kalbe Nutritionals. Kalbe Nutritionals dirintis sejak tahun 1982 dengan nama PT. Sanghiang Perkasa, tapi lebih dikenal sebagai Health Foods Division dari PT. Kalbe Farma Tbk, perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia. Terbukti telah menghasilkan produk-produk makanan kesehatan berkualitas dan mendapatkan sertifikasi ISO 9001: 2000 pada tahun 2002, sertifikasi HACCP (Hazard Analysis Critical Point pada tahun 2002, PT. Sanghiang Perkasa mendapatkan penghargaan Enseval Awards: Best Customer Focus pada tahun 2004, dan sertifikasi ISO 14000 pada tahun 2003.


Morinaga Multiple Intelligence Play Plan dan Moricare+ Prodiges merupakan sinergi antara nutrisi dan stimulasi untuk memaksimalkan kecerdasan majemuk anak. Morinaga Chil-School Platinum Moricare+ Prodiges dikembangkan oleh Morinaga Reasearch Center Japan yang senantiasa berinovasi dengan meneliti berbagai manfaat ASI dan nutrisi penting pertumbuhan anak. Penelitian sudah dilakukan selama lebih dari 90 tahun. 

Sudah siap jadi mama yang kreatif bersama Morinaga Multiple Intelligence PlayPlan?